Tentang Kerinduan yang Selalu Mengganggu Akal Sehatku

Tentang Kerinduan yang Selalu Mengganggu Akal Sehatku Tentang Kerinduan yang Selalu Mengganggu Akal Sehatku

Sudah lebih seminggu aku merasakan kerinduan yang begitu menyesakkan. Terkadang aku berpikir wujud mahluk seperti apakah rindu ini. Semalaman aku hanya menangis dengan airmata tak tertahan. Aku bisa menangis karena rindu.

O !

Ada sebuncah perasaan yang mengaliri jiwaku tentang seseorang yang diam-diam kehadirannya sulit kutolak. Aku sendiri begitu sulit melepaskan bentuk kerinduan itu.

Aku ingin memeluknya. Tapi yang dirindukan jauh dari kediamanku. Aku ingin menatap wajahnya, tapi keberadaanku sedang berjarak cukup jauh dengannya.

Eh, dia tidak jauh tapi cukup dekat. Hanya aku yang sungkan menemuinya. Mengetuk pintu kamarnya.

Dengan hadirnya rasa rindu itu, aku menjadi susah untuk tersenyum. Aku kadang jengkel. Aku kadang mengutuki rindu itu. Aku sumpahi agar cepat-cepat pergi.

Bagiku rindu semacam ini bukan rindu yang menyejukkan. Tapi perasaan yang menelantarkan dalam ruang-ruang kesepian.

Aku seperti menemukan dunia tersunyi dalam hatiku. Hatiku ternyata sumber dari segalanya. Dunia yang ramai tiba-tiba menjadi sunyi. Satu-satunya lenteranya adalah sosok yang kurindukan.

Diam-diam aku belajar tentang hati.

Hati adalah ruang yang memberikan arti kepada dunia. Dunia boleh kacau. Tapi jika hatiku damai. Semua akan menjadi damai. Dunia boleh terlihat indah. Tapi jika hatiku risau. Semua terlihat kacau.

Ah ! Rinduku mencumbui seluruh ruang-ruang hatiku. Menjerat akal sehatku.

Pada titik seperti inilah, aku mencoba menghadirkan akal sehat dan segala jenis perjumpaan dengan jenis-jenis kesadaran yang membuatku belajar tentang kebahagiaan.

Yogyakarta, 4 Februari 2017

Fendi Chovi

Tentang Kerinduan yang Selalu Mengganggu Akal Sehatku

Karya Fendi Chovi Kategori Renungan dipublikasikan 04 Februari 2017
Ringkasan
Terkadang rindu itu serupa bisikan yang susah dimengerti
Dilihat 11 Kali