AHY dan Mimpi yang Pupus

AHY dan Mimpi yang Pupus AHY dan Mimpi yang Pupus

Foto demokrat.co.id


Hajatan pilkada DKI Jakarta kemarin (15/02/2017), menyisakan jejak untuk dua paslon yaitu Ahok-Djarot dan Anies-Sandi melenggang ke putaran kedua pilkada DKI Jakarta. Sekaligus, menghentikan jejak AHY-Sylvi untuk meraih mimpi memimpin Jakarta.

Beberapa jam setelah hasil suara hitung cepat dirilis oleh berbagai lembaga survei, sikap AHY secara kesatria dan lapang dada menerima kekalahannya dalam kompetisi pilgub DKI Jakarta adalah sikapnya yang elegan dan beradab dalam tradisi politik Indonesia.

Bagi AHY, tentu dengan ikut mencalonkan diri atau dicalonkan dengan paksa dan tampaknya tergesa-gesa dalam pilkada ini adalah langkah maju dan keberhasilan walaupun belum berhasil klimaks dan happy-ending.

Perjuangan tanpa pengorbanan adalah sia-sia. Pengalaman adalah guru yang baik. Begitu pepatah mengatakan. Dan lewat keikutsertaannya sebagai cagub DKI Jakarta ini, AHY sudah berjuang dengan maksimal dan mengorbankan segalanya, terutama meninggalkan kariernya di dunia militer, dan memutuskan dengan tekad yang bulat mengawali sejarah dan berkiprah di dunia politik.

Sungguh itu adalah pengorbanan yang luar biasa. Seorang AHY yang masih muda, cerdas, punya potensi dan masih panjang kariernya untuk menjadi pemimpin masa depan di militer dipaksa terhenti di tengah jalan. Ia dipaksa berjuang untuk menjadi cagub, sebuah pengalaman awal dan berharga menjadi politisi.

Keberhasilan yang belum berpihak kepada AHY adalah takdir. Resiko hidup dan pilhan takdir. Belajar dari pengalaman dan mengambil hikmahnya dari apa yang sudah dilakukannya menjadi hal yang positif bagi perjalanan politik AHY selanjutnya.

Pengalamannya blusukan dan menyapa langsung warga DKI Jakarta selama kampanye, pemberitaannya di media massa, penampilannya di debat cagub, diserang oleh rival politiknya, paling tidak, itu semua adalah pengalaman berharga dan membuat AHY mulai dikenal publik, tidak saja di ibukota Jakarta, tapi Indonesia secara luas.

Perjalanan politik AHY ke depan masih panjang. Hari-hari yang akan dijalaninya adalah hari-hari untuk merenungkan dan mengevaluasi, bukan berkabung, terpuruk dan menyesali apa yang telah terjadi.

Terlebih lagi menyalahkan dan menuduh pihak lain atau orang lain sebagai faktor yang menyebabkan elektabilitas AHY menurun pada menit-menit terakhir sebelum pencoblosan dan takdir kekalahannya di pilkada, curhat di medsos mengumbar kegalauan dan kesedihannya ke halayak ramai adalah sikap yang kurang terpuji, walaupun sah-sah saja.

Jangankan dalam dunia politik, dalam hidup pun, apa pun bisa terjadi. Menang dan kalah, berhasil dan gagal adalah hal yang biasa. Wajar-wajar saja. Tidak perlu dirisaukan dan diratapi. Anggap saja itu adalah sunnatullah.

Ini saatnya untuk merenungkan dan mengevaluasi apa yang telah berlalu sebagai pelajaran sejarah untuk melangkah lebih baik, menyongsong masa depan dengan tekad dari keputusannya yang sudah bulat di dunia politik ini dengan terus menyerap pelajaran dari senior dan mentor politiknya, terutama SBY dan Partai Demokratnya itu.

Karena bisa jadi, ke depan tampaknya AHY adalah sosok pilihan dan pewaris dinasti (bukan Ibas, adiknya) yang digadang-gadang menggantikan ayahnya, SBY menjadi ketua umum Partai Demokrat, salah satu partai politik yang besar saat ini.

Pilkada DKI Jakarta adalah langkah awal bagi AHY untuk fokus dan konsentrasi lagi mengumpulkan bekal, teoritis dan praksis, dalam meretas mimpi-mimpi di perhelatan politik nasional selanjutnya.

Menerima kekalahannya secara kesatria dan lapang dada dalam pilkada DKI ini adalah langkah jitu, sikap yang terpuji dan beradab dalam membentuk citra diri, respons positif publik dan kesan baik seorang pigur politik masa depan.

Inna al-maru' hadisun ba'dahu fakun hadisan hasan liman wa'a, sesungguhnya orang itu akan meninggalkan kesan setelah berlalu, maka jadilah pigur yang dapat memberikan kesan baik dan memesona bagi publik yang menyaksikannya, adalah kata hikmah yang perlu direnungkan oleh AHY saat ini.

Selamat datang Agus Harimukti Yudoyono (AHY) di kancah politik nasional. Lupakan mimpi yang pupus di kompetisi pilgub DKI Jakarta yang notebene sebagai cita rasa pilpres itu. Anggap saja itu semua adalah pelajaran moral untuk melangkahkan kaki ke jenjang politik nasional berikutnya.

#Setelahpilkadapanas ini, adalah sikap yang sangat arif dan legowo AHY, sambil mendinginkan suasana batin, mengendorkan urat saraf dan menurunkan ketegangannya, dengan memberi kebebasan dan kesempatan warga pendukungnya di putaran kedua ini untuk menentukan pilihannya sesuai hati nurani mereka pada cagub yang akan melayani warga DKI Jakarta dalam lima tahun ke depan.

Muis Sunarya

AHY dan Mimpi yang Pupus

Karya Muis Sunarya Kategori Politik dipublikasikan 16 Februari 2017
Ringkasan
#Setelahpilkadapanas itu, sikap AHY secara kesatria dan lapang dada menerima kekalahannya dalam kompetisi pilgub DKI Jakarta adalah sikapnya yang elegan dan beradab dalam tradisi politik Indonesia.
Dilihat 25 Kali