Pertemuan-pertemuan tak disengaja

Pertemuan-pertemuan tak disengaja Pertemuan-pertemuan tak disengaja

Di teras hujan aku pernah berdiri menunggu reda. Tiba-tiba kamu datang, berdiri di sampingku. Aku jadi teramat dekat dengan tubuhmu. Terpisahkan sejengkal udara.

Berdampingan denganmu membuat sekujur tubuhku hingar. Ada denting yang jatuh di jantungku. Menjalar ke nadi-nadi. Gemuruh di dada kencang memburu. Hadir suatu rasa yang tak ku sangka-sangka. Ku coba menata napas, merapikannya. Jangan sampai berantakan. Agar tak merusak momen seribu satu itu.

Bisa berdampingan bersamamu menunggu reda adalah keberuntungan. Tak pernah aku merencanakannya. Tapi aku pernah membayangkannya. Namun bagaimana aku harus memanfaatkan keberuntungan ini? Ah, lagi-lagi aku merasa buruk. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku takut. Aku tak bisa.

Yang ku bisa hanya menerawang jauh. Memasuki fantasi-fantasi indah. Menghayati setiap bulir yang jatuh menyentuh daun-daun dan tangkai. Suara-suara riuh hujan tak sampai di telingaku. Berisik atap seng di atasku pun jadi tak terdengar. Hanya ada suaraku yang mengumpat kesal. Membujuk supaya menyapa duluan, tak perlu menunggu. Tapi suara hati lainnya menikam. Tak pantas cewek menyapa duluan. Aku bingung. Aku urung. Hujan sore itu pun berlalu menyisakan pilu di hatiku.

Aku jadi mengutuk fantasiku saat itu. Aku selalu saja mendahulukan fantasi, terkhusus fantasi buruk. Menjadikanku urung melakukan sesuatu yang sebenarnya ingin ku lakukan. Tapi di sisi lain aku bahagia karena fantasi. Mampu membuatku bergembira seketika setelah membayangkan yang indah-indah.

Berapa kali sehari kita berfantasi? Membayangkan kenikmatan yang lebih yang bisa kita gapai suatu saat nanti? Membayangkan bisa seperti mereka yang lebih beruntung, lebih sukses, lebih berpunya, lebih kaya dan lebih-lebih yang lain? Atau membayangkan punya kekasih yang romatis, pengertian, setia dan selalu mengindahi hari-hari kita?

Kita memang selalu berfantasi; mengharap yang lebih baik dan yang lebih-lebih lagi. Kata mereka kita diminta bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Namun nyatanya semua terasa selalu serba kurang, serba cacat; tidak seperti yang orang lain miliki. Ya, kita memang senantiasa merasa kurang. Soal perasaan pun  selalu berubah-ubah dan selalu tak sesuai dengan yang kita ingini.

Sesuatu hal yang membahagiakan, setelah kita rasakan akan berubah menjadi hal yang biasa, hambar, tak berasa. Berhasil menggapai sesuatu rasanya juga tak jauh berbeda dengan ketika kita berfantasi seolah-olah berhasil menggapainya. Jadi, mari berfantasi. Setidaknya biar merasakan keberhasilan yang difantasikan. Tidak menggapainya pun tak terlampau masalah.

Sesuatu yang belum bisa kamu gapai tidak wajib untuk kamu gapai. Yang wajib adalah melaksanakan amanah; tugas yang sudah kita sanggupi, memenuhi janji dan kewajiban yang lain. Meski menjalani itu semua tidak membahagiakan. Setidaknya kita masih memiliki waktu senggang untuk berfantasi untuk mendapatkan kebahagiaan.

Setelah pertemuan beku itu, aku jadi merindukanmu. Ingin mengulangi rasa aneh berada di dekatmu. Ah, rindu memang tak tahu malu. Menginginkan bertemu tapi teramat malu. Ingin berpura-pura tak sengaja bertemu, tapi kalaupun benar bertemu pun ujung-ujungnya malu. Entahlah. Rindu memang muncul tanpa rasa malu. Datang menyelonong di sela-sela penat, gusar, sedih dan gundah.

Aku yakin di balik laku tiap pribadi pasti ada kisah asmara yang mengharu-biru. Di balik ekspresi dinginmu, pasti ada kehangatan. Di balik kekakuanmu, pasti ada keromantisan yang tak kalah melumerkan perasaan. Di balik cuekmu, pasti ada perhatian yang lebih. Di balik wajah tegasmu, pasti ada kelembutan yang menenangkan. Di balik gaya modismu, pasti ada kepolosan dan kejujuran yang bikin kangen. Begitulah kita dengan kekuatan cinta. Tampilnya seolah seperti orang lain, tapi kekuatan cinta menjadikan sebagai diri sendiri.

Aku yakin harapanku dipertemukan kamu kembali pasti akan terkabul. Meski entah kapan lagi. Karena yang diharap-harapkan itu pasti akan datang. Meskipun nantinya datang dengan wujud yang berbeda. Menjadi yang kita harap-harapkan itu saja sudah merupakan hadiah yang diturunkan langit untuk kita; dari yang tidak ada  menjadi mewujud sebentuk harapan. Harapan adalah anugerah yang diturunkan khusus buat yang meminta.

Seperti kata demi kata yang dituangkan pada kertas putih, membentuk kalimat dan alenea bermakna, seperti itu pulalah keputusan demi keputusan yang kita buat, untuk kemudian menjalaninya, sehingga merangkai jalan hidup. Keputusan diambil melalui pertimbangan. Setelah diputuskan keputusan menjadi sebuah nasib milik kita. Menyesali keputusan buruk tidak mengubah jalan hidup. Karena sekalinya diputuskan, maka langsung menentukan lintasan jalan hidup.

Aku memutuskan untuk tidak mengada-adakan kisah kita. Biarlah semesta yang mengaturnya dengan pertemuan-pertemuan tak disengaja.

 

Aha Anwar

Pertemuan-pertemuan tak disengaja

Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian dipublikasikan 11 Februari 2017
Ringkasan
Di teras hujan aku pernah berdiri menunggu reda. Tiba-tiba kamu datang, berdiri di sampingku. Aku jadi teramat dekat dengan tubuhmu. Terpisahkan sejengkal udara.
Dilihat 35 Kali