Book Review : Novel "O" oleh Eka Kurniawan

Book Review : Novel Book Review : Novel

Sesungguhnya, saya tidak tahu persis apa yang harus saya harapkan dari buku ini saat membaca sepenggal sinopsis di bagian belakangnya,

“Kisah seekor monyet yang jatuh cinta pada kaisar dangdut.”

Kenyataannya, Novel “O” karya Eka Kurniawan menyuguhkan sebuah kolase yang terdiri dari potret- potret satir kehidupan manusia dari berbagai lapisan sosial di belantara Jakarta.

Yang menarik, tidak semua potret ini diambil dari lensa mata manusia. Beberapa tokoh sentral di buku ini justru adalah monyet, burung kakak tua, dan anjing kampung kudisan. Saya sendiri tidak ingat pernah membaca novel dengan target pembaca dewasa yang menawarkan pembawaan narasi oleh tokoh hewan. Untuk itu, saya ingin memuji Eka Kurniawan dengan pendekatan fiksinya yang sangat tidak biasa.

Kisah dimulai oleh sekelompok monyet di sebuah hutan kota Rawa Kalong yang terletak di pinggiran Jakarta, yang percaya bahwa jika mereka sungguh menginginkan dan berusaha keras, mereka bisa berubah jadi manusia. Kepercayaan ini berasal dari legenda kuno monyet Armo Gundul yang diceritakan turun temurun, dari generasi ke generasi, oleh para tetua monyet. Konon, Armon Gundul berhasil berubah jadi manusia setelah berguru pada seorang ulama sakti, dan membunuh seorang dukun jahat yang telah menghancurkan sebuah desa.

O adalah seekor monyet betina muda yang tengah berusaha menjadi manusia. Ia melakukannya demi bisa bersama kembali dengan kekasihnya, Entang Kosasih, yang ia percaya telah lebih dulu menjadi manusia. Lebih tepatnya, menjelma menjadi seorang musisi bergelar Kaisar Dangdut. Untuk dapat menyelesaikan misi ini, O rela mengabdi pada seorang pawang topeng monyet miskin. Meskipun menderita, para monyet percaya bahwa bergabung dengan sirkus topeng monyet akan memberi mereka pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia, dengan meniru perilaku mereka.

Perjalanan O dengan sirkus topeng monyetnya mengantarkannya bertemu dengan sepasang pemulung tua, anjing kampung kecil bernama Kirik, seorang waria baik hati yang minta dipanggil Mimi Jamilah, seorang ibu muda cantik dan kaya dengan hidup yang tampak sempurna, seekor burung kakak tua yang mampu melafalkan ayat- ayat suci dan selalu mengingatkan semua orang untuk sholat dan banyak tokoh lain yang membawa kisah mereka sendiri.

Kirik si anjing kecil, misalnya, ia datang membawa perspektif tentang betapa menderitanya hidup sebagai anjing di tengah masyarakat yang memiliki motivasi bertolak belakang terkait anjing. Satu pihak sangat menyukai anjing sehingga membiakkan banyak dari mereka untuk kemudian disantap, sedangkan pihak lainnya menganggap anjing begitu najis dan menjijikan sehingga ingin membantai mereka.

Eka Kurniawan dengan ahli menyelipkan isu- isu sosial yang marak berkembang di masyarakat kedalam kepingan kisah tiap tokoh yang terlibat di hidup O. Kita akan tergelitik menemukan satir tentang pergaulan bebas, kampanye politik daerah, fanatisme beragama, kekerasan dalam rumah tangga, korupsi, bisnis ganja sampai perselingkuhan. Semuanya menjadi bumbu perjuangan romantis O bertemu kembali dengan cinta sejatinya.

Nah, ini juga menarik. Eka Kurniawan berhasil menemukan cara menghadirkan romantisme ke dalam novelnya, tanpa perlu melibatkan tokoh utama pria dan wanita berpenampilan menarik, dengan latar belakang jalanan indah kota Paris dan backsound lagu Ed Sheeran.

Retorika cinta dalam Novel “O” digambarkan oleh Eka Kurniawan lewat sepasang tikus yang memandangi matahari terbenam dari atas tumpukan sampah di sebuah TPA, monyet betina kumal yang memandangi poster Kaisar Dangdut yang ditempelkan di gerobak tua dengan penuh kerinduan, anjing kecil kudisan mencari ibunya yang hilang, sampai hubungan sejenis yang rumit antara seorang waria pengamen dengan seorang gembel yang gemar menipu.

Salah satu kekuatan terbesar novel ini adalah kepiawaian Eka Kurniawan membangun latar belakang pemikiran dan emosi tiap tokohnya. Kita akan dengan mudah mengerti bahwa untuk setiap reaksi yang dipilih seseorang saat menghadapi masalah di hidupnya, tak lepas dari pengalaman masa lalu, motivasi personal, dan nilai- nilai yang dianutnya.

Setelah banyak penggalan kisah, menurut saya pesan besar yang coba diselipkan penulisnya adalah bahwa manusia dan hewan sesungguhnya memiliki banyak kesamaan perilaku, dan bahwa manusia baru pantas disebut manusia jika secara sadar berlaku demikian. Jika dalam situasi terdesak manusia masih mengeluarkan naluri kehewanannya, maka ia tidak berbeda dari binatang- binatang yang disebutkan disini.

Meskipun, ada sifat manusia yang konon tidak tertandingi oleh naluri kehewanan manapun, yaitu kegemaran kita pada kekuasaan, dan bagaimana kepemilikan kekuasaan dapat dengan mudah mengubah seseorang.

Saya harus memperingatkan, Novel “O” karya Eka Kurniawan ini bukanlah feel good stories yang cocok dibaca sore hari sambil ngopi cantik di coffee shop, setidaknya bagi saya. Cerita- cerita ini akan mendorong kita pada batas- batas ketidak nyamanan, saat menghadapi situasi- situasi tidak ideal yang mungkin saja sungguhan terjadi di luar sana. Tapi, jika kita suka mengeksplorasi sudut- sudut pandang berbeda yang dihasilkan oleh fenomena yang kadang kontroversial, novel ini akan jadi menarik.

Sejujurnya, saya ragu Novel “O” ini akan bisa jadi sekomersil novel- novel Indonesia yang ramai dibahas belakangan ini, seperti “Sabtu bersama Bapak” karya Adhitya Mulya, atau seri “Milea & Dilan” karya Pidi Baiq. Tapi, saya merasa novel ini menambahkan referensi yang kaya untuk portfolio fiksi Indonesia.

 

 

Mutia Rini

Book Review : Novel "O" oleh Eka Kurniawan

Karya Mutia Rini Kategori Buku dipublikasikan 16 Februari 2017
Ringkasan
Karya lain dari nominator "The Man Booker International Prize" yang juga patut diperhitungkan.
Dilihat 42 Kali