Lebih Menyakitkan dari Ditinggalkan

Lebih Menyakitkan dari Ditinggalkan Lebih Menyakitkan dari Ditinggalkan

Kiranya racun lebih santun, hanya menjalarkan sakit sesaat tanpa meninggalkan bekas. Siapapun yang pernah ada di fase ini pastilah faham bagaimana rasanya. Ditinggalkan. Tak bahagia juga menderita. Bekas lukanya pun tak bisa hilang dalam hitungan menit. Sungguh menyiksa.

 

Namun, nyatanya ada yang lebih gila dari sekedar ditinggalkan. Raga masih hidup namun hati dibiarkan mati sedari lama. Sakitnya lebih parah menjalar menghebat setiap detik nya. Dan itu disebut PENGABAIAN. DIABAIKAN. SENGAJA TAK DIANGGAP. DITINGGAL TERBIAR. Tersebab manusia ? Terang saja mereka akan datang dan pergi silih berganti. So, nothing to lose when it comes to them. Bukan mereka. Bukan. Namun, ada pengabaian yang maha dahsyat. 

 

Pernahkah terasa,

Walau harta memenuhi ruang, tetap saja hatimu kosong ?

Walau segala nikmat terasa, tetap ada yang hampa ?

Walau segala kesenangan didapat, namun kesepian makin meraja ?

Walau niat ingin kembali padaNya, tetap terasa sulit seakan mendaki langit ?

Walau semua ibadah terlaksana, tetap saja kau susah dekatNya ?

 

Ya, Allah simpan dunia ditanganmu namun kosongkan sosokNya di hatimu. Kehilangan nikmat mengingatNya disaat itulah satu satunya penawar setiap bertubi ujian hidup yang datang. Kehilangan kasih sayangNya disaat itulah satu satunya alasan kita bernafas. Kehilangan cintaNya disaat itulah satu satunya yang kita butuhkan. Memberi kebahagiaan sesaat dan mengambil yang sejati. Dibiarkan melakukan apapun namun tak mendapat satu apapun.

 

Maka, itulah pengabaian yang paling dahsyat menyakitkan. Lebih dari kesakitan terhebat yang pernah singgah. Allah pergi dari hidupmu. Meninggalkan hatimu dengan memberi semua kesenangan dunia. Dan apa hal sebabnya ? Kita yang lebih tahu. Hanya kita. 

S Suryana

Lebih Menyakitkan dari Ditinggalkan

Karya S Suryana Kategori Renungan dipublikasikan 17 Februari 2017
Ringkasan
Setidaknya racun lebih santun dari apa yang berbekas disini.
Dilihat 20 Kali