SEKOLAH DAN KEBODOHAN

SEKOLAH DAN KEBODOHAN SEKOLAH DAN KEBODOHAN

Tujuan fundamental pendidikan ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ujung tombak menciptakan manusia kompeten dan menjadikan sebuah bangsa yang besar. Tak hanya itu, seolah menjadi prasyarat mutlak social masyarakat, sebagian bahkan memposisikan kehormatan ternilai dari jenjang pendidikan. Melegitimasi pandangan kaum konservatif dengan sejumlah teori yang belum terbantahkan. Gelar strata tertinggi, dialah yang merajai peradaban dan golongan terbawah baginya hanya ucapan selamat tinggal.

Entitas pendidikan adalah sekolah. Sebuah ruang ilmiah untuk mendidik anak, mengajarkan pengetahuan, menghapus kebodohan dengan membuat orang bodoh menjadi pintar.  “Siapa yang tidak ingin pintar, semua orang pasti mendambankannya”, itulah isi dongeng lama yang selalu dikumandangkan pendidik tanpa melihat batas jangkauanya. Alhasil, tidak sedikit dari kita terjebak pada keingingan semu. Berlomba mengejar prestasi terbaik di tengah kebodohan masing-masing, mengikuti nafsu yang tak berujung.

Sadar atau tidak, kita sebenarnya terjerumus pada persoalan sama. Kita yang sejatinya menginginkan kecerdasan melalui sekolah karena saat ini kita bodoh, namun sekolah hanya memilih siswa yang benar-benar cerdas sejak awal. Coba lihat sekolah-sekolah kita, kebanyakan dari mereka tentu mengadakan seleksi masuk sekolah berupa test. Sajian awal yang harus dihadapi untuk menentukan apakah kita bodoh atau pintar. Siswa dengan nilai test terbaik, pastinya mendapatkan jatah duduk di sekolah. Sedangkan mereka nilai terendah tidak berhak dijejali pengetahuan layaknya siswa nilai teratas dan diharuskan mencari sekolah lain khusus orang-orang bodoh, seolah itu adalah pilihan mutlak. Artinya, sekolah tidak mencari orang bodoh untuk dibuat pintar.

Sangat ironis, sekolah akan terasa rumit bagi orang-orang bodoh sejak awal. Sekolah bukan lagi referensi tempat menghapus kebodohan. Sekolah hanya memilih orang pintar sejak awal untuk dididik. Berharap fungsi paralel berlaku, namun justru pendidikan membatasi itu. Sekolah belum menunjukkan totalitas mendidik, tapi menyeleksi anak dengan dua kualifikasi berbeda, bodoh dan pintar. Ibarat hutan rimba, sekolah merupakan ajang seleksi alam, menjadi momok menakutkan, dan menghantui anak bahkan sebelum ia resmi masuk sekolah.

Hasil seleksi orang-orang pintar tersemat sekolah unggulan dan mereka sekolah khusus orang-orang bodoh malah sebaliknya. Antara gengsi dan kewajiban pun dipertaruhkan, pemenuhan prestisuis sekolah mencerdaskan anak bangsa. Sekolah unggulan memiliki gengsi selangit, favorit anak kebanyakan. Mereka menjadi teratas karena sejak awal memang mendidik orang-orang pintar. Berbanding terbalik dengan sekolah khusus orang bodoh dengan sejuta anomali, hidup segan mati tak mau. Berbekal sumber daya seadanya, namun harus menghadapi banyak anak yang kebodohannya berusaha dihilangkan. Tugas utama mereka benar mendidik, menemukan kepantasan intelektual bagi anak-anak.

Ketimpangan ini, lantas siapa yang perlu dipersalahkan. Jawabannya hanya kita yang tahu. Kadang kita terlalu asik menertawakan kebodohan karena posisi kita sedang terlalu cerdas. Mengabaikan hal substansial dibalik proporsi yang terjadi. Hakikat sekolah bukan membuat peringkat namun membuat kompetensi. Bukan mencari pintar atau bodoh,namun mencari anak wajib didik. Tiada pengecualian dalam pendidikan, sebab semua anak tidak bisa dikecualikan. Esensi dasar sekolah ialah menghapus kebodohan.

fahri Ardiansyah

SEKOLAH DAN KEBODOHAN

Karya fahri Ardiansyah Kategori Renungan dipublikasikan 10 Februari 2017
Ringkasan
Hakikat sekolah bukan membuat peringkat namun membuat kompetensi. Bukan mencari pintar atau bodoh,namun mencari anak wajib didik. Tiada pengecualian dalam pendidikan, sebab semua anak tidak bisa dikecualikan. Esensi dasar sekolah ialah menghapus kebodohan.
Dilihat 10 Kali