Di Bawah Langit Pada Suatu Ketika

Di Bawah Langit Pada Suatu Ketika Di Bawah Langit Pada Suatu Ketika

Bulan sabit telah terbit di atas kepala. Senja menyulur cahaya, memerah remang. Punggungmu terbungkus udara dan semburat jingga. Aku mengamatimu diam-diam. Menikmati pendar teduh yang dikirim bola matamu kepada mereka, sayuran hijau yang terhampar di hadapanmu. Kamu memang maniak. Kau biarkan tumbuhan-tumbuhan itu merambatimu. Pada dada, tungkai kaki, kepala dan berakar di jantungmu.

"Ini sudah petang, lekaslah pulang. Berwudu lalu salatlah. Aku tak mau kamu diambil Sandekala," kubilang.

"Sandekala?" tanyamu sedikit heran.

Aku mengangguk,

"Jurig yang Apa Aki bilang keluar saat senja sedang indah-indahnya. Ia senang mencari teman. Kupikir Sandekala adalah hantu yang sering kesepian."

Seulas senyum tersimpul dari bibirmu. Tak lama, kau berjalan pelan ke arahku dengan wajah sedikit serius. Aku mengernyitkan alis. Jika sudah begitu, kau pasti melakukan hal menyebalkan. Dan tentu saja, aku tak bisa mengelak saat sepasang tanganmu kautangkupkan pada wajahku.

"Kamu tidak lihat? Aku lebih menyeramkan dari Sandekala. Detik ini juga, aku bahkan bisa menculikmu dan memakanmu kalau aku mau!"

Aku terkesiap. Sejalar hangat tertinggal di wajahku. Sekuat tenaga kusembunyikan rona senja yang berpindah telaga. Mengusap ingatan, akar luka, juga bagian paling asing dalam dadaku.

Kau tertawa setelahnya. Aku mulai berpikir, jangan-jangan kau memang Sandekala yang sering diceritakan Apa Aki. Lelaki penyendiri yang berkawan dengan daunan dan bunga. Hanya, Apa Aki tak pernah bilang kalau Sandekala punya banyak kupu-kupu seperti yang kau masukkan ke dalam perutku.

 

Lupy Agustina

Di Bawah Langit Pada Suatu Ketika

Karya Lupy Agustina Kategori Catatan Harian dipublikasikan 06 Februari 2017
Ringkasan
Aku mulai berpikir, jangan-jangan kau memang Sandekala yang sering diceritakan Apa Aki padaku.
Dilihat 43 Kali