Kau

Kau Kau

Dedaunan yang jatuh, gugur bersama wangi rambutmu yang terus kuhirup. Menyegarkan rongga paru, melambungkan jiwaku ke angkasa baru. Adakah yang lebih indah dari matamu. Sejuk bagai angin sore. Lalu damai meresap. Jiwaku melayang bersama senyum punyamu. Entah beli di mana dan berapa harga. Terimakasih aku diberi gratis. Suara yang kau hantarkan sedang dadaku bergelombang degup. Kasih, lain kali akan kuganti. Tak perlu, katamu. Lalu kau beri senyum lagi. Gratis. Diiringi kunang-kunang malam dan udara yang dingin. Tetapi tidak lagi sebab saling beri pelukan. Kehangatan macam apa. Beradu degup jantung. Degupmu kalah cepat. Aku menang. Kecupan itu hadiahnya. Malam yang bagus bersama sebuah obrolan. Coba aku pikir untuk agar kau beri aku tawa. Lalu pecah bersama gigi putihmu yang nyaris dapat kunikmati semua. Bersama irama tawa yang itu. Malam yang punya kita. Genggam, mari. Kuhantarkan pesan-pesan asmara melalui tangan kiri. Kau terima dengan baik tanpa perlu tanda-tangan konfirmasi layak tiki. Kukirim lagi tanpa ongkos kirim dan bungkusan rapi. Lalu tercipta rasa nyaman yang cukup. Juga damai yang membimbingku mengurai hitam rambut punyamu. Kau hadiahi aku wangi. Yang kuhirup dalam-dalam dari rambut tebalmu yang hitam. Merasuki padang-padang asmaraku yang sejuk. Membimbingku untuk menghantarkan pesan kasih sayang; "Biarkan aku mencintamu. Lagi. Dan lagi.

Ali Rabbani

Kau

Karya Ali Rabbani Kategori Lainnya dipublikasikan 11 Februari 2017
Ringkasan
Dedaunan yang jatuh, gugur bersama wangi rambutmu yang terus kuhirup. Menyegarkan rongga paru, melambungkan jiwaku ke angkasa bintang. Adakah yang lebih indah dari matamu. Sejuk bagai angin sore. Lalu damai meresap...
Dilihat 35 Kali