Honorer, Tenagamu Berharga

Honorer, Tenagamu Berharga Honorer, Tenagamu Berharga

Beberapa teman mengabdi sebagai guru dengan status honorer. Ketika mendengar cerita-cerita mereka, maka menurut sudut pandang saya: menggenaskan. Bayaran yang tak sesuai, perlakuan yang kurang menyenangkan oleh oknum karyawan lainnya, dan lain sebagainya. Hal-hal ini menguak “luka lama” ketika saya masih berada dalam posisi yang hampir mirip.

Tahun 2011 sampai 2013, saya pernah bekerja sebagai tenaga honorer di instansi “P”, Pontianak.

Banyak teman—saat itu menyangka—saya mengerjakan sesuatu yang bergengsi, mungkin karena nama besar dari instansi “P” itu sendiri. Kenyataannya, sedikit orang yang tahu tentang detail deskripsi pekerjaan saya.

Singkat cerita, pekerjaan saya masa itu adalah mengetik surat-surat, menyapu lantai, mengepel lantai, membersihkan kakus kantor, dan membeli makan siang karyawan lain yang “kasta”-nya lebih tinggi.

Sampai tulisan ini dibuat, bahkan orang tua saya tidak mengetahuinya apa yang dikerjakan anaknya kala itu. Hahahahaha!

Tapi saya tak pernah malu mengerjakan pekerjaan tersebut, karena sejak kecil sudah terlatih mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Arrow Khunzi dan Anthony Eagle—keduanya nama samaran—yang tahu betul bahwa setiap jam 07.15 WIB, saya sudah tiba di kantor dan langsung melepas sepatu kerja, menggulung celana panjang, kemudian masuk ke kakus untuk membersihkannya.

Arrow Khunzi adalah teman kerja satu ruangan, ia seorang supir. Orangnya baik hati dan setia kawan. Kalau dia melewati sebuah lampu, maka kening Arrow akan memantulkan cahaya. Lelaki beranak dua itu sangat mahir bersilat lidah, saya tak sanggup jika harus berdebat berlama-lama dengannya, yang benar bisa jadi salah, salah bisa jadi benar. Saya berharap suatu hari, Arrow bisa menjadi seorang politisi handal.

Sementara Anthony adalah seorang pemuda berhidung mancung, tubuhnya lebih tinggi dari Arrow. Dia lulusan sekolah yang berfokus pada bidang teknik mesin dan elektronika. Anthony bukan teman satu ruangan kantor, tapi saya, Arrow, dan dirinya sering nongkrong bersama. Pria berkulit sawo matang ini punya deskripsi pekerjaan yang tak jauh beda dengan saya, bahkan mungkin lebih berat. Saya tak bisa membayangkan, setiap jam makan siang—ia harus membelikan makanan untuk lebih dari 7 orang, yang mana menu-nya berbeda-beda. Saya pernah menghitung, perjalanan Anthony dari pergi sampai pulang lagi ke kantor—kurang lebih 45 menit. Menu makanan beda-beda, tempat beda-beda, lama mengantri beda-beda. Setelah itu ada saja karyawan yang minta tolong ini-itu, kalau tubuh Anthony itu buatan manusia, pasti sudah hancur. Haaaaaaaaa! Memikirkannya saja sudah membuat lelah, apalagi melakukannya!

Dalam pikiran saya: “Apa tidak kasihan? Kenapa tega?”

Kejadian seperti ini membuat saya berpikir, meskipun menurut sebagian kalangan bahwa “kasta” kami tergolong rendahan dibanding “karyawan permanen”, tapi fungsinya tak bisa diremehkan: “Kami tidak malas melakukan hal-hal yang ‘karyawan permanen’ malas melakukannya.”

Saya dan kawan-kawan tahu diri, kami bisa dipecat, makanya rajin. Sesederhana itu. Miris? Yaaaa ... lumayan.

Ada satu kejadian menarik, waktu itu sekitar pukul 07.30 WIB, tiba-tiba pintu ruangan diketuk keras sekali, saya sedang berada dalam kakus, membersihkannya supaya tidak bau.

“Dicky! Dicky! Tolong aku!” Bang Josua (nama samaran), seorang penjaga keamanan kantor (satpam) masuk tergopoh-gopoh.

Saya terkejut bukan main, jangan-jangan ada maling atau keributan dengan jumlah orang yang banyak. “Ada apa, Bang?”

“Itu ... itu ... di depan ...,” ujar Bang Josua, nafasnya tersengal-sengal, “ada bule!”

“Bule?” tanya saya, lagi.

‘I ... i ... iya! Aku tak mengerti dia bicara apa. Tolonglaaaah!”

Saya menarik nafas panjang, lega, ternyata bukan keributan. “Turis sesat mungkin, Bang. Hubungi taksi saja, apa susahnya?”

Bang Josua berdiri tegak, tubuhnya yang besar menutupi pintu, ia lalu meraih bahu saya. “Dik ... tolonglaaah!”

“Mana orangnya, Bang?”

“Depan pintu, cepatlah!”

Tanpa berkata-kata lagi, saya menuju ke pintu masuk kantor, di sana berdiri seseorang—tubuhnya jangkung, berkacamata, memakai jas warna coklat pudar, di sampingnya ada sebuah koper besar warna hitam.

Menurut Bang Josua, orang tersebut bule, tapi matanya sipit, rambutnya hitam. Dalam pikiran saya—bule itu matanya biru, rambutnya pirang. Saya mendapatkan petunjuk, ada lambang bendera negara Korea berukuran kecil di dekat saku jas-nya.

