Menjadi lemah mengenangmu

Menjadi lemah mengenangmu Menjadi lemah mengenangmu

Aku berubah debu. Tak lagi gunung yang gagah menjulang tinggi seperti dulu, seperti saat masih kau kagumi.

Apa seharusnya kita tak perlu saling mengenal? Supaya kita tidak saling tahu keburukkan masing-masing dari kita. Jika memang mengenal keburukkan hanya akan mengecewakan. Ataukah kita harus saling mengenal lalu berusaha memahami keburukkan masing-masing? Dalam hubungan apapun memang akan selalu ada masa saling mengecewakan. Aku harusnya bisa memahami itu. Bukannya malah menjadikan itu sebagai alasan menutup diri dari hubungan, setelah perpisahan denganmu.

Dalam prasangka kita, dunia berubah menjadi tak adil tatkala keinginan tak terpenuhi. Semesta seolah tak adil, tega membuat kita menderita. Bagaimana mungkin kisah cinta kita berakhir tragis. Bagaimana mungkin orang lain bisa, tapi kita tidak bisa. Mereka penuh keberuntungan, kita penuh kesialan. Mereka tampak selalu mudah, kita selalu sulit. Seperti itulah anggapan burukku terhadap ketidak-adilan Semesta yang diturunkan pada kita. Ya, kita memang tidak akan pernah menemukan keadilan dalam prasangka buruk. Kita hanya akan melihat ketidak-adilan demi ketidak-adilan. Keadilan merupakan jelmaan dari penerimaan yang lapang. Penerimaan yang sama dari semua unsur.

Kenangan tentangmu selalu saja muncul. Menyaksikan senyummu dari jauh, sudah sangat membahagiakan. Apalagi jika menikmati tepat di hadapanmu. Ah, mungkin itu tidak perlu. Aku tak perlu hadir di hadapanmu, pun dalam kehidupanmu. Senyum memang merupakan sebuah kecantikan tersendiri. Sejelek apapun fisiknya. Sepanjang senyumannya lebar, lebih lama, tulus, ikhlas, penuh kasih, penuh penghormatan, didukung dengan raut muka yang berbinar, gembira, dan bersemu merah. Sungguh itulah kecantikan yang sebenarnya.

Aku juga masih ingat kala itu. Saat aku dan kamu berlari di tengah gerimis, lalu merapat ke emperan toko. Kita terjebak hujan deras selama satu jam. Tampias hujan membasahi separuh badan kita. Kamu melipat tangan, menggigil kedinginan. Kita sama-sama memakai sepotong kaos tanpa jaket. Saking tak teganya aku melihat wajah bekumu, aku menawarkan pelukan untukmu. Kau mengangguk lemah.

Sungguh aku tak pernah melakukan pelukan kepada gadis mana pun, hanya kepadamu seorang, sejak saat itu hingga kini, selama kesendirianku, aku menunggumu dan merindukanmu. Berharap hanya kamulah yang akan memiliki pelukanku selamanya. Dan selama itu pulalah aku menjaga pelukanku agar tetap bersih dari badan manapun. Karena sejak sore itu pelukanku telah menjadi milikmu.

Aku selalu menjadi lemah mengenangmu. Menangis tanpa air mata. Jika ada yang bilang laki-laki tak boleh menangis, aku tak menghiraukan. Jika ada yang bilang menangis adalah tanda kelemahan, aku tak peduli. Bagiku menangis adalah cara mengeluarkan segala kerinduan, cara meluapkan segala gundah, untuk meringankan segala beban yang menjejal hati. Siapa bilang laki-laki tak pernah menangis. Sebagai lelaki aku mungkin yang paling banyak menangis dibandingkan para perempuan yang dikatakan cengeng sekalipun.

Meskipun sudah barang tentu menangis dalam kesendirian. Bukan di hadapan umum. Bagiku menangis bukanlah hanya milik para perempuan. Laki-laki juga berhak menangis. Untuk kemudian bangkit dengan gagah. Mengarungi hambatan demi hambatan. Menyelami masalah demi masalah kehidupan yang memang tak selalu mudah. Tanpamu, semoga aku tetap bisa tegar, tidak hancur di tengah jalan.

Puncak dari rasa cinta adalah mengikhlaskan. Mengikhlaskan jika yang dicinta direnggut dari genggaman. Mengikhlaskan jika diri ini direnggut dari genggaman yang kita suka. Mengikhlaskan berakhirnya kenikmatan dari rasa cinta-mencintai. Mengikhlaskan semua keindahan berakhir. Mengikhlaskan segala perubahan. Menerimanya dengan lapang. Lalu bersabar dalam menjalani kehidupan selanjutnya yang tak menggairahkan seperti dulu.

Kehidupan memang senantiasa bergejolak. Tak pernah stabil. Kehidupan juga senantiasa bergerak. Bergerak memenuhi keinginannya, tujuannya, tanggung-jawabnya, tuntutannya. Kelahiran, pertumbuhan dan kematian senantiasa berjalan sebagaimana sistemnya. Waktu seperti ruang yang maha luas. Bisa menampung berbagai peristiwa. Dari masa lampau ribuan tahun, hingga kini dan entah sampai kapan lagi. Kehidupan satu anak manusia lahir, tumbuh dengan berbagai prahara, kemudian mati. Digantikan anak manusia lainnya. Begitu terus. Zaman pun berganti. Kehidupan seolah tak pernah selesai. Bergulir dan berganti-ganti. Aku seperti bukan siapa-siapa di antara semua kenyataan kehidupan ini.

Waktu merupakan kesempatan. Waktu hidup adalah pemberian yang terbatas. Yakni dibatasi titik selesai yang tidak kita tahu kapan. Pemberian yang terbatas itu berisi kesempatan-kesempatan. Semakin waktu berlalu, semakin berkuranglah kesempatan-kesempatan yang ada di dalamnya. Semakin berkurang, semakinlah mendekati kebinasaan. Kebinasaan jasad, pengetahuan dan segala kemampuan kemanusiawian. Termasuk kemampuan istimewa itu; kemampuan mengenang. Mengenang hal-hal indah dan hal-hal penuh haru.

Aku tak melepasmu seperti menjatuhkan apel ke dasar jurang; membiarkanmu hancur tak berguna. Aku melepasmu seperti melepas merpati dari genggaman. Membiarkanmu terbang bebas. Silakan temui hidup terbaikmu. Aku orang yang paling menginginkan bahagiamu. Sebab bahagiamu menghubungkan bahagiaku. Tak mungkin aku membiarkan kecewamu. Itulah mengapa aku memutuskan melepasmu. Agar kamu dapat menemui kebahagiaan terbaikmu.

 

Aha Anwar

Menjadi lemah mengenangmu

Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian dipublikasikan 04 Februari 2017
Ringkasan
Aku berubah debu. Tak lagi gunung yang gagah menjulang tinggi seperti dulu, saat saat masih kau kagumi.
Dilihat 34 Kali