Sebuah Potret

Sebuah Potret Sebuah Potret

Sebuah musim sepi.

Tertatih seorang renta dengan tongkat sambil meratap.

Ratap-ratap berkepanjangan sepanjang zaman.

Untuk sebuah nasib yang tak beruntung.

 

Sebuah ladang sepi.

Termenung seorang bertemankan cangkul.

Terpekur  hening menangisi darah yang semakin habis disedot para lintah.

Tukang gerogot darah hingga sum-sum kerontang.

 

Sebuah jalanan sepi, di suatu malam.

Bocah surga mengais tong bau amis demi sepotong kue.

Mengais dengan cemong di pipi diantara para binal yang seakan sibuk dengan pergumulannya.

Si bocah dapat satu kue, kemudian berlalu. Besok kembali lagi.

 

Hiruk-pikuk bercampur dengkur.

Melebur di sela-sela lipatan jas dan dasi.

Tapi tetap saja bau amis merebak kemana-mana.

Busuk penuh borok, ulat-ulat bergelantung di balik safari.

 

Bangga Surya Nagara

Sebuah Potret

Karya Bangga Surya Nagara Kategori Puisi dipublikasikan 07 Februari 2017
Ringkasan
Hiruk-pikuk bercampur dengkur. Melebur di sela-sela lipatan jas dan dasi. Tapi tetap saja bau amis merebak kemana-mana. Busuk penuh borok, ulat-ulat bergelantung di balik safari.
Dilihat 40 Kali