Cinta, Harapan, dan Kebencian.

Cinta, Harapan, dan Kebencian. Cinta, Harapan, dan Kebencian.

Erwin

 

“Erwin Bima Wijaya.”

“Suci Indah Sari.”

Gue tersenyum seketika dia menyebutkan namanya,  nama indah itu langsung terngiang di kepala gue. Selama perjalanan dari Jakarta ke Bandung gue selalu memikirkan namanya, kami berpisah di Stasiun waktu itu. Pertemuan yang singkat namun amat sangat menyenangkan. Jatuh cinta itu menyenangkan, karena kita akan dihadapkan pada apa-apa yang membuat kita bahagia setengah mati. Dan kadang cinta bisa membuat kira melakukan hal-hal yang sedikit bodoh, atau lebih tepatnya kurang masuk akal.

“Saya boleh minta nomor  telepon kamu?” Tanya gue dengan nada yang malu-malu, lima belas menit lagi kereta gue akan datang.

“Buat apa?” Suci menanggapinya dengan cara yang biasa, dia tidak tersenyum, hanya bertanya dengan wajah yang lugu. Ya hanya bertanya, tapi itu berhasil membuat jantung gue berdetak  cukup cepat, keringat gue mengalir dari kening gue. Ah, bidadari baru saja jatuh dari langit kawan.

“Iya siapa tahu saya bisa bertanya-tanya soal tempat hiburan yang menarik di Bandung.” Kata gue, dan disitulah tingkat kebodohan yang gue maksud tadi.

“Kita kan beda tujuan.” Kata Suci singkat. Dan kalimat singkat itu membuat gue terdiam setengah mati. Mati kutu, jelas karena dia pasti akan berpikir gue modus atau gue hanya berusaha untuk merayu dia, dari tampilan Suci dia bukan perempuan yang suka di rayu.

Kereta gue datang, perlahan gue mulai panik karena belum menemukan alasan yang tepat agar Suci memberikan nomornya. Suara orang-orang yang akan pergi ke Bandung riuh karena kereta mereka sudah datang, tapi gue hanya termangu dan masih memikirkan sesuatu.

“Nih.” Tiba-tiba saja Suci memberikan secarik kertas dengan nomor telepon di atasnya, dia tersenyum lembut. Dan gue terdiam sambil memperhatikan kertas tersebut dan Suci berkali-kali. “Udah ini, nanti ketinggalan kereta.” Katanya, dia menaruh kertasnya di tangan gue dan langsung mendorong gue untuk masuk ke kereta.

Gue tersenyum. “Makasih ya.” Gue melambaian tangan gue ke dia.

“Hati-hati ya.” Dia pun demikian.

Semenjak pertemuan di Stasiun itu gue memulai cerita baru, bersama Suci.

---

Gue pernah bilang cinta akan selalu membawa kita ke arah yang membahagiakan, gue pernah bilang seperti itu dan gue pernah percaya kalau cinta benar-benar penyebab kebahagiaan kita. Kalau cinta tidak ada mungkin tidak ada yang namanya senyum tulus seorang perempuan yang menerima bunga dari sang pujaan hatinya, tidak akan ada tawa dari seorang anak yang bermain layangan bersama ayahnya, tidak ada semua itu. Tapi cinta kadang benar-benar menjengkelkan, membuat kita patah hati setengah mati ketika kita sudah terlena di dalamnya.

“Kita nanti akan kayak apa ya?” Tanya Suci ketika gue sama dia sedang berada di dalam taksi.

“Kayak apa? Maksudnya?” Tanya gue dengan wajah bingung. Setelah pertemuan gue dan Suci di stasiun akhirya kami memutuskan menjalin sebuah hubungan, hubungan yang membuat kami percaya kalau cinta memang ditakdirkan  hadir untuk kami berdua.

“Ihh masa iya mau begini terus? Aku nggak mau kalau gitu.” Katanya cemberut tiba-tiba.

