Untuk seorang Ukhti yang sedang Menunggu

Untuk seorang Ukhti yang sedang Menunggu Untuk seorang Ukhti yang sedang Menunggu


Aku yang dicumbui rasa rindu
Aku yang berjam-jam melawan kesendirian
Aku yang terjebak pemandangan kemesraan orang-orang, yang dua puluh empat jam
Membajiri kepalaku dengan postingan-postingan aduhai

Saat itulah tiba-tiba aku berpikir, bagaimana cara mengikatmu yang tak terjangkau?
Aku terdiam berjam-jam. Di mataku tiba-tiba butiran air mata seperti sepotong pesan. Jika cinta harus diawali dengan air mata pengharapan. Jika cinta harus diawali dengan pertarungan terhebat.
Bukan untuk mengalahkan siapa-siapa.
Tapi untuk mengalahkan diri yang tak berdaya
Lalu diajak berduel untuk mati-matian
Membangunkan semangat yang ada
Tersebab cinta adalah soal membangun diri
Yang darinya sepotong puisi yang sesejuk
Para petani bertemu embun pagi di kala ke sawah
Merawat tanaman dan menumbuhkannya

O, aku punya cara yang tak sekadar menunggu
Aku punya aliran darah yang siap mendoakanmu
Aku punya hasrat yang berdentuman seperti meriam
Yang suatu waktu bisa memenangkan nyali
Untuk sekadar menikmati sensasi senyummu

Tersebab kamu adalah Ukhti yang menunggu
Aku pun menjelma menjadi waktu untuk memperlambat
Seberapa bersabarnya dirimu
menungguku yang berjuang di tanah rantau?

Yogyakarta, 10 Februari 2017

Fendi Chovi

Untuk seorang Ukhti yang sedang Menunggu

Karya Fendi Chovi Kategori Puisi dipublikasikan 10 Februari 2017
Ringkasan
Untuk Ukhti yang sedang Menunggu, yang darinya airmata menjadi pertanda permulaan perjuangan.
Dilihat 15 Kali