Selamatan dan Sebentuk Lupa

Selamatan dan Sebentuk Lupa Selamatan dan Sebentuk Lupa

Definisi “Selamatan” berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan (KBBI Luring) adalah kenduri untuk meminta selamat. Arti dari “Kenduri” adalah perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, minta berkat, dan sebagainya.

Saya tidak bermaksud untuk mengkritisi kegiatan tersebut dalam konteks agama, tapi ini merupakan pandangan saya sebagai orang awam yang sedang mencari pencerahan.

Sejak kecil, saya sering mengikuti acara-acara selamatan di berbagai tempat, setidaknya di tempat kerabat-kerabat dekat, atau rekan kerja orang tua. Tidak ada yang aneh, tak masalah, semuanya baik-baik saja.

Namun akhir-akhir ini saya merasa gelisah karena suatu hal, terjadi di sebuah rumah makan. Waktu itu saya sedang memesan satu porsi makanan, saat menunggu—lewatlah dua anak kecil di depan tempat tersebut. Anak lelaki berbaju kuning yang menuntun anak yang lebih kecil darinya, seorang perempuan, mengenakan baju warna hitam yang terlihat lebih besar dari ukuran badannya. Saya pikir mereka ini bersaudara.

Tiba saatnya makan, tapi mata saya tak bisa lepas dari anak kecil tadi. Si anak laki menarik si anak perempuan untuk pergi, namun anak perempuan sepertinya enggan, tangannya menunjuk etalase kaca—tempat makanan dipamerkan.

Melihat hal itu, saya jadi tak bisa makan, asal tahu saja—saya ini hobinya makan, kalau lapar, bisa sampai tiga kali tambah makanan.

Saya punya tiga keponakan. Tak bisa membayangkan jika mereka berada dalam posisi dua bersaudara yang sekarang ada di depan mata.

Gelisah, akhirnya saya datangi kedua anak itu. “Kalian kenapa?”

Mereka ketakutan, mungkin wajah saya menyeramkan, dan memang ... banyak yang bilang wajah saya ini terlalu serius, wajah seorang berdarah dingin, untuk itu saya ulangi: “Wajah ini bukan saya yang minta! Tuhan yang beri!”

“Ayo cepat pergi! Ada satpam galak!” seru si anak laki. Saya tak menyangka dia memanggil saya dengan kata “Satpam”, belum tahu rasanya dijewer sepertinya.

“Eeeeeh! Enak saja! Saya bukan satpam!”

Mendengar kata-kata saya—mereka tak jadi kabur. “Jadi Om ini siapa?” tanya si anak perempuan.

Lagi-lagi saya tak menyangka,  dia memanggil saya “Om”, saya paling anti dipanggil dengan kata tersebut. Telinga panas!

“Eeeehhh! Memangnya saya terlihat seperti ‘om-om’?”

“Iya!” jawab mereka bersamaan.

JLEEEBBB!

Sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku! Lirik lagu dangdut itu melintas di kepala saya. Tapi biarlah, namanya juga anak-anak. Rencana besok hari sudah pasti: cukur rambut, kumis, dan jenggot di Barbershop.

“Kalian belum makan?” tanya saya.

Kedua anak tersebut menggelengkan kepala. Mereka—saya ajak duduk bersama di meja makan.

“Pesan apa?”

Si anak perempuan menunjuk lagi ke etalase. Saya paham maksudnya, lalu memanggil pelayan. “Bang, ayam bakar pakai nasi, dua porsi ya.”

Si anak laki-laki bernama Hendrick, yang perempuan namanya Helena, keduanya bukan nama asli, sengaja saya samarkan. Dari hasil perbincangan, diketahui mereka ini tinggal di sebuah rumah seorang pemulung, keduanya bersaudara. Hendrick dan Helena tak lagi punya orang tua, sehingga memaksa dua anak kecil itu harus berjuang hidup lebih keras daripada anak seumurannya.

Hendrick dan Helena setiap hari membantu sang pemulung yang sudah berbaik hati menampung mereka. Anehnya, Hendrick bersikeras tak mau memberitahu alamat lengkap di mana ia tinggal.

Kurang dari lima menit, makanan yang dipesan ludes, mereka benar-benar kelaparan. “Sudah kenyang?”

“Sudah, Om,” jawab mereka bersamaan.

“Sekali lagi menyebut kata ‘om’, nanti saya panggilkan satpam! Panggil saja ‘abang’!” seru saya. Hendrick dan Helena mengangguk mantap. Mata bulat kedua anak tersebut benar-benar membuat ingatan melayang pada keponakan di rumah.

Selesai makan, saya menuju kasir.

EEENG IINGG EEENGGG!

Duitnya tak cukup, saya menggaruk kepala yang tak gatal sama sekali.

“Kenapa, Bang?” tanya si kasir.

“Anu ... ini ... itu ...,” jawab saya terbata-bata.

Tiba-tiba bahu saya bagian belakang dicolek seseorang, karena tidak biasa dicolek, maka saya ingin balas mencolek.

Ternyata, seorang perempuan dengan jilbab merah muda sudah berdiri di hadapan saya. Wajahnya berseri, umurnya sekitar tiga puluh lima tahun.

“Mas mau bayar untuk kedua anak itu?”

Saya mengangguk kencang sekali, firasat baik tampaknya. “Iya, Mbak. Ada apa, ya?”

Wanita itu menyodorkan sejumlah uang kepada. “Ini, saya ikut menyumbang, ya.”

Nafas saya menjadi lega ... lega sekali, ada bantuan. Fuuuuuhhhhhh! Selamaaaaat! Lalu wanita berjilbab tersebut pergi, saya tak sempat mengucapkan terima kasih karena terpana.

Saatnya berpisah, Hendrick dan Helena tampak senang, wajar, perut sudah kenyang, saya juga.

“Jadi ... sekarang saya harus pergi, kalian jaga diri baik-baik, ya,” ujar saya.

“Baik, Bang. Terima kasih banyak,” kata Hendrick. Selanjutnya kedua anak itu mencium tangan saya saat bersalaman, lalu mereka hilang dalam keramaian jalan.

***

Kembali lagi tentang “Selamatan”. Coba Anda buka mata saat acara berlangsung, lihat sebelah kanan dan kiri. Perhatikan ... siapa dia? Pakai kendaraan apa? Punya telepon genggam? Pakaiannya mewah?

Tak bisa dipungkiri, orang-orang seperti itulah yang sering kita undang untuk makan enak, sementara anak-anak yatim dan terlantar tidak mendapat jatah meski sebutir beras. Seperti inikah “Selamatan”? Apakah kita benar-benar sudah melupakan tentang “Hendrick dan Helena” lain di luar sana?

Tentu saja hak masing-masing tuan rumah mau memberi makan siapa, tapi alangkah indahnya jika menyertakan anak-anak yang kurang mampu dalam acara tersebut. Berbagi sedikit kesenangan dari kita—berarti kebahagian yang besar buat mereka.

****

Pontianak, 16 Februari 2017

Dicky Armando

 

Sumber foto: Powel Long Wallpapers 

Dicky Armando

Selamatan dan Sebentuk Lupa

Karya Dicky Armando Kategori Renungan dipublikasikan 16 Februari 2017
Ringkasan
Makan? Dengan siapa?
Dilihat 26 Kali