Belajar Tabah dari Bisikan Trump

Belajar Tabah dari Bisikan Trump Belajar Tabah dari Bisikan Trump

Presiden Amerika Serikat, Franklin D. Roosevelt pernah menuturkan suatu ungkapan menarik dan seringkali dikutip banyak orang di berbagai belahan dunia.

"Tidak ada sesuatu yang harus ditakuti kecuali ketakutan itu sendiri."

Ungkapan tersebut cukup menginspirasi banyak orang untuk melawan ketakutan-ketakutan yang seringkali hadir di dalam kehidupan sehari-hari.

Kita, para penghuni di jagad raya ini sejatinya seringkali dihadapkan pada rasa ketakutan-ketakutan dibandingkan kesempatan untuk menikmati hadirnya ketenangan.

Dengan kemajuan teknologi informasi, kita dengan mudah mengakses informasi yang menakutkan kehidupan kita.

Kita dihadapkan dengan persoalan ekonomi yang lesu, angka kriminalitas yang cenderung meningkat.

Kita seolah hendak menyangkal apa yang disampaikan Presiden Franklin Roosevelt di atas jika menyaksikan kehidupan saat ini, terutama hadirnya ketakutan-ketakutan yang cenderung berpotensi menjadi kenyataan.

Terbaru, kita menyaksikan gejolak dunia yang sedang gaduh akibat ujaran-ujaran rasis seorang Donald Trump, presiden Amerika Serikat ke-45 yang baru dilatik beberapa minggu yang lalu.

Sejumlah masyarakat sejatinya lebih banyak merinding dan menjadi cemas jika menyaksikan Trump dengan ujaran-ujarannya yang cenderung rasis kepada komunitas Muslim.

Saya sendiri merasakan hal yang sama jika melihat Donald Trump saat ini, harapan-harapan yang seharusnya disematkan kepada pemimpin negara besar seperti Amerika Serikat malah menjadi sumber ketakutan bagi warga dunia.

Dunia bergejolak. Trump dikutuk di mana-mana akibat pernyataan dan kebijakan yang dibuatnya. Tapi, sosok yang satu ini tetap saja adem ayem. Tak ambil pusing dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

Donald Trump dan Komunitas Muslim Amerika

Saat masih menjadi bakal calon Presiden mewakili Partai Republik, Trump telah menyatakan untuk melakukan pencegahan total bagi umat Muslim memasuki Amerika Serikat.

Pernyataan Trump yang cenderung dinilai Anti-Islam salah satunya berbunyi seperti ini  :

"Kita harus waspada. Kita harus berhati-hati. Kita tidak bisa membiarkan orang-orang dengan kebencian terhadap AS memasuki negara ini."

Bentuk kerasisan Trump terhadap umat Islam, utamanya untuk umat muslim yang tercatat sebagai warga Amerika Serikat disampaikan secara terang-terangan di muka publik.

Tentu saja, pernyataan Trump tersebut mencerminkan jika dirinya sosok kontroversial dan menimbulkan kecemasan bagi banyak orang.

Bagi Trump, komunitas Muslim itu perlu diwaspadai. Terlebih, sejak terjadinya penembakan di Orlando, California yang didalangi para teroris dengan menewaskan sebanyak 50 orang warga Amerika.

Pada saat itu juga Trump menegaskan jika komunitas Muslim dan masjid-masjid di AS perlu diawasi secara ketat.

Setelah peristiwa itu, Trump menjadikan umat Islam sebagai satu-satunya biang kerok dibalik tewasnya beberapa warga Amerika Serikat dalam insiden tersebut.

Sementara itu, Barack Obama yang saat itu masih menjabat sebagai presiden memilih jalan untuk merangkul umat Islam.

Dalam pidatonya untuk menenangkan publik Amerika, Obama menekankan agar umat Islam kian aktif mendesak serta melakukan perlawan dan seruan untuk memutus "ideologi ektremis" yang cenderung telah menyebar ke komunitas-komunitas Muslim.

Namun, dibalik pernyataan tersebut, Obama dengan bijak meminta agar publik Amerika tidak melakukan diskriminasi terhadap umat Islam.

Sayangnya, sosok Trump memiliki pendapat berbeda menyikapi insiden tersebut dan dengan lantang pebisnis sukses dibidang properti ini menyerukan kepada publik jika kehadiran umat Islam sangat berbahaya dan perlu diwaspadai.

Lagi-lagi, dunia bergejolak dan Trump dinilai sosok rasis yang tidak layak menjadi presiden Amerika Serikat.

Melihat keadaan yang semakin memanas, Obama menegaskan bahwa apa yang terjadi di Amerika Serikat, utamanya terkait bahaya terorisme tidak didefinisikan sebagai perang antara Islam dan Amerika.

Bahkan, Obama sempat menawarkan jika kita (baca : Amerika Serikat) ingin berhasil mengalahkan teroris maka sudah seharusnya memasukkan komunitas Muslim sebagai sekutu terkuat ketimbang menyingkirkan mereka dengan kecurigaan dan kebencian.

