Obsesi Ibu Perihal Menantu

Obsesi Ibu Perihal Menantu Obsesi Ibu Perihal Menantu

Setiap pagi televisi di rumahku tertahan pada salah satu channel yang sering menyiarkan lagu partai di luar masa kampanye. Kami menonton berita. Sebut saja Seputar Indonesia namanya. Setiap melihat pembaca berita bernama Ryanka Putra itu di televisi, ibu hampir selalu heboh. Berulang kali ibuku mengatakan kalau ia pantas menjadi menantu ibu. Artinya, si pembaca berita dalam pandangan ibu, cocok menjadi suamiku. Aku sendiri tidak pernah memperhatikan. Tahu namanya saja karena berniat untuk menjadikan ini sebagai tulisan.

"Cocok apanya sih, Bu?"

"Cocok tuh, mukanya mirip. Sama-sama kecil." 

"Yah, nggak cocok dong. Nanti keturunannya jadi mungil juga." Bantah aku seraya menyiratkan kriteriaku yang sebenarnya.

Andaikan aku menonton televisi sambil memegang hand counter, bisa kuhitung berapa kali ibu mengatakan hal itu. Pok deui, pok deui.

Akhirnya aku hanya bisa ketawa-ketiwi mendengar ocehan ibu perihal obsesinya yang ingin memiliki menantu seorang pembaca berita.

Ibuku memang suka lawak, tapi terkadang lawakannya itu justru membuatku berpikir. Kriteria menantu untuk ibu... Apakah ini hanya sebuah candaan, sarkasme, atau peringatan level 1? 

Jangankan memberi ibu menantu, menyudahi diri sendiri saja belum cukup.

Annisa Dwinda

Obsesi Ibu Perihal Menantu

Karya Annisa Dwinda Kategori Catatan Harian dipublikasikan 16 Februari 2017
Ringkasan
Harus aku anggap apa obsesi ibu yang tak realistis itu? Candaan, sarkasme, atau peringatan level 1?
Dilihat 8 Kali