Tentang Sore yang Menyebabkanku tak bisa Tersenyum lagi pada Malam

Tentang Sore yang Menyebabkanku tak bisa Tersenyum lagi pada Malam Tentang Sore yang Menyebabkanku tak bisa Tersenyum lagi pada Malam

Kamu tahu tidak? Kenapa hujan turun di pagi hari?

Aku tak butuh jawabanmu. Aku hanya ingin kamu bisa berpikir setiap pagi. Di pagi yang tiba-tiba terlihat saat mataku terbuka setelah semalam susah ngantuk.

Tiba-tiba aku melihat hujan duduk manis di jendela kamarku. Aku tak mampu mengusirnya, hujan datang dengan bala tentaranya. Aku hanya tersenyum menatap tubuhnya yang bening.

Sambil duduk-duduk menanti hujan selesai, tiba-tiba aku serasa menikmati lipatan waktu, aku tak bisa membayangkan saja jika tiba-tiba aku berada di beranda sore hari meninggalkan pagi dengan sangat cepat.

O, ternyata sudah tiba waktunya untuk menjemput malam, bisikku penuh ketidakpercayaan.

Seharian, aku duduk di kamar. Menikmati roti, menikmati aneka ingatan magis melankolis.

Kau pasti tak percaya ada ingatan tentang itu?

Magis melankolis adalah saat kamu berharap meninggalkan suasana yang kamu hadapi saat ini. Lalu berharap bertemu suasana berikutnya, yang kamu sendiri tidak begitu yakin itu suasana yang baik. Hanya saja, dibenakmu. Itulah yang terbaik!

Aku juga tak percaya awalnya. Tapi setelah aku berdiam berhari-hari di kamar. Aku jadi percaya ada ingatan magis melankolis.

Sambil memikirkan magis melankolis, aku menikmati ingatan-ingatan lain, ya ingatan tentang orang yang bisa menjadikan dirinya magnet, ia hanya diam, lalu membuat orang lain tertarik padanya, banyak orang-orang memujinya, menge-like, menviralkan segala hal mengenai rutinitasnya, menjadikan dirinya panutan-panutan dalam bersikap.

O, sungguh terlihat magis!

Tiba-tiba juga aku berpikir tentang masa lalu orang itu. Dulu dia mungkin menangis saat tak ada yang menolongnya saat memiliki cita-cita terhebat menurutnya.

Tak ada yang mengusap airmatanya, tak ada yang menjemput saat diperjalanan kelelahan. Tak ada yang menolong saat butuh bantuan yang mendesak segala kebutuhannya.

O, manusia memang begitu. Susah menolong. Jika yang seharusnya ditolong sudah sukses. Baru mereka buru-buru tak percaya. Apalagi, jika ternyata orang itu disukai banyak orang akhirnya.

Kamu tahu tidak, jika saat ini tak ada orang yang lagi disukai?

Bukan karena hujan turun seharian di luar dan menyebabkan mereka susah ke tempat kerja.

Tapi karena manusia memang tak layak disukai. Mereka suka berantem meski sudah berteman bertahun-tahun.

Kenapa bisa begitu?

O, tak lain karena mereka teracik menjadi manusia berkubu-kubu, menjadi manusia yang suka menonjolkan kelompok-kelompoknya, bukan dirinya, bukan sosoknya yang humanis, yang ramah pada semesta.

Mereka manusia-manusia yang tak layak dicintai meski sebagai manusia layak diperhatikan. Ya, takut-takut saja mereka memimpikan serasa duduk di surga saat kaki masih di muka bumi.

Lalu, apakah orang itu masuk surga?

Duh, ini pertanyaan apa?

Aku ngga tahu pasti. Hanya saja orang bertengkar tetap masuk surga. Soalnya mereka mengklaim bertengkar atas nama tuhan.

Surga macam apakah bagi mereka?

O, surga ingatan saja.

Iya, mereka mengingat jika ada surga di ingatan dan imajinasi mereka. Selebihnya, api neraka dipadamkan karena mereka tidak akan mempan di bakar di sana.

Mereka lebih ganas dari api neraka.

Mereka bertahun-tahun menyulut api kemarahan, api peperangan, api pertarungan, lalu sisanya menyaksikan kembang api kemenangan.

O, aku tidak suka membicarakan itu.

Lagian, penjelasanku tentang magis melankolis belum terjawab tuntas kan, kan?

Singkatnya, magis melankolis adalah saat kamu memimpikan malam hari. Padahal, kamu masih di beranda sore hari. Magisnya malam hari, kenapa sih kok kamu ingin cepat-cepat hendak menikmati malam hari.

O, jangan-jangan kamu ada kenangan dengannya.

Setelah malam tiba, kamu tak benar-benar bahagia. Malam tak semelankolis yang kuharapkan, tapi ya entahlah, kamu tiba-tiba terjebak untuk mendatanginya lebih awal.

Sungguh aku mengingat magis melankolis hanya untuk bersenang-senang.

Yogyakarta, 10 Februari 2017

Fendi Chovi

Tentang Sore yang Menyebabkanku tak bisa Tersenyum lagi pada Malam

Karya Fendi Chovi Kategori Renungan dipublikasikan 10 Februari 2017
Ringkasan
Saat masih di beranda sore, aku mengharapkan segera malam hari. Entah, kenapa?
Dilihat 14 Kali