Ujung Usia Part4

Ujung Usia Part4 Ujung Usia Part4

Ujung Usia

By. Fatihah

Part 4

    Mejanya sejajar denganku. Dekat sekali. Bahkan sepatu kami sesekali pernah saling menyapa. Dulu ketika kami untuk pertama kalinya saling mengenal, Dia sering meminjam penku. Namum semuanya berlalu juga berakir, "Ko! Za lagi, Za lagi. Kalian ini jangan, jangan..." Pak jomblang memulai aksinya, belum juga pidatonya selesai Koko segera mengembalikan penku. Segera diraihnya pen di tangan Dzul. Diapun melanjutkan menulisnya.

    "Wehhhhh, gue nulis pakek apa!" Teriak Dzul. "Pakai punyaku saja Dzul." Saranku. Dzul cengengesan, dengan malu - malu dia mengambilnya. Tapi pen itu segera di tukarnya. "Cieeee pakai pennya Za!!!" Sontak meraka saling jitak - jitakkan. Dan ketidak nyamanan yang ku rasakanpun berakir, tepat ketika Koko menegaskan kalimat itu. Sejak saat itu aku mulai berhati - hati dalam bersikap.

    Koko, khairul adam. Andai kau tahu aku ingin seperti kita yang dulu. Jangankan saling bercengkrama, diskusi, tertawa meminjamimu pen lagi akupun mau. Tapi aku terlalu malu untuk memulainya. Mungkin suatu saat, waktulah yang akan melelehkan nuansa beku ini.

    Suara menggema itu mengaburkan lamunanku. Panggilan ketua kelas. Dian? Komandan kami, bagaimana kabarnya? Dian sangat konsisten dengan ucapannya. Lebih dari 3 pesan dariku tak ada satupun yang balasnya. Sebanyak itukah waktu yang dituangkannya pada wanita spesial itu. Bolehkah aku cemburu? Sebaik apapun seorang sahabat tapi takkan mampu mengalahkan kasih sayang seorang ibu.

    Dzul beranjak, tiba - tiba kakinya terhenti. Dia menoleh ke belakang. " Ayo ikut!?" Ajaknya pada Koko. Koko bermalas - malasan tapi Dzul segera menarik lengannya. Mereka berdua kembali dengan cepat. Tapi ada yang aneh, sesekali keduanya melirikku sendu.

    "Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun..." Aku tak percaya. Diam dan seakan aku tak mendengar. Hanya bayang - bayang Dian yang hinggap di mataku. Senyumnya hilang. Senyum itu kalah sudah dengan terjangan air mata yang selama ini di tahannya. Seakan berat sekali beban hatinya. Dian hanya termangu sesekali sesenggukan. 'Ibu...' Terbatanya kata itu ia ucap.

    Pelukan demi pelukan menguatkanku, iluh ini menetes hangat. Secepat mungkin ku usap. "Aku tidak pa - pa" jelasku lirih. Dan entah bagaimana detik tiap detik berlalu. Yang ku tahu, aku nyaman di tempat ini. Tempat dimana aku dan Dian menghabiskan jam istirahat bersama. Balkon Perpus.

    Sebuah uluran tangan memecah kesendirianku. Koko memberikan surat itu. "Terima kasih. Bagaimana kamu tahu aku ada disini?" "Daun pinus kering yang berjatuhan" Jawabnya dengan senyum tipis yang sedikit mengembang. Di kanan memang ada pohon pinus yang menjulang tinggi hingga menyentuh atap. 

    Dan mata ini teralih ke pohon itu. Koko sejenak menatapku lalu dia segera berbalik membelakangiku. Menatap hamparan hijau, seluruh penjuru sekolah.

    Pohon pinus menjadi saksi diamnya dua insan yang sedang berkecamuk hatinya. Dia belum juga pergi, seakan Koko berkata. "Aku akan pergi jika kamu juga pergi." "Aku pulang dulu, assalamu'alaikum." Segera kulangkahkan kaki ini. Satu persatu anak tangga terlewati. Diapun melakukan hal yang sama. Hanya 1 meter di belakangku. Kami berjalan mengikuti hembus sang angin. Tempat parkir yang hanya berjarak kian meter dari Perpus, seakan kami tempuh tanpa ada ujung.

>Bersambung

 

Alif Fatihah

Ujung Usia Part4

Karya Alif Fatihah Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 17 Februari 2017
Ringkasan
Cinta rahasia dari Sang Maha Cinta
Dilihat 31 Kali