Belajar ketenangan dari laki-laki

Belajar ketenangan dari laki-laki Belajar ketenangan dari laki-laki

Semua siswa-siswi keluar meninggalkan kelas usai bel berbunyi. Tentunya, juga meninggalkan lembar soal dan jawaban yang kemudian akan diambil oleh dua pengawas yang juga kami tinggalkan di dalam kelas.

Hingar bingar...

Matahari belum sampai pada zenitnya, tapi sinarnya sudah cukup membuat kita panas. Beberapa anak membeli es, beberapa yang lain ada yang hanya menikmati udara dengan melamun atau dengan bercengkrama.

Tema klasik ketika ujian, banyak yang mengadukan sesal kepada teman, ada juga yang senang membahas soal dan jawabannya, yang masih mencari-cari jawaban yang benar juga ada. Saya pribadi, lebih suka melupakannya dan memilih diam membaca buku untuk pelajaran ujian selanjutnya.

Wajar, kalau semua geger. Ini bukan ujian akhir semester. Memang ini UAS (ujian akhir sekolah) atau sebut saja UN.

Tapi, ada gaya yang lebih saya suka ketimbang diam membaca buku pelajaran selanjutnya.

Ya, ini adalah apa yang tampak dari kebanyakan siswa laki-laki.

Ketika hampir seluruh raut wajah siswi putri tampak prihatin, justru malah sebaliknya, hampir semua siswa laki-laki tetap melihatkan keceriaan dengan berbagai tingkah yang merdeka. Ada yang bercanda dengan tawa yang terbahak-bahak, ada yang malah membicarakan perempuan, ada juga yang malah tidur, mmm juga ada yang ke warung untuk meng-qodo sarapan.

Saya suka gaya kebanyakan laki-laki ini. Tetap tampak tenang meski sedang menghadapi keadaan genting. Tetap ceria meski ia sedang dihadapkan pada langkah yang menentukan L (lulus) atau BL (Belum Lulus).

"Nang ngapa yah cah lanang koh sante banget. Padahal dewek pada belajar. Isa-isane ya cah lanang malah pada playon, kaya cah cilik." Ungkap saya dengan logat kedaerahan saya, Ngapak.

Sejak saya belum mengerti kehidupan orang dewasa, maksudnya sejak saya belum dewasa, saya memang selalu terkagum-kagum dengan cara laki-laki yang selalu bersikap tampak tenang dan santai. Mereka, laki-laki, pandai menyimpan kegelisahan, pandai menyembunyikan ketakutan, pandai menyembunyikan bahwa sebenarnya mereka sedang berfikir, tapi tetap santai. Cara mereka yang demikian, menurut pandangan saya, hal itu sangat efektif untuk menyebarkan energi positif kepada sekelilingnya. Pantas saja mereka tampak selalu bahagia, mereka tidak sempat galau, sebab udara mereka begitu sejuk dengan energi positif dari sekitarnya.

Seperti halnya sekarang, saya detik ini juga kembali pada rasa iri itu. Rasa iri kepada laki-laki yang selalu dapat tenang dan santai.

Mereka bisa menghadapi dan melewati ujian penghujung semester perkuliahan dengan begitu enjoy.

Mungkin memang seperti itulah qodratnya laki-laki. Karena laki-laki adalah Leader.

Semoga, meski perempuan hanya akan menjadi makmum, perempuan juga bisa memiliki pembawaan yang demikian luwes, kewes dan santai...

Nihayatul Minani

Belajar ketenangan dari laki-laki

Karya Nihayatul Minani Kategori Catatan Harian dipublikasikan 14 Februari 2017
Ringkasan
Langkah kita boleh saja sejenak terhenti, hati kita boleh saja sejenak berduka. Tapi jangan BaPer dalam perlaku. Jangan jadikan suasana hati merubah raut wajah sumringah jadi susah, jangan biarkan suasana hati menghapus senyum tulus. Tetaplah ceria, senyum biar hati tetap tegar.
Dilihat 175 Kali

  • Samaratul Qalbi
    Samaratul Qalbi
    11 hari yang lalu.
    Hem.. saya juga kadang iri sama laki-laki.. Mgkin karena cewek terlalu sering pake perasaan ya.. sdgkn cowok lbh sring pake logika.. hihihi pantes aku suka baper

    • Lihat 1 Respon

  • Nahla Jingga
    Nahla Jingga
    13 hari yang lalu.
    Haya' follow Nahla dong.. Nahla Jingga