Menginspirasi dengan Menulis

Menginspirasi dengan Menulis Menginspirasi dengan Menulis

Saat menjalani pengabdian selama satu tahun sebagai guru tugas dari PP. An-Nuqayah Daerah Nirmala di Desa Ketawang Laok, Guluk-Guluk, Sumenep pada periode 2009 - 2010.

Saat itu, aku bertemu dengan Ahmad Muhli Junaedi. Dari lelaki ini diam-diam hobiku menulis yang mulai padam kembali menyala.

Muhli - begitu dia dipanggil dengan senang hati mengoreksi artikel-artikel yang aku tulis. Dia memberikan masukan terkait penyajian ide di paragraf demi paragraf di artikel yang kuminta secara khusus untuk dikoreksi.

Muhli juga rutin jika tak ada halangan menyempatkan diri berkunjung ke kantor tempatku mengajar untuk membaca koran Kompas. Saat itu aku berlangganan koran Harian Kompas.

Dia ikut membaca di beranda Musholla ketika anak-anak menikmati sekolah diniyah di sore hari. Sesekali dia meminjamiku buku-buku yang cukup tebel sekali. Mulai buku filsafat hingga seputar dakwah.

Berkat saran teman-teman di tempat pengabdian itu, aku mulai mengirim tulisan-tulisanku ke Radar Madura, ke Buletin Sidogiri hingga ke Majalah Kuntum.

Dengan pemuatan karya pertama di media koran dan majalah itu, semangatku menulis semakin hari semakin menemui titik terang.

Sehabis mengajar dari pagi hingga sore hari, aku menyediakan waktu menulis di buku khusus. Mirip buku diary tentang pengalaman-pengalamanku sebagai guru, interaksiku dengan masyarakat sekitar hingga sapaan hangat dari tetangga dan teguran dari orang tua agar anak-anak mereka tidak diberikan hafalan yang banyak-banyak.

Kesenangan menulis pun kian menjadi hingga seluruh buku-buku catatanku penuh dengan aneka curhatan dan lintasan pemikiran.

Di kala tidak ada tambahan tugas dari lembaga tempatku mengabdi, aku membiasakan diri membaca buku. Buku-buku materi pelajaran hingga buku motivasi dan renungan-renungan.

Aku juga berlangganan majalah kangguru, yang diproduksi oleh kedutaan besar Australia dan dikirim rutin ke kediamanku rutin setiap bulan.

Jika mengingat masa-masa remaja menjadi guru atau kata anak-anak menjadi ustad, aku tiba-tiba hendak merefleksikan kembali momen itu.

Sebenarnya menjadi guru merupakan kesempatan yang sangat tepat jika dikombinasikan dengan semangat menulis.

Saat seorang guru sebagai tenaga pendidik mengajar serta bisa menginspirasi murid-murid mereka dengan kebiasaan menulis.

Maka lama-lama para murid yang terinspirasi dari guru-guru mereka akan semakin banyak di setiap sekolah.

Pagi mengajar dan di sore hari bisa digunakan untuk menulis. Jika seorang guru adalah pembaca yang baik.

Maka kesempatan untuk menulis semakin potensial dikembangkan terus menerus.

Ternyata kebiasaan yang ditanam selama masa-masa pengabdian itu, diam-diam menjadi jembatan untukku menekuni dunia kepenulisan yang lebih serius ketika menyandang status sebagai mahasiswa.

Tiba-tiba aku teringat ungkapan bijak yang seringkali terdengar sebagai nada teguran untuk para guru.

"Guru yang bisa mengajar cukup banyak. Tapi guru yang mampu menginspirasi murid. Itu masih sedikit"

Bagaimana dengan kalian?

Apakah mampu menjadi guru yang inspiring untuk murid-murid kalian?

 

Fendi Chovi

Menginspirasi dengan Menulis

Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian dipublikasikan 05 Februari 2017
Ringkasan
Menginspirasi dengan menulis. Itu menjadi tantangan untuk seorang guru. Jika dua-duanya bisa dilakukan, maka dia akan menjadi guru yang menginspirasi!
Dilihat 36 Kali