“Bule” itu sepertinya bingung melihat saya, tentu saja, saya baru selesai membersihkan kakus, masih memakai sandal jepit, dan celana panjang tergulung sampai lutut. Pasti penampilan saya lebih mirip orang yang rumahnya kebanjiran, entahlah ... mungkin di Korea tak pernah ada yang namanya “kebanjiran”.

Anyoong haseoooo,” ujar saya sambil membungkukkan badan. Kalau tak salah artis Korea—Song Hye Kyo—selalu membungkuk kalau bilang “anyong haseo”.

Bule tersebut juga menunduk, celakanya, setelah itu ia berbicara dalam bahasa Korea, dan “anyong haseo” adalah satu-satunya yang saya tahu.

“Do ... do you speak Indonesian language?” tanya saya, agak gugup.

“No, i do not, but i can speak english. Could you?” Bule itu memandangi saya, seperti mengharapkan jawaban secepatnya.

“Yes, i could,” jawab saya, “my name is Dicky Armando, and ... what’s your name?”

Dia menyebutkan sebuah nama dalam bahasa Korea, saya lupa, selanjutnya kita sebut saja namanya adalah Cheung Geum.

“May i help you?” tanya saya.

“I am looking for Mrs. Erica Suzzane. Can i?”

“I will find her, wait a moment, please. Have a sit, Sir.” Saya menggeser sebuah kursi untuknya. Mister Cheung Geum pun duduk.

Saat itu saya berusaha memanggil “karyawan permanen” yang melewati pintu masuk—agar bisa memberikan pelayanan informasi kepada tamu dari luar negeri tersebut.

Bu Erica Suzzane (nama samaran) adalah seorang “karyawan permanen” yang punya posisi cukup tinggi, saya pikir—harusnya Mister Cheung Geum tidak ditangani oleh seorang pekerja honorer yang tak punya harkat, martabat, dan kemampuan seperti saya ini.

Berkali-kali saya coba memanggil beberapa “karyawan permanen” yang lewat, tapi mereka berpura-pura tidak tahu, tidak mendengar, dan terkesan menghindar. Whaaattttttt? Saya ini tugasnya mengetik surat dan membersihkan kakus, bukan melayani tamu dari luar negeri!

Akhirnya, masih dengan menggunakan sandal jepit—saya memberanikan diri datang ke ruangan Bu Erica. Sementara Bang Josua masih mengendap-endap di balik dinding.

Beruntung, Bu Erica sedang berada di tempat, dari pintu kaca sudah terlihat sosoknya.

TOK TOK TOK!

“Masuk,” kata Bu Erica.

Gaya beliau seperti biasa, rambut ikal mengembang, dan kacamata warna emas selalu menghiasi wajahnya.

“Permisi, Bu.”

“Oh ... Dicky. Ada apa?” tanya Bu Erica, ramah.

“Ada tamu dari Korea, dia cari Ibu.”

“Oaalaaahh! Sudah saya tunggu, suruh dia masuk, Dik!”

Saya segera kembali ke hadapan Mister Cheung Geum, dan membawanya ke ruangan Bu Erica. Kopernya yang hitam besar—saya bantu membawanya—dengan menggunakan gaya kuli pelabuhan: diletakkan di bahu. Mister Cheung Geum terlihat heran.

Sampai di tujuan, saya mengenalkan Mister Cheung Geum. “Mrs. Erica, this is Mr. Cheung Geum.”

Bule Korea tersebut bersalaman dengan Bu Erica. Saya menaruh koper tepat di samping tempat duduknya.

“I have to go,” ujar saya, sambil membungkukkan badan, “if you need something, do not hesitate to call me.”

Mister Cheung Geum juga membungkuk, kemudian tersenyum. Saya kembali—ke dalam sebuah kakus yang kecil dan bau.

***

TOK TOK TOK TOK TOK!

Saya membuka pintu ruangan, di baliknya muncul Mister Cheung Geum.

"Mr. Armando, i must go now, my plane is waiting.”

“Oh ... really? I hope we can meet again, someday,” kata saya.

“Yes, i hope so. Thank you Mr. Armando!” Mister Cheung Geum Membungkukkan badannya.

“You are welcome.” Saya balas membungkuk. Mister Cheung Geum segera naik ke taksi yang telah menunggu dari tadi.

Sampai hari ini, saya tak pernah bertemu lagi dengannya, tapi ada satu hal yang paling berkesan dalam kejadian itu: Mister Cheung Geum adalah orang yang pertama dan terakhir—mengucapkan “terima kasih” kepada saya di dalam bangunan kantor tersebut. Sampai saya memutuskan berhenti dari kantor itu, Mister Cheung Geum masih tetap satu-satunya orang yang mengucapkan terima kasih kepada saya.

Saya berharap, teman-teman saya yang masih meniti karir sebagai pekerja honorer—mendapatkan kekuatan dan kesabaran dari Tuhan YME, semoga doa-doa kita semua dikabulkan oleh-Nya.

Teman-teman di sana adalah orang yang kuat, saya-lah yang tidak kuat, itu sebabnya saya mengundurkan diri pada masa itu. Doa sukses untuk kalian semua. Honorer! Tenagamu berharga!

***

Pontianak, 10 Februari 2017

Dicky Armando

 

Sumber foto: cz.pinterest.com

Dicky Armando

Honorer, Tenagamu Berharga

Karya Dicky Armando Kategori Renungan dipublikasikan 10 Februari 2017
Ringkasan
Kalian adalah Superman!
Dilihat 33 Kali