Gue berusaha untuk menebak apa yang dia mau, apa yang sedang dia pikirkan. Sulit tahu menjadi laki-laki yang harus peka tuh sulit, kita harus berpikir keras agar tebakan kita benar. Karena kalau salah kita akan mendapatkan cap “Nggak peka!” Dan gue tidak mau di cap seperti itu. Gue memandang Suci dari samping, wajahnya jadi terlihat lebih indah kalau gue melihatnya dari samping, kerudungnya yang agak sedikit terkena Air Conditioner mobil membuat dia menjadi seribu kali lebih manis dari biasanya.

“Suci.”

Dia menoleh ke arah gue, masih dengan wajah yang kesal.

“Gaunnya mau pakai warna apa?” Kata gue tersenyum sama dia.

Dia tersenyum kembali sama gue, gue melihatnya ada air mata yang tertahan disana. Tapi dia berusaha untuk tetap santai, mungkin dia berusaha agar aku tidak mudah mendapatkannya begitu saja. Memang sangat amat sulit menjadi laki-laki yang harus peka terhadap perempuannya, tapi itu bukan masalah besar, kan? Karena dengan kepekaan kita si perempuan akan dengan senang hati tersenyum dan membuat kita menjadi laki-laki yang paling bahagia sedunia.

Cinta itu memang selalu membahagiakan.

---

“Pak kita mau kemana?” Supir taksi yang gue naiki membangunkan gue dari lamunan.

“Sudirman pak.” Jawab gue singkat.

Dulu, gue pernah percaya cinta adalah cara untuk merasakan bahagia, tapi justru cinta membuat gue patah hati setengah mati. Membuat gue truma dan mungkin membuat gue tidak bisa jatuh cinta lagi untuk waktu yang lama. Penyakit lama yang belum sembuh, dan juga rasa sakit hati yang datang dengan tiba-tiba. Gue tidak tahu harus bagaimana sama hati gue, gue berusaha menolak cinta setengah mati tapi tetap saja tidak bisa. Gue berusaha untuk melupakan setengah mati tapi tetap saja tidak bisa.

Lalu apa sebenarnya makna dari jatuh cinta? Untuk sekedar tahu kita pernah bahagia sesaat dengan orang yang salah? Atau untuk sekedar tahu ketika kita terbangun pagi orang yang kita sayang setengah mati sudah tidak ada disamping kita? Itu tidak adil, kan? Jelas tidak adil! Dan secara tidak langsung karena patah hati gue tumbuh menjadi seorang pembenci.

 

Dear Erwin,

Maaf aku harus begini, aku meninggalkan kamu tanpa pamit. Hanya surat ini yang aku jadikan tempat aku bisa mengucapkan selamat tinggal sama kamu. Aku mohon jangan benci sama aku, aku nggak tahu harus bagaimana tapi aku yakin setengah mati kamu nggak akan bahagia sama aku. Maaf kalau setiap harinya aku membuatmu kerepotan setengah mati, maaf kalau pada akhirnya aku memperjuangkan diriku sendiri, bukan sama kamu lagi. Maaf kalau ketika akan sampai pada hari pernikahan kita aku malah pergi dan bersikap seperti ini.

Tapi semuanya hanya untuk kebahagiaan kamu Win, aku nggak mau melihat tawa kamu terhenti sesaat ketika kamu tahu yang sebenarnya, aku nggak mau merepotkan kamu ke depannya. Maafin aku.

Aku sayang sama kamu, karena itu aku melakukan ini. Maka jaga diri kamu baik-baik, dan cincin pemberian kamu seharusnya nggak tersemat di jari aku.

 

Salam sayang,

Suci

 

Suci

 

Aku suka ketika melihat dia mengenakan kemeja hitam dengan gabungan jas berwarna hitam juga. Dia terlihat lebih keren dan mempersona setengah mati.

“Gimana menurut kamu?” Tanya dia ketika kami sedang mencoba beberapa baju untuk persiapan pernikahan kami.

“Bagus.” Kata ku sambil memberikan jari jempolku kepadanya.

