Mencium Tangan (Kepada Suami #1)

Mencium Tangan (Kepada Suami #1) Mencium Tangan (Kepada Suami #1)

 
 
Berpindah ke kota lain dengan pekerjaan baru, pastilah bukan hal mudah untuk seorang pencari nafkah. Apalagi ia adalah seorang suami dengan rencana kehidupan yang selalu ingin lebih baik bersama keluarga kecil yang baru saja dianugerahkan kepadanya. Iya, kehidupan pernikahan yang baru berusia 1,1 tahun dengan banyaknya penyesuaian-penyesuaian kepribadian, idealisme, ego, pemikiran. Bukan untuk disamakan tapi untuk diselaraskan. Ia, jelas sedang adaptasi. 
 
Melihatnya berangkat kerja di pagi hari, kemudian tiba di malam hari dengan kisah kerjaan yang nyaris tidak pernah diceritakan ke istrinya adalah sebuah keluarbiasaan bagi kami para istri, perempuan--makhluk yang selalu ingin bercerita. Saya tidak pernah memintanya untuk sering berbagi pikirannya, tapi alangkah bahagianya apabila beban itu bisa dialiri sedikit ke istrinya. Meskipun hanya sekedar emoticon di WA.
 
Tidak ada hal yang akan langsung berubah, apalagi berubah seperti yang suami atau istri pikirkan masing-masing. Semua tentang proses, tentang waktu, tentang doa melembutkan hati. Bersinggungan pasti terjadi, meskipun nyaris tidak ada suami istri yang menginginkan rumah--hati--tangganya bersinggungan keras. Sedikit melihat ada kebaikan, bersyukur, alhamdulillah.
 
Seperti ketika pagi ini, saat kami nyaris tak bicara seharian lalu, tapi ia bersedia tangannya dicium saat berangkat kerja pagi ini. Ia bersedia meruntuhkan egonya dengan memberikan tangannya untuk dicium oleh istrinya. Ada nikmat yang Allah berikan pagi itu, ada kebaikan yang Allah berikan di tiga detik itu, maka meluncurlah doa-doa dari hati istrinya. Tiga detik bukan waktu yang cukup untuk mengucapkan doa pun tiga detik bukan waktu yang lambat untuk memikirkan kalimat doa yang tepat. Namun tiga detik adalah waktu yang tepat untuk mengucapkan "Allah.. Allah.. Allah.." dalam hati. Dititipkan banyak sirat doa dari nama Pencipta Kami. Dititipkan banyak harapan kepada Ia yang memiliki jiwa kami, yang meridhoi pernikahan kami sejak ikrar akad diucapkan.
 
Istri dan suami pasti pernah salah. Keduanya bisa jadi tidak menyadari letak kesalahannya. Tapi dengan doa pelembut hati, maka kehendak-Nya menentukan kebaikan. Kebaikan menurut-Nya, bukan menurut suami ataupun istri. 
 
Tulisan ini, teruntuk suami yang mungkin belum memahami kondisi perempuan, istrinya, dan teruntuk istri yang seringkali berlebihan merespon karakter laki-laki, suami. 
 
Semoga Allah meridhoi rumah tangga kami juga rumah tangga hamba-hambaNya. Aamiin.
 

ami edelweiss

Mencium Tangan (Kepada Suami #1)

Karya ami edelweiss Kategori Catatan Harian dipublikasikan 16 Februari 2017
Ringkasan
Seperti ketika pagi ini, saat kami nyaris tak bicara seharian lalu, tapi ia bersedia tangannya dicium saat berangkat kerja pagi ini. Ia bersedia meruntuhkan egonya dengan memberikan tangannya untuk dicium oleh istrinya.
Dilihat 14 Kali