Segera Terbit, Angan Senja dan Senyum Pagi: Sebuah Novel Fahd Pahdepie

Segera Terbit, Angan Senja dan Senyum Pagi: Sebuah Novel Fahd Pahdepie Segera Terbit, Angan Senja dan Senyum Pagi: Sebuah Novel Fahd Pahdepie

Jika Anda mengikuti karya-karya saya, Anda akan tahu bahwa hampir seluruh buku saya yang diterbitkan selalu bermula dari tulisan-tulisan lepas di media sosial atau blog. Meskipun itu sebuah novel, biasanya saya sudah mempublikasikan beberapa bagian di dalamnya di akun-akun media sosial yang saya miliki. Meski merupakan sebuah bagian yang berbeda, yang kelak akan menemukan bentuk baru atau keutuhannya saat dijumpai di format buku.

Itulah proses kreatif saya selama ini. Untuk semua tulisan, saya begitu memerhatikan respons semua pembaca. Apakah karya itu disukai atau tidak, apa yang kurang, apa yang perlu diperbaiki, dan seterusnya. Dan hanya karya-karya yang sudah ‘lolos’ filter pembaca di media sosial-lah yang kelak akan saya racik untuk menjadi karya utuh dalam sebuah buku. 

Kali ini saya mencoba sesuatu yang baru: Saya menulis sebuah novel yang sama sekali belum pernah saya bocorkan sedikit saja bagian di dalamnya. Novel itu saya beri judul Angan Senja dan Senyum Pagi. Akan diterbitkan oleh Falcon Publishing Februari mendatang.

Bukan hanya proses kreatifnya berbeda, cara saya bercerita dalam novel ini juga berbeda. Jika dalam novel-novel sebelumnya saya kerap menggunakan teknik bercerita dengan menggunakan kata ganti orang kedua – kau – di mana saya berbicara kepada pembaca yang diperlakukan sebagai tokoh dalam cerita. Kali ini saya menggunakan cara bercerita yang lebih konvensional. Saya menggunakan kata ganti orang ketiga. Di novel ini, saya hanya ingin bercerita, menyampaikan kisah Angan dan Pagi kepada pembaca, sekaligus berperan sebagai pengarang yang serbatahu.

Novel ini saya tulis dalam waktu kurang dari dua bulan saja dan bagian akhirnya saya selesaikan ketika berada di Madinah, Saudi Arabia. Proses membangun cerita, plot, sub-plot, karakter, dan lainnya memang memerlukan waktu lebih lama. Sekitar enam bulan. Jadi, jika proses riset dan pengembangan cerita ini dianggap sebagai bagian dari saya menuliskannya, secara keseluruhan bisa dikatakan novel ini saya selesaikan dalam waktu kurang lebih delapan sampai sembilan bulan. Ini terhitung buku yang paling lama saya kerjakan. Seperti mengandung saja. 

Hal yang membuat saya bersemangat menyelesaikan novel ini adalah ceritanya. Saya menyusun kisah cinta antara Angan dan Pagi ini dengan perasaan yang bercampur-campur. Naik turun. Dengan ritme yang juga berubah-ubah. Kadang saya merasa bahagia, kadang sedih, kadang galau, bahkan saya menuliskan beberapa bagian dalam buku ini sambil menangis… Saya sering terbawa oleh dunia Angan dan Pagi. Mungkin ini pertama kalinya saya menulis dengan cara seperti ini.

Tema utama yang diceritakan dalam novel ini adalah sebuah kisah cinta yang dewasa di antara Angan, laki-laki single berusia 35 tahun yang tak bisa melupakan apapun yang terlanjur masuk ke inti memorinya, dan Pagi, janda berusia 36 tahun yang terlalu sering dikecewakan laki-laki dan belum siap untuk jatuh cinta lagi. Saya memainkan wacana mengenai musik, matematika, waktu, kenangan, dan sederhana-namun-rumitnya perasaan manusia. Mudah-mudahan kisah ini bisa dinikmati sebagai romance yang make sense untuk semua generasi—dari mulai mereka yang baru merasakan cinta monyet, hingga mereka yang merasa bahwa cinta pada kenyataannya memang tak seindah yang diceritakan film-film India.

Di novel ini saya juga melakukan eksperimen karakter. Saya mencoba menciptakan karakter-karakter dengan keunikannya masing-masing, yang ketika diramu dalam sebuah cerita menemukan momen dilemanya sendiri. Semacam good vs good, bukan good vs bad. Untuk menamai mereka, saya juga menghindari nama-nama yang terkesan asing dan ‘nggak Indonesia banget’. Terinspirasi dari dua teman saya yang menamai anak mereka dengan unik, Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca, yang menamai anaknya Angan Senja dan Ika Krismantari, Jurnalis The Jakarta Post, yang menamai anaknya Senyum Pagi. Saya meminta izin kepada mereka berdua untuk menjadikan nama-nama anak mereka sebagai nama karakter utama dalam novel ini, syukurlah mereka setuju dan senang. 

Untuk karakter-karakter lainnya, saya juga memberi nama yang menggunakan kosakata Indonesia. Misalnya nama-nama yang merupakan sesuatu yang memiliki unsur cahaya: Bara, Pancar, Nyala. Atau nama-nama yang diambil dari cara manusia Indonesia menandai waktu: Hari, Dini, Fajar. Juga nama-nama lainnya.

Novel ini mungkin akan menjadi salah satu novel saya yang paling berbeda. Novel di mana saya memposisikan diri sebagai seorang pencerita (storyteller) seutuhnya tanpa pretensi untuk membawa pesan moral apapun—sebab saya percaya bahwa sebuah cerita akan memiliki hikmah dan kebaikannya sendiri-sendiri. Melalui novel ini, mungkin saya juga seperti memancangkan sebuah bendera, bahwa saya akan menulis tema-tema romance semacam ini di masa depan.

Akhirnya, novel ini akan diterbitkan oleh Falcon Publishing – sebuah lini penerbitan dari Falcon Pictures. Ia direncanakan terbit sekitar 10 Februari 2017, diawali dengan masa preorder untuk edisi buku bertandatangan dan diskon yang akan dimulai akhir pekan ini. Untuk teman-teman pembaca yang tertarik melakukan pre-order, silakan menunggu pengumuman selanjutnya. Untuk rekan-rekan toko buku dan toko buku online, silakan hubungi Falcon Publishing atau tinggalkan kontak Anda di kolom komentar.

Sampai jumpa di kisah antara Angan Senja dan Senyum Pagi.

 

Salam baik,

FAHD PAHDEPIE

Fahd Pahdepie

Segera Terbit, Angan Senja dan Senyum Pagi: Sebuah Novel Fahd Pahdepie

Karya Fahd Pahdepie Kategori Proses Kreatif dipublikasikan 11 Januari 2017
Ringkasan
Novel ini akan diterbitkan oleh Falcon Publishing – sebuah lini penerbitan dari Falcon Pictures. Ia direncanakan terbit sekitar 10 Februari 2017, diawali dengan masa preorder untuk edisi buku bertandatangan dan diskon yang akan dimulai akhir pekan ini.