DONGENG TUA

DONGENG TUA DONGENG TUA

Berterima kasihlah kepada segala yang memberi kehidupan, bisikmu. Aku menengok, tak mengerti apa maksudmu. 

 Kau tahu sebuah dongeng yang sudah hampir dilupa? Kau bertanya lagi, di tengah bising keterburu-buruan. Di antara riung ketergesaan yang tak bisa selesai. 

Aku menengokmu lama. Kau menanyakan hal yang absurd, tentang dongeng. Sudah berapa lama kita tak sempat mendengar tentang dongeng? Sudah berapa jeda tidak kita habiskan hanya untuk mendengar cerita-cerita utopis?

Dongeng ini tak sepenuhnya dongeng, ia dulu benar-benar nyata, katamu lagi. Langkah-langkah kaki membawa lupa. Orang-orang bahkan tak lagi mengenal lama. Dan, kau masih bicara tentang dongeng yang nyata? Betapa naifnya, pikirku.

Suatu masa, mulaimu, dan aku mau tak mau membuang waktu, menunggu lanjutan ceritamu.

Manusia dulu hidup dalam musim yang penuh warna. Ada merah, kuning, dan jingga. Kau memulai bualanmu. Kau tahu, dalam cerita-cerita kuno itu, manusia juga berlimpah air, langit biru, dan angin yang ramah. Kau menggigil lagi. Aku masih menunggumu menyelesaikan cerita.

Lalu, manusia-manusia itu durhaka. Mereka mengeluhkan apa saja, langit cerah mereka keluhkan, matahari hangat mereka kutuk, angin bersiur mereka maki. Tak cukup itu, manusia-manusia durhaka membakar hutan, menambal sungai, membuat musim tak lagi berani mencoba.

Lalu, kau tahu apa yang terjadi pada manusia-manusia durhaka? Tanpa sadar, aku menggeleng. Mereka semua kini hidup di bawah langit yang tak berwarna, angin yang murka, air yang hanya tinggal cerita.

Manusia-manusia durhaka, yang tak pernah belajar berterima kasih, bisikmu.

Lalu, kereta cepat bergerak lagi. Penumpang turun, penumpang pergi. Kali ini, aku juga akan turun. Aku melirikmu lagi. Seorang bapak tua yang matanya tak bisa melihat. Dongeng apa yang tadi ia kisahkan?

Mungkinkah ia dikirim dari masa depan?

Ah, tak mau ambil pusing, aku bersiap turun. Kembali bergabung dan larut dalam ketergesaan.

 

gita romadhona

DONGENG TUA

Karya gita romadhona Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 15 Oktober 2016
Ringkasan
Sudah berapa lama kita tak sempat mendengar tentang dongeng? Sudah berapa jeda tidak kita habiskan hanya untuk mendengar cerita-cerita utopis?