Nabiya Mencari Cahaya

Nabiya Mencari Cahaya Nabiya Mencari Cahaya

“Assalamu’alaikum. Biya, nanti sore ikut pengajian di Al-Ikhlas kan?”

“Mmm.. Kayaknya aku nggak ikut dulu deh, Cha. Kapan-kapan, ya..”

“Kalau kajian Ahad pagi bisa ikut kan, Bi?”

“Entahlah, Sa.. Sepertinya aku harus bantu mama belanja, mau ada acara.”

“Eh, Biya.. jangan lupa! Besok sepulang sekolah ada seminar muslimah. Ikutan yuk..”

“Maaf, Jas. Aku nggak bisa. Mbak Nadiya minta ditemani ke toko buku, nih.”

Begitulah. Akhir-akhir ini, Nabiya banyak sekali mengeluarkan alasan ketika Aisyah, Harsa, dan Jasmine mengajaknya menghadiri kajian-kajian keislaman. Nabiya seperti sengaja menghindar dari mereka semua. Ada apa ini sebenarnya?

***

Kata adiknya, Nabiya sedang galau. Kehilangan arah. Disorientasi, istilah sang kakak yang kuliah di fakultas saintek. Ah, Nabiya tak mau tahu dengan istilah-istilah itu. Yang ia tahu, ia sedang bosan. Ya, itu saja. Bosan. Jika ditanya mengapa, ia juga tidak tahu apa sebabnya. Ia hanya sedang tidak ingin bersama teman-temannya.

Nabiya butuh lebih dari sekadar Aisyah yang supel, Harsa yang pintar, dan Jasmine yang cantik. Ia bosan mendengar ajakan bawel mereka bertiga. Nabiya sedang tidak ingin mendengar ajakan-ajakan mereka.

Nabiya ingin mendapat kesenangan. Ia ingin menjadi seseorang yang lain, seseorang yang baru dan berbeda. Dan menurutnya, hanya ada satu hal yang bisa ia lakukan untuk bisa seperti itu: menghindari teman-temannya, sejauh-jauhnya. Ia harus mencari teman yang baru. Teman baru yang lebih seru dan membuatnya utuh. Harus! Tekad Nabiya dalam hati.

***

Sejak itulah Nabiya mulai menghindar dari Aisyah, Harsa, dan Jasmine. Ia mulai mencari teman-teman yang baru. Pekan lalu, Nabiya mencoba ikut menghabiskan akhir pekannya bersama Astrid dan teman-temannya yang hobi berbelanja.

“Eh, Bi! Kamu kalau ikut kita harus modis. Jangan pakai baju yang kedodoran gitu, oke?”

“Iya, Bi. Kamu itu sebenarnya cantik lho. Tapi karena banyak gaul sama Aisyah yang sok alim itu, kamu jadi kelihatan kuper!”

“Udah, pokoknya kamu ikut kita dulu, deh. Kita bisa kok pilihin baju yang pas buat kamu,”

Huh! Belum apa-apa, Astrid dan teman-temannya sudah membuat Nabiya risih. Biya juga menyesal mengikuti mereka hari itu. Sepulang jalan-jalan, kaki Nabiya pegal semua. Nabiya kapok ikut-ikutan Astrid.

Lima hari lalu, setelah lepas dari Astrid, Nabiya mulai mengembara lagi. Kali ini, ia mencoba masuk kelompok Inka. Kalau dilihat-lihat, sepertinya Inka dan kelompoknya tidak suka menghabiskan waktunya di mall-mall. Jadi, sepulang sekolah Biya ikut Inka dan beberapa orang temannya menghabiskan waktu di sebuah kafe.

“Aduh, Biya! Aku dengar kemarin kamu ikut si Astrid sampai kakimu pegal-pegal ya? Kasihan banget. Mending juga kamu di sini sama kita,” Jullie, teman dekat Inka membuka percakapan siang itu.

“Iya, Biy! Enakan juga di sini, duduk-duduk ngadem. Kita biasanya belajar juga kok di sini. Iya nggak, teman-teman?” Putri ikut menyumbang suara.

“Bener banget. Eh, eh, tapi kalian tahu nggak? Itu, si Dewa, kakaknya Dewi, bla bla bla bla.....”

Ternyata begini jika si Inka dan kelompoknya berkumpul. Memang mereka tidak ke mana-mana dan hanya duduk-duduk di kafe tetapi mereka senang sekali membicarakan orang. Buku yang awalnya diniatkan untuk dibaca akhirnya juga tidak diacuhkan, mereka sibuk bergosip ria. Nabiya hanya sesekali menanggapi dengan meringis kikuk-tapi-juga-kesal di kursi paling pojok. Ini juga tidak cocok, batinnya.

Pengalaman mencari “tempat yang cocok” paling menyeramkan Nabiya dapatkan baru-baru ini. Ketika berjalan sendirian sepulang sekolah, seseorang menepuk bahunya.

“Eh? Rosi? Bikin kaget saja,” kata Biya setelah mengetahui siapa yang menepuk bahunya.

“Habis kamu jalan sambil melamun, sih. Kenapa? Lagi banyak masalah, ya?” tanya gadis yang selalu terlihat pucat itu.

“Ah, Enggak juga sih, Ros. Cuma lagi sepi aja, hehe,”

“Kalau kamu banyak masalah, kamu coba ini, deh,” ujar Rosi sambil diam-diam menyodorkan sebuah bungkusan berisi sesuatu berwarna putih sebesar permen cicak. “Dijamin pikiran kamu langsung plong. Kalau nggak ada duit, bawa aja dulu. Anggap aja ini promo dari aku,” lanjutnya.

“Uh, oh.. Enggak deh, Ros. Makasih. Eh, sudah dulu ya. Itu angkotku datang,” Biya segera naik angkot tanpa menoleh lagi pada Rosi.

Nabiya tidak menyangka, Rosi yang terlihat pendiam di kelas ternyata seorang pengedar narkoba. Berani-beraninya Rosi menawari Biya obat-obatan terlarang itu. Huh, untung aku sedang tidak gelap mata. Biya bersyukur dalam hati.

***

Hmm. Ternyata, teman yang baik bukanlah mereka yang membiarkanmu tenggelam dalam lumpur kesalahan tetapi mereka yang rela menjadi bawel agar kamu tidak jatuh dalam lumpur kesalahan itu.

Ah, Nabiya jadi ingat Aisyah, Harsa, dan Jasmine. Merekalah sebaik-baik teman. Nabiya malu sudah menjauhi mereka akhir-akhir ini. Tetapi ia juga tidak ingin kehilangan mereka lagi. Nabiya jadi tidak sabar menunggu esok hari agar bisa bertemu teman-temannya tersayang. Nabiya akan menyudahi pencariannya, sebentar lagi ia akan temukan cahaya yang ia cari terpancar dari ketulusan pertemanannya dengan Aisyah, Harsa, dan Jasmine.

Nahla Jingga

Nabiya Mencari Cahaya

Karya Nahla Jingga Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 06 Februari 2017
Ringkasan
7/7 Kisah Keluarga Cahaya Bercahayalah dan terangi sekitar. Lihat lebih dekat, temukan cahaya yang berpendar dari orang-orang terdekatmu.
Dilihat 17 Kali