Dua tahun aku dan Erwin mengenal dan sudah tidak terasa aku dan dia akan menikah. Pertemuan singkat di Stasiun waktu itu membuat kami menjadi dua orang manusia yang merasa malu di hadapan cinta, ah betapa lugunya kami waktu itu, bahkan kami sadar pipi dari masing-masing kami mulai memerah ketika kami berdua sama-sama tersenyum. Aku suka ketika Erwin tertawa dengan lepas, dia akan menjelma menjadi laki-laki paling bahagia sedunia. Aku suka ketika Erwin mulai memegang tanganku, aku merasa terlindungi.

Erwin, dia adalah laki-laki yang bisa diterima oleh Mamah melebihi laki-laki yang lain yang pernah bersamaku, entah apa yang dimiliki Erwin sampai waktu itu Mamah langsung berkata. “Mamah restui kalau memang kamu ingin menikahi anak Mamah Win.” Dari situ Erwin mulai serius menjagaku, mulai sering menghabiskan waktu bersamaku. Jelas saja, kami adalah calon pasutri paling bahagia berikutnya.

“Nanti aku mau foto Pre-Wed kita ada disini Win.” Kataku sambil menunjuk tempat yang akan dijadikan untuk menaruh foto.

Erwin melihat tempat itu sekilas, lalu dia melihat sekitar di area gedung. “Nggak ah, disitu aja, nanti biar pas orang masuk langsung bisa melihat foto kita.”

Aku mengernyitkan dahi. “Ihh itu jelek Win, dan juga menghalangi orang yang akan masuk.” Kataku.

“Nah disitu gimana? Kayaknya disitu bagus deh.” Erwin menunjuk tempat yang sudah kami hias dengan bunga-bunga.

“Ihh nggak mau, itu kan udah ada hiasannya nanti jelek kalau malah ada fotonya Win.”

Erwin menepuk keningnya, aku suka melihat dia yang kebingungan sama sikapku. “Yaudah ini terakhir nih ya, disitu gimana?” Dia menunjuk ke arah pelaminan. “Kita taruh di tengah-tengah, antara kamu sama aku.”

Aku terdiam beberapa saat sambil memperhatikan tempat yang Erwin tunjuk. Aku mengangguk perlahan.

“Nah bagus, kan?”

“Nggak mau, jelek!”

Erwin tersentak tiba-tiba. “Lah kamu ngapain ngangguk?”

“Iseng.” Erwin terdiam. Aku suka ketika melihat dia kewalahan karena sikapku. “Nah sudah aku putuskan akan ditaruh mana foto Pre-Wed kita.”

Erwin hanya terdiam sambil memperhatikan ku.

“Disana.” Kataku menunjuk ke arah pintu, yang nantinya para tamu akan datang.

“Tadi kan aku bilang disana.”

“Kapan kamu bilang disana?” Tanyaku sambil menodong dia, dia hanya terdiam ketika aku bertanya dengan wajah yang lesu dan malas menanggapi kembali perkataanku. Aku suka ketika seperti ini, ketika dia menjadi laki-laki yang sengaja mengalah untuk membuatku bahagia karena sikapnya. “Tuh kan nggak bisa jawab, berarti emang kamu nggak ngomong disitu tadi. Ini pure ide aku.”

“Terserah kamu deh.”

Dalam hati aku tertawa setengah mati, aku suka ketika Erwin pasrah dengan apa yang aku lakukan. Beginilah cinta, membuat dua orang manusia menjadi manusia paling berbahagia. Dan kami sama-sama tahu kalau cinta yang melengkapi kami untuk saling mengerti dan percaya.

---

Disaat semua peristiwa membahagiakan datang karena cinta, maka semuanya akan terasa indah. Tapi di balik semua kebahagiaan itu akan datang juga sebuah masalah, masalah yang mewajibkan kita untuk berpikir bagaimana cara menyelesaikannya. Aku tidak pernah berniat membuat patah hati seseorang, aku tidak pernah berniat membuat siapapun tumbuh menjadi pembenci karena aku, aku tidak pernah berniat membuat Erwin hancur dan memaki diriku setengah mati. Aku menyayanginya melebihi diriku sendiri, tapi cinta harus terpaksa berhenti karena ketidakberdayaanku kepada Takdir Tuhan.

