Separuh Episode yang Gugur #1

Separuh Episode yang Gugur #1 Separuh Episode yang Gugur #1

Fajar, sebagian orang berharap ia membawa cerita . Menyingsingkan waktu bersama gurat gurat cahaya. Begitupun senja, sebagian lain menerima hadirnya sebagai pertanda lelah akan segera terobati.

Hal ini membangkitkan suatu ingatan, beberapa tahun silam. Ya benar ,benar benar fajar kuperankan (entah diluar kesengajaan seorang kawan atau memang begitu adanya) terciptalah suatu naskah.
Mengirama dengan (sejatinya) kisah nyata, melihatku hanya meneduhkan masa lewat tulisan (yang kuingat betul) diukir diatas meja. Seorang kawan mengingatkan aku terlalu takut untuk mengakui pengorbanan hingga dikhianati.

Masa masa itu adalah, masa dimana rasanya tak lagi ada kata damai dengan diri. Kuingat betul, separuh episode itu gugur , sebelum yang Maha pemurah karuniakan kepanjangan usiaku. Ya kecawa , memang itu hal yang mengecewakan. Tapi aku sadar , sadar betul itu keputusan terbaik. Sebab aku mengira ini berangkat dari kefahaman. Hingga kekecewaan itu tak bisa dianggap pengorbanan, karena aku tau beberapa waktu setelahnya hal yang terjadi padaku oleh dia, bukan atas kefahaman, tapi karena keangkuhan yang ingin menjerat pada awan awan kenangan.

Bukan , aku bukan sedang bercerita tentang luka lama, luka yang sejatinya ku tutup dengan perbanyak doa sehingga pada akhirnnya maha Cinta kuasakan ku bertemu dengan orang orang yang membawaku pada jalan ini.

Jauh sebelum aku saat ini, aku pernah mengalami hal hal yang bisa jadi saat ini ku anggap hal hal yang harusnya tidak kulakukan.

Dalam naskah cerita, aku mengikuti lanhkah. Membawaku pada suatu tempat yang ku tau aku belum perna sekalipun mengunjunginya.

Sesiang itu, fajar (begitulah sebutannya) memerankan apa yang harus ia perankan

Mencoba menelisik satu persatu kata, mendalami setiap peran dalam alur ceritanya. Dan sudah ku duga ini berakhir dalam roda bis yang membawaku pulang. Ya pulang bersama senja. Entah seberisik apapun aku dalam satu bis yang sama walau diantara kursi yang berbeda.

Waktu berlalu , segera kami beranjak dari bis sebab tujuan telah mengantarkan kami pulang. Sungguh jika kuingat tentang cerita ceritamu diluar naskah aku tak tau harus berkata apa.

Sampai di titik pagi dimana separuh episode itu gugur. Bebrapa dari kami tak mengiyakan, aku juga tak tau apa yang harus dilakukan. Naskah fajar yang itu terganti. Hingga ku tau ini terlalu mendrama.

Aku berkisah, gugur diantara setengah. Jika saat itu seperti saat ini maka bisa jadi aku teriak “bajigur koe” tapi tidak. Bukan apa apa ini soal persahabatan yang ku bangun dari awal. Aku menghargai betul hingga yang kupilih adalah mundur.

Dari gugurnya episode itu aku memituskan untuk mengumpulkan semua , ya semua barang yang pernah kusimpan. Keletak dalam kotak merah lalu ku titip seorang teman untuk dikembalikan.

Cukup , kukira ini adalah pelajaran berharga. Kusambut pagi pagi berikutnya dengan rasa “pekewuh” . Ya aku tau tau betul atas dasar apa.

Pada akhirnya aku bisa, menjalani hari seperti biasa. Menjadikan mata sebagai neraca , mengukur seberat apa dia membawanya.

Azzam Mujaddid

Separuh Episode yang Gugur #1

Karya Azzam Mujaddid Kategori Catatan Harian dipublikasikan 06 Februari 2017
Ringkasan
Semanis ampyang pake gula merah. Tak Ada ampyang yang tak retak~
Dilihat 13 Kali