Bukan Kakakku Lagi

Bukan Kakakku Lagi Bukan Kakakku Lagi

Semua bermula ketika kakakku memperlihatkan sisi gelapnya. Namaku Sinta dan aku memiliki seorang kakak perempuan bernama Astrid. Meskipun umur kami terpaut empat tahun, namun wajah kami sangat mirip sampai seluruh sanak saudara mengatakan kami kembar. Kami berdua hanya tinggal dengan ayah karena ibu telah meninggal beberapa bulan yang lalu. Ayah bekerja sebagai buruh sehingga ketika kami masih tertidur lelap di pagi hari yang masih gelap, ayah sudah berangkat kerja.

Pagi itu, aku telah bersiap untuk berangkat ke sekolah bersama Kak Astrid. Hanya saja kali ini terlihat sangat berbeda. Mulai dari penampilannya yang biasanya terlihat santun, namun kini sedikit membuatku merinding karena Kak Astrid menggunakan kosmetik milik Almarhumah ibu kami. Perbedaan itu terus berlangsung ketika aku mengajaknya bicara.

“Kak Astrid berangkat bareng yuk?” Tanyaku pada Kak Astrid.

“Haha.. Maaf ya adikku sayang, mulai sekarang kamu berangkat naik angkutan sendiri ya. Soalnya kakak dijemput teman. Pokoknya dia ganteng, motornya bagus, dan juga kaya.” Jawab Kak Astrid.

Aku hanya terdiam dan mengangguk dengan pasrahnya atas jawaban Kak Astrid. Selang beberapa saat terdengar suara motor yang sangat bising berhenti didepan rumahku. Kemudian dengan segera kakakku keluar rumah dan menghampiri pemuda tinggi yang sedang duduk diatas moge alias motor gede.

“Kakak berangkat dulu ya sayang. Kalo Ayah udah pulang kerja, tolong bilang kalo Kak Astrid pulang terlambat karena ada kerja kelompok.” Ucap Kak Astrid.

Aku pun hanya mengangguk sambil melihat kepergian Kak Astrid bersama pemuda itu dan aku memutuskan untuk berangkat juga namun menggunakan angkutan umum.

Sesampainya di sekolah, aku mendapat berita dari teman-temanku bahwa ketika mereka berangkat sekolah, mereka melihat Kak Astrid sedang berkumpul dengan teman-temannya di sebuah gudang tua dekat sekolah. Teman-temanku mengatakan bahwa mereka melihat Kak Astrid merokok dengan teman-temannya di gudang tersebut.

Mendengar cerita tersebut aku pun menjadi panik dan stress. Aku tidak percaya dengan cerita teman-temanku namun aku ingin membuktikan sendiri rasa penasaranku ini. Bel berakhirnya tanda sekolah hari ini pun terdengar, aku pun bergegas segera menuju gudang tua tersebut.

Sesampainya disana aku pun sangat kaget. Aku melihat Kak Astrid dengan pemuda yang tadi menjemput kakakku bersama dengan teman-temannnya sedang merokok sambil bercanda. Tak hanya itu saja, aku melihat kakak juga menggenggam minuman yang aku yakini sebagai minuman keras.

“Kak.. Kak Astrid??? Kakak ngapain disini? Kakak ngga sekolah? Itu yang dipegang Kakak apa?” Tanya Sinta dengan suara lantang namun terbata-bata.

Astrid kaget dengan kedatangan adikknya, namun justru ia malah membentak adiknya.

“Heh!!! Kamu ngga liat? Kita lagi senang-senang disini! Udah kamu pergi saja sana! Hahaha..!!!” jawab Kak Astrid.

“Kakak kenapa? Aku benci kakak yang seperti ini!! Kemana Kak Astrid yang biasanya? Kakak benar-benar keterlaluan!!! Kak Astrid bukan kakakku lagi!!!” bentak Sinta diiringi isak tangis perlahan.

Kemudian aku pun pergi meninggalkan kakak beserta teman-temannya sambil menangis sejadi-jadinya. Aku terus berlari dan tak peduli dengan apa yang ia lewati hingga ia tidak sadar bahwa telah sampai rumah. Sesampainya dirumah Aku pun langsung mengurung diri di kamar hingga Ayah pulang. Ketika Ayah baru masuk rumah, Aku langsung berlari menuju Ayah dan memeluk Ayah sambil menangis. Ayah terus bertanya mengapa aku menangis namun aku terus saja menangis.

Selang beberapa saat terdengar suara guntur dengan gemuruh yang membuatku dan Ayah kaget. Tiba-tiba handphone  Ayah berbunyi dan ternyata itu dari rumah sakit yang mengabarkan kakakku, Kak Astrid baru saja mengalami kecelakaan motor bersama teman-temannya. Kami pun kaget dengan kabar tersebut dan segera bergegas ke rumah sakit tersebut.

Sesampainya di rumah sakit, aku pun segera menangis melihat beberapa orang yang dibaringkan namun wajah mereka telah ditutupi kain. Aku pun takut apabila salah satu dari orang-orang yang berbaring tersebut adalah kakakku. Namun ayah diberitahukan bahwa Kak Astrid berada di ruang UGD . Sesampainya diruang itu, kulihat Kak Astrid berlumuran darah di sekujur tubuhnya dengan menggunakan bantuan selang pernafasan. Aku pun berlari dan langsung memeluk Kak Astrid sambil menangis.

“Kak Astrid!! Jangan tinggalin Sinta dan Ayah! Aku benar-benar minta maaf karena sudah kasar sama Kakak!” Teriak Sinta sambil menangis sejadi-jadinya.

Astrid pun menolehkan wajahnya tepat didepan adiknya sambil berkata”Kakak yang seharusnya minta maaf adikku sayang. Kakak udah berbuah buruk dan berbohong sama kamu dan Ayah. Kakak juga minta maaf karena tadi sudah mengusir kamu. Kakak sayang sama kamu Sinta” ujar Kak Astrid perlahan sambil memberikan senyuman pada adiknya.

Perlahan-lahan tubuh Astrid mulai kaku dan matanya mulai terpejam dengan perlahan.

Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun” ujar petugas yang berada di ruang UGD.

Aku pun menangis sambil berteriak dan berharap waktu bisa kuulangi lagi.

 

 

-SEKIAN-

Arya Hasa K

Bukan Kakakku Lagi

Karya Arya Hasa K Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 16 Februari 2017
Ringkasan
Cerpen mengenai kehidupan dua saudari
Dilihat 23 Kali