Surat Untuk Kekasih (2)

Surat Untuk Kekasih (2) Surat Untuk Kekasih (2)

Untuk Kamu

 

Aku dihinggapi rasa bingung harus mulai dari mana. Tapi, dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, aku selalu menulis apa adanya dan ujung-ujungnya berakhir dengan ketidakpercayaan bahwa itu betul-betul tulisanku. Tulisan yang membuatku takjub karena ia berdiri dengan kokohnya dan aku telah berperan sebagai arsitek sekaligus tukang yang menjadikannya ada. Tulisan yang enak untuk dibaca dan menghibur, minimalnya buat penulisnya sendiri, aku.  

Barangkali aku akan menulis seperti itu saja. Bertemankan pikiran, pengalaman, persekongkolan jemari dengan perasaan di hati dan yang terakhir pergumulan rindu yang kutahan sejak masih unyu-unyu. Pada akhirnya, jika perasaanku sudah tumpah, tidak mungkin semuanya, lantas mewujud dalam surat, akan kukirimkan surat itu padamu.

Semoga kamu menyukainya. Kalau kamu tidak suka, aku akan kembali menulis surat-surat selanjutnya. Juga, semoga kamu tidak bosan untuk menerima. Tak peduli akan kamu balas surat itu atau hanya berakhir di tempat yang tak beralamat. Yang berarti tidak sampai apalagi sempat kamu baca hingga tamat. Hal terpenting adalah aku sudah menuntaskan apa-apa yang kurasa dalam bentuk jalinan kata-kata penuh isyarat cinta.

Apakah kamu sudah baca suratku yang pertama, sayang? Surat itu ditulis di hari ke-10 bulan Ramadhan tahun lalu. Awalnya, aku memutuskan untuk menuliskan hal-hal yang bermanfaat saja, seperti hikmah-hikmah ibadah di bulan suci dan keistimewaan bulan itu.

Namun, pada beberapa tulisan, termasuk pada postingan di hari ke-10 itu aku berhasil menjadi tawanan bagi rasa rinduku padamu. Aku tak ubahnya pesakitan yang diringkus oleh borgol yang kubuat sendiri. Membuktikan kalau aku bukan manusia yang serba bisa melakukan apa-apa. Aku tak memiliki daya apapun tanpa limpahan inayah-Nya.

Aku gagal mewujudkan apa yang kurencanakan untuk kulakukan. Aku sedikit bertekad menghindari menuliskan perkara sendu semisal cinta. Tapi, berakhir dengan tidak berhasil. Aku memang tipe perencana yang cukup baik, namun tidak diikuti kemampuan mengeksekusi yang apik. Sepertinya ini tidak berlaku buat kamu. Untunglah, kita nanti jadi bisa saling melengkapi. Kamu melengkapi kekuranganku. Aku menutupi ketidaksempurnaan yang ada di dirimu. Kita akan bahu-membahu menyusun fragmen cerita kita menuju sempurna.

Aku malah menulis surat itu untukmu. Isinya ungkapan-ungkapan harapan tentang masa depan kita. Satu-dua isinya terkadang kekonyolanku tentang pengandaian-pengandaian perjumpaan kita yang sebenarnya lebih layak dinamakan khayalan. Do’a-do’a juga untungnya terselip di sana. Bukan cuma bualan saja. Aku cukup lega.

Aku menuliskan surat ini mendekati tengah malam. Sejak mondok sekitar 9 tahun lalu, aku jadi terbiasa tidur larut. Kalau dahulu disebabkan banyak orang-orang yang masih tersadar dan diinginkan atau tidak, aku suka tergoda untuk bergabung. Kalau sekarang, aku acap begadang karena seringnya hati ini meradang.

Rasa rinduku padamu seolah-olah jadi candu. Aku terkadang tidak tahu harus berbuat apa. Sebagai pelariannya, aku lebih sering menulis ketika teman-teman satu kontrakanku sudah terlelap. Adakalanya ditemani juga dengan alunan lagu bernada lirih tapi bukan perih. Keheningan membuatku terbantu untuk mengalihbahasakan rindu jadi sesuatu: tulisan tentang kamu.

Aku sesekali ingin menyapa, tapi bingung lewat apa. Aku ingin bertanya tentang kabarmu, namun caranya tidak pernah tahu. Aku ingin mengirimimu puisi, juga tak pernah jadi. Siapa yang akan kukirimi? Sementara, berjumpa saja belum walau cuma sekali.

Lama-lama aku jadi orang gila. Tapi biarlah aku gila karenamu. Asalkan kamu sabar merawatku dalam ketergilaan itu. Lagipula, kalau aku tidak gila, bagaimana mungkin aku dapat melupakan semua yang kurang pada dirimu dan rela hidup dalam jangka waktu yang sangat lama tanpa mencari-cari alasan untuk meninggalkanmu?

Aku ingin bertanya satu hal padamu. Aku ingin tahu bagaimana ekspresimu ketika didera rasa rindu padaku. Mungkinkah kamu sepertiku, suka menuliskan kegundahan semacam itu sebagai ikhtiar mengurangi beban perasaan? Atau justru tidak, dan lebih memilih aktivitas lain seperti menyalurkan energi yang meluap-luap lewat sesuatu yang bermanfaat?

Sudah, tidak usah kau jawab sekarang. Aku bisa menanyakannya lagi nanti ketika kita sudah bersama. Biarkan aku menebak-nebak saja dulu. Aku akan menyiapkannya dari sekarang untuk memberi kejutan buatmu. Walau tak tahu apakah kamu akan suka, atau malah tidak. Kalau tidak, aku akan mengusahakan lagi apa yang kamu suka dan kamu mau kok.

Seperti puisi Sapardi, aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku tidak bisa. Cintaku padamu teramat besar untuk kemudian kusederhanakan. Aku sadar bahwa cintaku padamu tak boleh melampaui cintaku pada penciptamu juga pada kekasih-Nya.

Tenang, cintaku padamu tak akan melebihi cintaku pada sang Pencipta Cinta. Aku tahu betul itu. Cintaku ini didasarkan atas cinta karena-Nya. Ia yang Maha Menjadikan semua makhluk berpasang-pasangan, termasuk aku dan kamu. Mana mungkin aku tak tahu diri atas kemurahan-Nya ini.

Kata Fahd, cinta itu karunia, sementara mencintai adalah hal lainnya. Ia membutuhkan peran dominan dari kita selaku manusia. Dan aku memilih untuk mencintaimu karena tak ada pilihan lain selainmu. Sejak pertama kita bertemu, akar keyakinan sudah terhujam dengan kokoh. Mana mungkin aku akan berpaling lagi.  

Dari Aku

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 8-10 Februari 2017

 

Surat sebelumnya bica dibaca di sini.

Sumber gambar: hallowen andromeda

Muhammad Irfan Ilmy

Surat Untuk Kekasih (2)

Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian dipublikasikan 16 Februari 2017
Ringkasan
Aku sesekali ingin menyapa, tapi bingung lewat apa. Aku ingin bertanya tentang kabarmu, namun caranya tidak pernah tahu. Aku ingin mengirimimu puisi, juga tak pernah jadi. Siapa yang akan kukirimi? Sementara, berjumpa saja belum walau cuma sekali.
Dilihat 37 Kali