Merelakanmu pergi tak semudah melepas balon ke udara

Merelakanmu pergi tak semudah melepas balon ke udara Merelakanmu pergi tak semudah melepas balon ke udara

Merelakanmu pergi tak semudah melepas balon ke udara. Mudah dan cepat saja. Namun bagiku akan sulit dan butuh waktu lama. Karena kamu telah lama melekat di hatiku. Membuat bahagiaku bergantung padamu. Tanpa hatimu perasaanku tak akan pernah lengkap. Tak akan pernah lagi bisa menjalani hidup dengan bahagia yang sempurna seperti sedia kala. Akan ada bagian yang hilang menyisakan hampa.

 

Kamu terlalu tega melakukan semuanya padaku. Apa salahku? Bukankah aku selalu melakukan hal-hal baik untukmu. Tak pernah sekalipun aku melukaimu. Tapi kenapa kamu tega melukaiku sebanyak ini. Jika kamu tidak menemukan bahagia dengan perlakuanku yang dulu, bukankah kamu bisa menyampaikannya padaku. Aku bisa saja berubah, jika kamu mau. Tapi kalau kamu diam saja, bagaimana aku akan tahu itu?

 

Aku memang bukan pria sempurna yang bisa mengerti pikiran wanita. Namun aku selalu berusaha mengerti kamu dan belajar memahamimu. Aku selalu mencari cara untuk lebih membahagiakanmu. Ku pikir selama ini hubungan kita baik-baik saja. Ternyata tidak. Selama ini kamu pasti sudah menghianati hatimu dengan berpura-pura bahagia. Itulah sebabnya aku mengira kita baik-baik saja; kamu bahagia dengan segala perlakuan penuh cintaku padamu.

 

Apakah semua pria tak punya kecerdasan untuk mengerti wanita? Atau cuma aku saja? Ku pikir dengan bertanya padamu, lalu kamu mengutarakan perasaanmu, selesai sudah permasalahan. Nyatanya tidak. Kamu masih menyimpan sisa yang kamu sediakan untuk ku terka. Sungguh aku tak pernah mengerti itu sebelumnya. Bahwa wanita selalu menyembunyikan sesuatu. Bahkan disembunyikan dari orang paling dekat yang menjaminkan upaya membahagiakannya.

 

Kini setelah kamu pergi, aku jadi belajar lebih banyak lagi. Belajar bagaimana lebih mengerti dan lebih memahami kaum wanita. Menggali kesalahan-kesalahan yang pernah ku perbuat padamu. Memperbaikinya dengan seksama. Agar kesalahan yang sama tidak terus terulang kembali. Sehingga aku tidak terus-terusan menjadi pria bodoh yang tak mengerti dan tak tahu diri. Karena ketidak-mampuan untuk mengerti.

 

Aku tak akan lagi menanyakan kabarmu secara berlebihan. Aku tak akan memberikan kata-kata manis secara berlebihan. Aku tak akan memberimu banyak hadiah secara berlebihan. Aku kini tahu bahwa apa-apa yang aku berikan padamu secara banyak membuatmu risih dan terasa berlebihan bagimu. Cara mencintaimu bagiku memang harus ku lakukan dengan lebih banyak setiap waktunya. Semua untuk kebahagiaanmu.

 

Namun aku salah memperlakukanmu. Yang berlebihan tidak menambah bahagia, tapi malah menambah kecewa. Harusnya ku tahu itu dari dulu. Namun karena kamu tidak mengeluhkan padaku, jadinya aku tidak tahu itu. Seandainya waktu bisa kembali ke masa awal berhubungan, maka akan ku perlakukan kamu dengan tepat.

 

Kini telah ku perbaiki caraku, ku sempurnakan perlakuanku. Bukan lagi untukmu. Namun untuk seseorang yang lain, yang telah mempersiapkan diri untuk menerima diriku yang telah jauh lebih baik dari sebelumnya. Karena aku yakin kembali padamu hanya akan menambah lukamu. Terima kasih, karena telah menjadi alasan bagiku untuk berubah dan memperbaiki diri.

 

Aha Anwar

Merelakanmu pergi tak semudah melepas balon ke udara

Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian dipublikasikan 10 Februari 2017
Ringkasan
Merelakanmu pergi tak semudah melepas balon ke udara. Mudah dan cepat saja. Namun bagiku akan sulit dan butuh waktu lama. Karena kamu telah lama melekat di hatiku.
Dilihat 22 Kali