Saat Kita tak Harus Sama Persis dengan Apa yang Dikagumi

Saat Kita tak Harus Sama Persis dengan Apa yang Dikagumi Saat Kita tak Harus Sama Persis dengan Apa yang Dikagumi

Saat menikmati obrolan ringan dengan sejumlah penulis yang sama-sama berproses untuk menjadi lebih baik. Aku seringkali mengajukan pertanyaan begini, apa yang harus kita lakukan agar sama hebatnya dengan sosok penulis yang kita kagumi?

Nah, alih-alih mendapatkan jawaban seperti yang aku tanyakan, malah jawabannya hanya guyonan. Kamu tak harus sama persis dengan apa yang kamu kagumi.

Setiap dari kita memiliki keunikan. Meskipun kita mencoba meniru siapapun yang kita kagumi. Pasti tak akan seratus persen sama.

Kata mereka, dalam menulis pun berlaku hukum yang sama. Kita boleh mengagumi siapapun, tapi tak akan sama persisnya jika kita mencoba meniru yang kita kagumi itu.

Sebab, hanya ada satu orang yang jago dibidang dan gaya yang mereka tuliskan. Yang meniru bulat-bulat selain dinilai sebagai pengekor, juga rentan dianggap kurang kreatif.

Setiap dari kita memiliki akal dan hati. Akal dan hati akan memberikan pemaknaan berbeda dari apa yang kita rasakan. Jika kita tetap ngotot meniru sosok lain, yang mungkin saja namanya dinilai sangat berwibawa maka selamanya kita pun akan sulit sama persisnya dengan orang itu.

Akhirnya, pertanyaanku dijawab dengan jawaban seperti ini :

Jika kamu ingin sama hebatnya, lakukan saja apa yang mereka lakukan. Jika setiap hari mereka membaca 1 buku dan menulis 3000 kata. Lakukan itu.

Tapi, tak haruslah kita hendak meniru-niru dan jika tak piawai menciptakan penemuan baru. Lama-lama diri kita akan terjebak pengekoran.

Jika kamu hendak menulis, menulislah saja. Menulislah sesuatu yang membuat diri kita lebih enjoy menjalaninya.

Kita hanya dianjurkan membaca karya-karya orang yang kita kagumi. Lalu, kita mengamati, meniru dan memodifikasi sesuai dengan gaya kita sendiri.

Dengan cara seperti itu, kita berkesempatan menghebatkan diri dengan penemuan-penemuan baru dalam menyampaikan sebuah gagasan ala diri kita sendiri.

Hal yang harus kita ingat adalah, sebesar apapun rasa kagum kita kepada seseorang. Ingatlah bahwa diri kita tak harus sama persis dengan apa yang dikagumi.

Sebab, setiap dari kita dilahirkan dengan pengalaman berbeda, pertemuan berbeda dengan banyak momen di sekitar.

Jika masih ngotot ingin sama dengan mereka. Bayangkan saja. Jika terus menerus kita meniru apa-apa yang dilakukan sosok yang dikagumi. Perilaku kita pun tidak orisinal nantinya, dibuat-buat dan terjebak dengan sesuatu yang sebenarnya bukan diri kita yang sesungguhnya.

Ngga enjoy, kan?

 

Fendi Chovi

Saat Kita tak Harus Sama Persis dengan Apa yang Dikagumi

Karya Fendi Chovi Kategori Renungan dipublikasikan 04 Februari 2017
Ringkasan
SAAT kita mencoba menulis sama persis dengan sosok yang dikagumi, apa yang harus dilakukan? Apa ini tindakan yang benar?
Dilihat 17 Kali