Terkadang

Terkadang Terkadang

 

Terkadang…

Tanganku ingin melemparkan segenggam mutiara ke wajah kaum agung itu. Sekuat-kuatnya, sampai lenganku patah. Tak mengapa. Di atas tanah ini, beberapa kaum percaya bahwa kaumnya yang paling pantas menguasai jagad raya sedangkan kaum lainnya hanya untuk dijadikan budak dan tak pantas memiliki harta apalagi tahta. Padahal seluruh negara telah sepakat bahwa penjajahan itu melanggar hak asasi manusia. Memang, detik ini, tak ada lagi penjajahan kuno seperti dahulu kala. Ia membedah wajahnya menjadi lebih tampan dan cantik, hingga penjajahan itu mewujud dalam bentuk utang yang bunganya sampai-sampai harus menjual setengah dari negara. Seakan kaum agung itu memiliki semua sumber daya tuk memuluskan tujuan utamanya menuju tempat yang dijanjikan. Tempat yang agung.

Anehnya, dalam imajiku kau adalah ujung tombak dari kaum agung itu. Imajiku mengkristal dalam kepalaku hingga sangat sulit tuk melepasnya walau sehela napas saja. Sepertinya kristal-kristal itu mengeras karena ocehanmu yang tak pernah henti menancapkan cabang-cabang baru pada imajiku sampai terbentuk pohon salju imaji yang tertulis namamu di batangnya. Aku tak suka pohon itu, jadi, kumohon, diamlah.

Sekarang!

 

Terkadang…

Rasa di hatiku begitu besar tuk sekadar menemuimu atau paling tidak membisik di telingamu namun jasadku mematung seperti patung Liberty yang terpajang di rumah Paman Sam sana. Kata orang-orang, patung itu menyimbolkan kebebasan. Ia membawa obor dan berusaha menyinari tiap napas yang bernaung di sekitarnya agar senantiasa menjunjung kebebasan. Bernapas. Berpikir. Bertindak. Jangan lupakan yang paling utama: Beragama. Sengaja kububuhkan huruf kapital di awal kata, agar kau sadar bahwa tiap jenis kebebasan itu adalah ‘makhluk’ sendiri yang memiliki ruh masing-masing. Jangan pernah membunuh salah satu ‘makhluk’ itu bila tak ingin berurusan dengan ‘pemilik’ ruh.

Apa yang begitu mendesak sampai aku harus menemuimu atau membisik di telingamu?

Banyak hal yang mendesak, tapi yang paling mendesak, aku ingin menyampaikan, “sekali waktu kau harus bercermin. Lihatlah wajahmu pada pantulan bayangan di permukaan cermin. Semoga dengan melihat wajahmu sendiri kau akan sadar betapa kau sangat merasa dirimu adalah segalanya. Poros dunia. Padahal itu hanya khayalmu saja. Kau bukanlah siapa-siapa. Kau hanya seorang yang mengidap penyakit Narsis yang dosisnya melebihi angin puting beliung beberapa hari ini.”

Sadarlah!

 

Terkadang…

Kau mencintai sesuatu padahal hakikatnya kau hanya mencintai dirimu sendiri. Sebab, bila sesuatu itu menjauh darimu atau menghilang dari hadapanmu bukankah kau akan merana? Kau tak mencintai sesuatu itu. Kau hanya khawatir dan sangat bergantung pada sesuatu itu. Artinya, kau hanya mencintai dirimu sendiri. Begitulah sifat para penganut Narsisme, termasuk kau, bukan?

Hari itu sangat terang tak ada awan gelap apalagi hujan. Kau duduk di singgasanamu sembari mengisap cerutu mahal, lalu kau bertitah bagai Zeus, “bangsa dewa berbeda jauh dengan bangsa manusia, oleh karenanya bangunlah tembok pembatas antara langit dan bumi. Agar mereka tak seenaknya terbang ke langit tuk merasakan makanan dan minuman para dewa. Kalian manusia. Kotor.” Titah itu membahana membelah semesta seperti suara guntur di siang bolong. Kau menganggap titah itu akan menghangatkan seluruh bangsa dewa dengan udara kedamaian, namun sayang, justru sebaliknya kau telah menyiram minyak pada percikan-percikan api di sekitarmu dan sebentar lagi istana kemegahan yang bercat putih yang menjadi kebanggaanmu itu akan dilahap oleh kobaran api itu.

Bersembunyilah. Segera!

 

Terkadang…

Tulisanku adalah lukisan hatiku yang kelam seperti nasib bangsa manusia yang dihina Zeus. Bilasaja kami para manusia bersatu maka dewa hanya seperti semut kecil di hadapan kami. Untung saja kami belum pernah bersatu.

Kau beruntung, Zeus.

Saat ini, pada kalimat terakhir kusampaikan pada kalian, bukan hanya untuk kau tapi untuk semuanya. “Terkadang kalian buta dan tuli, tulisan di atas hanya mantra pengantar tidur yang kau dengar dari penyihir jahat berwajah tirus atau mungkin kalian sudah terbuai mimpi?”

______________       

*Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

Dinan

Terkadang

Karya Dinan  Kategori Catatan Harian dipublikasikan 05 Februari 2017
Ringkasan
Terkadang...

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan Dinan ini sangat padat, pedas dan dalam. Padat karena mengandung banyak pesan yang diutarakan cukup singkat. Walhasil, karya ini sarat makna dan cukup berat. Menungkapkan kritik, kegelisahan dan kejenuhan di sana-sini mengenai banyak hal, tentang narsisme manusia, kesombongan anak Adam dan lainnya. Hal yang bersumber dari fenomena terkini. Walau Dinan secara spesifik menyebut Zeus tetapi kita bisa menarik banyak hal dari situ, dimana kritiknya relevan dengan kondisi saat sekarang.

    Penulisan yang ringkas tetapi dalam seperti ini membutuhkan praktek dan perenungan yang tak sebentar. Mengingat Dinan memang cukup konsisten menulis karya seputar agama dan sosial tak heran bila ia terus mengasah kemampuannya yang satu ini. Yang bikin tulisan dia kali ini beda salah satunya aroma kemurkaan dan kejengahan yang bisa tercium dalam karya ini yang luar biasanya disampaikan dalam bahasa yang sopan nan menggigit. Salut, Dinan!

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 bulan yang lalu.
    Keren banget mas Dinan