Menjadi Tabah sebagai Pendengar Bisikan Trump

Presiden Donald Trump sangat layak disebut sosok rasis kepada komunitas Muslim.

Terbaru, seperti diberitakan Kompas.com Trump mengeluarkan kebijakan pembatasan imigran negara-negara Muslim untuk berkunjung ke Amerika Serikat, yaitu Iran, Irak, Suriah, Sudan, Libya, Yaman, Somalia.

Donald Trump tanpa malu-malu terus berbisik-bisik tentang bahaya kehadiran umat Islam yang terlalu diidentikkan sebagai gerbong lahirnya teroris seperti Al-Qaeda dan ISIS bagi warga Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut berhembus terus - menerus dan menjadi bisikan berbahaya jika umat Islam tidak bisa menahan diri dan belajar tabah menyikapi persoalan yang cenderung menjadi isu global tersebut.

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan umat Muslim di negeri Paman Sam tersebut?

Mari kita dengarkan seruan menyejukkan dari Imam Shamsi Ali, seorang ulama kelas dunia asal Indonesia yang bertahun-tahun tinggal di Amerika Serikat.

Imam Shamsi Ali menawarkan tindakan positif sekaligus menyerukan kepada umat Islam di dalam khotbah jumat pasca kebijakan Presiden Trump tersebut seperti ditulis Musayyin Arif berikut ini :

"Mengajak seluruh masyakat muslim Amerika untuk menyikapi perkembangan politik pasca terpilihnya Presiden Donald J. Trump secara positif. Diskriminasi harus dilawan dengan dakwah bilhal dengan cara bangkit menunjukkan eksistensi dan memperkenalkan Islam yang sesungguhnya, yaitu Islam yang rahmatan lil alamin, yang berbeda jauh dari pemikiran dan pemahaman yang dipropagandakan khususnya oleh Presiden Trump saat ini."

Shamsi Ali menambahkan, jika dakwah bilhal ini dapat dimulai dari menyapa tetangga, memperbaiki hubungan baik dengan mereka, atau dengan sekedar menyampaikan bahwa kita muslim dan kita ingin menjadi tetangga yang baik untuk mereka.

Kemudian, kita juga melanjutkan dengan melakukan pendekatan dan menjalin kerjasama antar komunitas agama yang ada di lingkungan kita, khususnya yang masih berfikiran positif tentang keberadaan masyarakat muslim di Amerika.

Tak kalah pentingnya, Imam Shamsi Ali mengingatkan yang harus dilakukan oleh umat Islam di Amerika adalah melakukan pendekatan dan klarifikasi kepada pemerintah lokal sebagai bentuk aksi proaktif untuk meyakinkan tentang kedamaian yang diajarkan Islam dan jauhnya agama ini dari ancaman tatanan kehidupan.

Mendengar pernyataan Trump yang cenderung kontroversial dan memojokkan komunitas muslim, sudah seharusnya umat Islam menjadikan ini sebagai bisikan untuk terus menerus mempererat persahabatan kepada sesama.

Seruan Imam Shamsi Ali diatas untuk umat Muslim Amerika Serikat menyambut kehadiran Presiden Donald Trump sebagai presiden bagi mereka sangat layak dijadikan pijakan bersikap sebagai warga negara yang baik.

Ada baiknya juga, kita mengutip ungkapan tokoh perdamaian dunia asal Afrika Selatan, Nelson Mandela :

"Jika engkau hendak menciptakan perdamaian dengan musuhmu maka jadikanlah dia menjadi mitra kerjamu."

Mari kita memohon kepada Allah Swt agar pernyataan Trump tidak disikapi dengan hal-hal yang tidak mencerminkan identitas diri kita sebagai umat Islam yang rahmatal lil alamin (Islam yang penuh cinta kasih kepada alam semesta).

Trump juga manusia biasa. Suatu hari mungkin bisa lebih humanis. Tugas kita hanya mendoakannya agar kelak Trump bisa menjadi pemimpin ideal.

Yang bisa mengayomi umat manusia dengan aksi-aksi nyata untuk menebarkan semangat cinta kasih di pentas global.

"Kami berlindung dari godaan setan dan bisikan jahat orang-orang yang hobi menyerukan permusuhan."

#WellcomeTrump


Referensi :

Liputan Internasional Kompas.com terkait Donald Trump dan Amerika Serikat.

Fan page Facebook @Shamsi Ali Satu

Fendi Chovi

Belajar Tabah dari Bisikan Trump

Karya Fendi Chovi Kategori Tokoh dipublikasikan 06 Februari 2017
Ringkasan
Donald Trump merupakan Presiden Amerika Serikat ke-45. Sosok ini dinilai kontroversial dan rasis. Kebijakan-kebijakannya saat ini menyudutkan komunitas Muslim di Amerika. Bagaimana sikap umat Islam di sana? #WellcomeTrump