Mimpi Anak Petani

Mimpi Anak Petani Mimpi Anak Petani

        Pagi sebelum mentari terbit kubuka mata yang sayup-sayup tertutup rapat. Panggilan untuk sujud mulai terdengar ditelinga, akupun menegakkan kaki menuju tempat pensucian tubuh. Sekedar membasuh wajah, tanga, kepala dan kaki, sebagai prasyarat ibadah apapun.

Seringkali aku kandas dalam keindahan dunia mimpi, kali ini aku sadar bahwa dunia mimpi hanya khayalan tak berarti. Mungkin sudah lama aku larut dalam sisi lain kenyataan dunia. Selama ini aku hanya menetap dalam kardus kecil yang usang terbengkalai. Aku telah melupakan masa jahiliyah. Aku tak mau menjadi jahiliyah lagi untuk yang kedua kali.

          Pernah aku bermimpi, esok akan menjadi hari-hari indahku dalam bertani. Yah, memang benar aku anak seorang petani. Hampir setiap hari Ayah berangkat keladang seorang diri. Aku mendengar telapak kaki Ayah yang melewati kamarku menuju kamar mandi ketika hari masih dini. Lalu Ayah meletakkan keningnya untuk sekedar mensyukuri karunia Tuhan yang telah diterima. Lantas Ayah mengangkat tangannya sambil berdoa memohon keselamatan bagi kami sekeluarga.

         Ayahku memang seorang petani. Ia kayuh kuda besinya menuju ladang yang ia gadang-gadang mampu menambah penghasilan. Ayah selalu meminta kepada Tuhan agar panennya tidak lagi gagal. Kala 6 bulan telah berlalu, ketika itu, jumlah hujan bisa dihitung dalam sebulan. Keputusan Ayah memang tepat, yah menanam diatas lahan padi. Ketika hujan beramai-ramai datang, lahan padi akan menampung mereka, bagai tamu yang disambut tuan rumah. Namun ayah terlanjur menancapkan biji jagung diatas lahan padi. Jagung mulai tumbuh,selanjutnya setelah dua bulan berlalu, naas nasib jagng yang Ayah tanam. Hujan mulai melanda lahan sawah yang tertanami jagung. Sayang memang, jagung yang sudah berukuran 2x1 meter itu kandas. Tanaman yang seharusnya hidup dilahan yang kering, terkubur dibawah tingginya debit air.

         Ayahku menyesal, mengapa kemarin tidak ditanami padi saja, jagung-jagung yang anggun tak akan mati. Akupun juga menyesali, tapi bukan karena pohon jagung yang kandas, karena Ayah berkali-kali mengajakku untuk kelahan. Kadang mengajakku untuk membantu atau sekedar memikul hasil panen yang berat. Jarak sawah yang jauh dari jalan yang bagus membuatku mengeluh. Nyatanya pantas untuk dikeluhkan, karena jalan sawah menuju motor pengangkut rusak tak bisa ditapak oleh telapak kaki. Becek, mblecok, jeblok, atau apalah istilahnya. Pernah aku mencerca Ayah " Makanya Ayah, kemarin tak usah ditanami! Jadinya begini kan yah". Keluhku sambil bibir mecucu.

         Aku tidak pernah menyangka ketika itu aku pernah berkata seperti itu kepada Ayah. Dan jawaban Ayah membuat tubuh dan jantungku bergetar. " Manusia hanya mampu berusaha, selanjutnya biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya." Jleb, seketika aku diam seribu bahasa. Aku merenung lama,mengingat kata-kata Ayah yang merasuk kedalam relung hati.  

Rosyid Mu'afa

Mimpi Anak Petani

Karya Rosyid Mu'afa Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 16 Februari 2017
Ringkasan
Pernah aku bermimpi, esok akan menjadi hari-hari indahku dalam bertani. Yah, memang benar aku anak seorang petani. Hampir setiap hari Ayah berangkat keladang seorang diri. Aku mendengar telapak kaki Ayah yang melewati kamarku menuju kamar mandi ketika hari masih dini.
Dilihat 35 Kali