Kita hanya sebagian debu kecil dari semesta yang begitu luas. Ada kalanya kita memang harus menangis, tapi ada kalanya kita berpikir kalau menangis adalah penyakit paling parah yang pernah ada. Ada kalanya kita harus menerima dengan lapang, tapi juga ada kalanya kita tidak pernah mau bisa ikhlas terhadap suatu hal. Ada kalanya cinta membuat kita bahagia, tapi ada kalanya cinta membuat kita menangis. Ada kalanya cinta mempertemukan, tapi ada kalanya cinta memisahkan.

Aku meninggalkan Erwin bukan karena aku tersiksa olehnya, tapi memang sudah seharusnya seperti ini. Skenario Tuhan berjalan seperti ini, aku dan Erwin memang tidak berjodoh, aku dan Erwin memang tidak bisa berjalan bersama di jalan yang sama, kami hanya akan saling menyapa dijalan yang berbeda. Atau mungkin tidak akan ada jalan yang akan mempersatukan kami selamanya. Tidak ada orang yang mau pergi meninggalkan orang yang disayang setengah mati, tidak ada yang mau. Dan aku? Aku harus meninggalkan Erwin, bukan untuk diriku tapi untuk kebahagiaan Erwin, karena aku tahu Erwin akan menderita ketika bersamaku.

 

Dear Erwin,

Maaf aku harus begini, aku meninggalkan kamu tanpa pamit. Hanya surat ini yang aku jadikan tempat aku bisa mengucapkan selamat tinggal sama kamu. Aku mohon jangan benci sama aku, aku nggak tahu harus bagaimana tapi aku yakin setengah mati kamu nggak akan bahagia sama aku. Maaf kalau setiap harinya aku membuatmu kerepotan setengah mati, maaf kalau pada akhirnya aku memperjuangkan diriku sendiri, bukan sama kamu lagi. Maaf kalau ketika akan sampai pada hari pernikahan kita aku malah pergi dan bersikap seperti ini.

Tapi semuanya hanya untuk kebahagiaan kamu Win, aku nggak mau melihat tawa kamu terhenti sesaat ketika kamu tahu yang sebenarnya, aku nggak mau merepotkan kamu ke depannya. Maafin aku.

Aku sayang sama kamu, karena itu aku melakukan ini. Maka jaga diri kamu baik-baik, dan cincin pemberian kamu seharusnya nggak tersemat di jari aku.

 

Salam sayang,

Suci

---

“Sudah siap?” Tanya sang dokter kepadaku.

Aku mengangguk pelan.

“Mah kalau aku nggak selamat, tolong kasih surat ini ke Erwin. Dan jangan berkata apapun.” Kataku kepada Mamah ketika akan memulai operasi. Dua minggu sebelum pernikahan aku dan Erwin, dokter memvonisku menderita tumor otak, dan penyakit ini ternyata sudah bersarang lama di dalam tubuhku. Tanpa aku ketahui penyakit ini sudah sampai pada tingkat maksimumnya.

Aku tidak pernah berniat meninggalkan Erwin, hanya saja ini harus aku lakukan, berpura-pura agar terkesan aku meninggalkannya, walaupun benar aku memang meninggalkannya. Tapi tetap saja, aku hanya ingin Erwin bahagia, dengan apa yang dia punya, aku hanya ingin dia bisa tertawa kembali...

Walaupun bukan denganku.

Arifin Narendra Putra

Cinta, Harapan, dan Kebencian.

Karya Arifin Narendra Putra Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 10 Februari 2017
Ringkasan
Kita hanya sebagian debu kecil dari semesta yang begitu luas.

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 bulan yang lalu.
    Walaupun ide cerita seperti ini sudah sering diangkat oleh banyak penulis (tentang sepasang kekasih yang harus berpisah karena salah satunya mengidap sebuah penyakit),
    cara kamu menuturkannya, membuat cerita ini jadi berbeda ....

    Tidak terlalu panjang, tapi bisa menyampaikan 'rasa'nya dengan baik .....
    Ini keren dan saya suka setengah mati