Hilangnya Senyum Harum

Hilangnya Senyum Harum Hilangnya Senyum Harum

Sore itu, ketika dalam perjalanan sepulang mengaji di masjid, Upik dan Fia berteriak histeris memanggil nama seseorang.

“Haruuum!! Hey, Haruuumm....” heboh sekali mereka berteriak dan berjingkat-jingkat. Sayang sekali, orang yang dipanggil itu sedang sibuk mendorong gerobak aneka jajanan sehingga tidak mendengar panggilan Upik dan Fia.

Harum, teman mereka satu sekolah. Harum adalah anak yang baik dan pandai. Semua teman sekelas tahu, sepulang sekolah ia tidak bisa lama-lama bermain karena harus membantu ayahnya berjualan aneka jajanan keliling. Sepulang membantu ayah, ia akan belajar, mengaji, dan menjaga adik-adiknya. Walau hidup yang ia jalani begitu keras dan berbeda dari kehidupan teman-temannya yang lain, Harum tidak pernah mengeluh. Ia adalah pribadi yang ceria dan menyenangkan.

Tetapi akhir-akhir ini setelah tidak masuk sekolah selama lima hari berturut-turut tanpa keterangan, Harum menjadi pemurung dan pendiam. Biasanya, sepanjang istirahat sekolah ia mengunjungi perpustakaan atau bermain bersama di halaman. Sekarang selama istirahat ia menghilang, tak ada yang tahu ia ke mana. Celotehan ringan dan guyonan segar tak lagi keluar dari bibir mungilnya. Saat bel tanda sekolah usai berbunyi Harum tak lagi mau menunggu teman-teman untuk pulang bersama. Harum sudah berubah. Semua temannya, termasuk Upik dan Fia rindu pada Harum yang dahulu, mereka ingin Harum yang mereka kenal kembali.

***

Harum tahu, akhir-akhir ini banyak temannya yang merasa ia berubah. Ia memang berubah. Ia tak seceria dan tak seriang dahulu. Harum sendiri juga sebenarnya rindu bercanda dan bermain bersama teman-teman. Tetapi mau bagaimana lagi? Harum tak bisa melakukan apa-apa. Hampir sepekan yang lalu, ibunya jatuh sakit. Karena itu ia tidak masuk sekolah. Ia tidak sempat memberi tahu siapa-siapa.

Saat ibunya sakit, ia harus menggantikan semua pekerjaan ibunya. Ketiga adiknya yang masih kecil tidak bisa membantu banyak. Harum jadi sangat sibuk. Ia tak bisa lagi meluangkan waktunya sekadar untuk bermain sebentar. Akhir-akhir ini, walau ibunya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, ia masih harus membantu keluarganya. Ibunya hanya bisa berbaring di ranjang, maka saat sekolah usai ia akan kembali ke rumah dengan segera. Waktu istirahatnya bertepatan dengan jam bubar sekolah adiknya yang masih TK, jadi ketika istirahat, ia menyempatkan menjemput dan mengantar adiknya pulang terlebih dahulu.

Pekerjaan-pekerjaan itu terlalu banyak untuk dipikul Harum sendiri. Tanpa ia sadari, wajahnya yang riang dan selalu ceria jadi cemberut dan murung. Ia bahkan lupa menyapa dan berbagi guyonan dengan teman-temannya. Hanya ada satu hal yang ia ingat, yaitu segera pulang, selesaikan pekerjaan, dan tunggu jaga ibu dan adik-adiknya di rumah. Itulah setiap hari yang dikerjakan dan dipikirkan oleh Harum kecil.

***

Upik sedang asyik menikmati cemilan buatan Bunda di halaman belakang ketika tiba-tiba Fia datang menghampiri dengan kening penuh kerutan, tanda ia sedang memikirkan sesuatu.

            “Pik, akhir-akhir ini Harum kenapa ya?”

“Mana aku tahu, Fi. Aku kan di sini terus bersamamu,” Upik asal menjawab sambil tetap asyik menikmati cemilannya.

“Upik! Fia serius nih.. Fia kangen Harum yang dulu, yang ceria dan banyak cerita lucu,”

“Aduh, Fii.. Ini juga aku serius. Aku nggak tahu Harum kenapa, benar deh. Kalau masalah kangen, aku juga kangen. Kepingin dengar guyonan Harum lagi. Sepi deh kalau dia jadi pendiam gini,” Upik menjawab panjang lebar.

Setelah hanya suara gemericik air di kolam ikan yang terdengar, Fia mengusulkan sesuatu.

“Bagaimana kalau kita ke rumah Harum saja?”

“Boleh. Sore ini, ya?”

“Kita bawa jajan yang banyak,”

“Bawa majalah dan buku cerita juga,”

Si kembar itu mulai ramai merencanakan kunjungan ke rumah Harum. Mungkin Harum sedang dalam kesulitan, jadi tidak ada salahnya untuk berkunjung dan meringankan bebannya, begitu pikir Upik dan Fia.

***

“Harum.. Assalamu’alaikum!”

Suara itu mengagetkan Harum yang sedang menjaga adiknya.

“Wa’alaikumussalam. Eh, Upik dan Fia. Ayo sini masuk,”

“Maaf, kami mengganggumu, Harum. Hanya ingin mampir sebentar,” kata Fia setelah duduk.

“Ah, tidak apa-apa, Fi. Beginilah rumah dan kegiatanku selama di rumah. Kalian harap maklum ya,” kata Harum seraya tersenyum kikuk.

Dari kunjungan sore itu, si Kembar jadi tahu keadaan Harum dan keluarganya, serta alasan Harum berubah akhir-akhir ini.

“Harum, kamu tidak seharusnya menyimpan masalah seperti ini sendiri. Kami kan temanmu, Rum. Jika kamu bercerita apa yang sebenarnya terjadi, tentu kami akan membantu. Iya kan, Pik?”

“Iya, Rum. Tertawalah, Rum. Seisi dunia akan tertawa bersamamu. Jangan bersedih, karena kamu akan bersedih sendiri. Begitu yang aku baca dari buku Bang Opang, hehe,” Upik mencoba membuat Harum tersenyum.

“Hehehe.. Iya, terima kasih ya, Upik, Fia. Awalnya aku hanya takut merepotkan. Tapi memang ternyata aku tidak bisa mengatasinya sendiri.”

Matahari sudah semakin tumbang, sebentar lagi tugasnya akan digantikan sang bulan. Upik dan Fia menyudahi kunjungan mereka hari itu. Sebelum pulang, Upik dan Fia menyerahkan bingkisan yang sudah mereka persiapkan dari rumah.

“Ini ada sedikit dari kami, Rum. Semoga bermanfaat. Jika kamu butuh bantuan, jangan ragu bilang kami ya. Kami akan membantu sebisa kami.”

“Wah, terima kasih. Kalian baik sekali. Semoga Allah selalu memberkahi kalian. Aku senang punya teman seperti kalian,” senyum Harum yang akhir-akhir ini hilang mulai merekah lagi.

Nahla Jingga

Hilangnya Senyum Harum

Karya Nahla Jingga Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 06 Februari 2017
Ringkasan
6/7 kisah dari Keluarga Cahaya Jangan pernah meremehkan anak kecil! Mereka selalu bisa menciptakan keajaiban melalui hal-hal sederhana.
Dilihat 14 Kali