Jodoh memang tak Tertukar, Tapi Kenapa Tuhan Mengirimiku Gadis yang Bermantan?

Jodoh memang tak Tertukar, Tapi Kenapa Tuhan Mengirimiku Gadis yang Bermantan? Jodoh memang tak Tertukar, Tapi Kenapa Tuhan Mengirimiku Gadis yang Bermantan?

Saat menghadiri acara Festival Melupakan Mantan di Yogyakarta, pada saat itu pikiranku ikut terbayang orang-orang yang berjuang dengan hebat untuk melupakan sosok mantan.

Seperti motivasi yang tertulis di dinding pintu masuk halaman digelarnya acara tersebut : Lupain Mantan, Banyakin Teman.

Tak bisa dianggap remeh sih. Jika mantan adalah sosok ingatan paling melankolis di kemudian hari yang sesekali bisa menyudahi hubungan sepasang manusia. Bahkan, berlaku bagi yang sudah diikat secara sah di depan penghulu.

Pernyataan itu tidak harus diterima dan diamini dengan bulat-bulat sih ...

Sebab, beberapa orang (yang sebelumnya terjebak kenangan akan mantan)  masih bisa menerima kehadiran pasangan barunya dengan semangat saling pengertian dan menjaga perasaan masing-masing.

Tentu saja. Kita tak akan menolak jika upaya melupakan mantan bukanlah perkara mudah, bukan?

Jika tak percaya. Mari kita lihat melalui pemikiran Edward de Bono, tentang kerja pikiran.

Fahd Pahdepie di dalam bukunya, Yang Galau, Yang Meracau" menulis tentang De Bono dengan tuturan seperti ini :

"Jika kita hendak "melupakan ataupun meniadakan" sesuatu di pikiran kita. Sebenarnya, saat hendak meniadakannya. Pada saat itu, diakui maupun tidak sesuai itu sudah ada dipikiran."

Saat kita hendak melupakan sosok mantan. Kenyataannya, tiba-tiba di benak kita, kenangan mantan yang diolah dari genangan peristiwa maupun hangatnya kebersamaan serta sisa benda-benda peninggalan.

Dengan sendirinya berhamburan hadir menyeruak menghampiri hari-hari kita. Kenangan itu tak seratus persen tercerabut di dalam ingatan.

Dalam keadaan seperti itulah, aku bisa menilai meskipun ini tak harus dijadikan saran yang harus diambil bulat-bulat bahwa semangat menjaga diri untuk tidak berpacaran dan memilih dengan cara menunggu datangnya pinangan seseorang.

Itu tindakan paling baik yang harus dijadikan kesadaran dari awal dalam kontek hubungan muda-mudi saat ini.

Ini berlaku untuk para gadis maupun lelaki, bila memiliki kemampuan belajar menjadi penyabar saat ada kehendak untuk menjalani hubungan dengan lawan jenis dalam bentuk pacaran.

Dengan pernyataan seperti itu, aku tak bermaksud untuk mendukung pihak manapun jika dikaitkan pada perdebatan antara pro dan kontra soal pacaran.

Sebab, pacaran pun juga urusan paling manusiawi yang susah dilepaskan dari kehidupan sehari-hari.

Maksudku begini. Silakan dicerna !

Manusia, apapun daerah, jenis kelamin, silsilah keluarga. Pasti susah dilepaskan dari dimensi nafsu menyukai lawan jenis dan harta kekayaan. Dua bagian inilah yang menjadikan manusia cenderung pada tindakan, menyukai seseorang dalam ikatan yang rentan ditentang, yaitu pacaran.

Tindakan menyalurkan hasrat berpacaran dan menunda bersenang hingga dipertemukan dengan pasangan. Bukan perkara mudah.

Sebab, setiap saat kita selalu dipertemukan dengan ruang-ruang kreatif yang pada akhirnya menjebak kita untuk mencoba menikmati indahnya berpacaran.

Tapi, ketika hubungan kandas dan menyisakan status sebagai mantan. Masalahnya ada di sana.

Untuk itulah, aku terhenyak sejenak jika mendengarkan entah dari buku bacaan maupun dari teman-teman dekat dengan pernyataan jika jodoh tak akan tertukar.

Jika jodoh pasti tidak akan tertukar. Dia akan datang kepada kita suatu hari nanti. Jadi tenanglah. Begitulah bisikan orang-orang. Sayang, menemukan jodoh tak sesederhana itu, kan?

Masalahnya lagi, bagaimana jika jodoh itu datang kepada kita dengan seabrek kenangan lama perihal hubungannya dengan mantan? 

Kita seperti dipertemukan dengan seseorang. Yang sebelumnya, dilumat-lumat kebersamaan dan dihadiahi kenangan-kenangan berhari-hari bersama mantan.

Beruntunglah. Jika kita tak memiliki peristiwa demi peristiwa seperti apa yang kutuliskan diatas.

Setidaknya, jalan di masa mendatang hanya diisi kenangan bersama pasangan yang datang melamar dan mengikat dengan halal.

Terakhir, maafkan judul tulisan ini terlalu panjang. Tapi, aku membuatnya dengan harapan jika kamu tak membaca utuh tulisan ini.

Setidaknya, kamu bisa membawa pertanyaan di kepala dengan judul tersebut. 

Fendi Chovi, 2017

Baca acara Festival Melupakan Mantan di sini .. Klik! 

 

Fendi Chovi

Jodoh memang tak Tertukar, Tapi Kenapa Tuhan Mengirimiku Gadis yang Bermantan?

Karya Fendi Chovi Kategori Renungan dipublikasikan 14 Februari 2017
Ringkasan
Jodoh memang tak tertukar. Namun, apakah diri ini siap jika kelak tuhan mengirimkan pada diri kita, sosok pasangan yang sebelumnya diikat kisah romantisme akan mantan.
Dilihat 40 Kali