Maling Sialan

Maling Sialan Maling Sialan

“Maling….maling…maling!” Seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah kampus Negeri di suatu kota besar di negeri ini berteriak sembari menahan rasa kesal, geram dan dendamnya yang berkecamuk bercampur menjadi satu.

“Maling apa?” Seseorang berkerudung biru gelap sambil mengucek-kucek matanya dari kantuk bertanya menuntaskan kepenasarannya.

Satu persatu orang-orang yang mendengar teriakan “maling” itu bergegas mendekati sumber suara. Ada yang datang dengan tangan kosong. Ada pula yang terbirit-birit menghampiri sambil menenteng galon tanpa isi.

Mungkin kalau si maling itu tertangkap ia akan memukulinya sampai babak belur menyalurkan kekesalan kepada maling yang menjadi musabab tidurnya terganggu akibat teriakan “maling” dari seseorang yang telah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Bahkan ada pula satpam penjaga kos-kosan yang saking sigapnya menangani kasus pencurian itu, ia lupa memakai celana dinasnya. Kini ia hanya berdiri, nafasnya terengah-engah membuat dadanya naik turun persis seperti harga bahan bakar di pasaran.

Sontak orang-orang yang sudah berada lebih dulu di tempat kejadian mengekeh setelah melihat ke arah bawah, ke arah sekitar paha satpam malang itu. Si satpam beberapa saat menyadari kalau ia hanya memakai kolor ijo pemberian dari isterinya di ulang tahunnya yang ke-40. Apes betul satpam itu.

Mendengar ada yang kemalingan, para pemuda karang taruna yang tengah main kartu sambil sesekali meneguk segelas kopi hitam panas untuk membikin melek pun mendatangi asal suara setelah sebelumnya membunyikan kentongan tanda ada bahaya.

Lengkap sudah semua lapisan masyarakat di kompleks berkumpul di depan kamar korban untuk mengetahui dengan jelas apakah benda berharga yang digondol maling sialan itu. Mahasiswi yang minggu depan akan melangsungkan sidang skripsi itu memang dari tadi emoh menjawab ketika ada yang mendesak menginterogasi perihal apa yang hilang.

Pokoknya teriakan histeris dari perempuan malang yang rambutnya terurai panjang dan berkacamata frame tebal berwarna senada dengan piyamanya itu membuat geger warga di sekitar kosannya.

“Tenang…tenang…tenang….bapak-bapak dan ibu-ibu!” pak RT mencoba menetralisir keadaan.

“Apa yang diambil Neng?”

Mahasiswi berparas ayu dengan tinggi semampai itu tetap bungkam. Mulutnya seperti ditempeli lakban berwarna hitam yang berarti ia akan sulit berkata-kata. Tanda tanya kemudian menguap dari kepala setiap warga yang datang untuk mengetahui kronologis kejadiannya seperti apa. Hingga akhirnya ia memberanikan diri menjawab setelah dijejali terus dengan pertanyaan serupa, yaitu “apa yang maling itu bawa?”

“Dia mengambil hati saya pak!” sambil mendekatkan tangan kanannya ke arah dada. Isyarat kalau hatinya telah tiada dibawa seseorang yang sangat tega dan tak punya belas kasihan.

Hadirin saling berpandang mata. Kerut di dahinya terlihat begitu kentara.

Seakan ada satu komando yang memberi aba-aba dan mereka kompak berseru, “hu…hu….hu….!”

Mereka berpaling dan lantas pulang.

“Mungkin dia sudah sinting,” celetuk salah satu warga. Yang lainnya pun tak mau ketinggalan menimpali.

Ada yang mengintip dari balik tiang listrik di dekat gerbang rumah kos-kosan. Ya tidak salah lagi, dia adalah lelaki itu. Maling yang telah merenggut seluruh perasaan seorang perempuan. Degup jantungnya tak beraturan. Ia takut ketahuan.  

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 12-14 Februari 2017

sumber gambar: Surya Malang

Muhammad Irfan Ilmy

Maling Sialan

Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 16 Februari 2017
Ringkasan
Ada yang mengintip dari balik tiang listrik di dekat gerbang rumah kos-kosan. Ya tidak salah lagi, dia adalah lelaki itu. Maling yang telah merenggut seluruh perasaan seorang perempuan. Degup jantungnya tak beraturan. Ia takut ketahuan.
Dilihat 7 Kali