Belajar Beragama dengan Menunduk

Belajar Beragama dengan Menunduk Belajar Beragama dengan Menunduk

Tatkala saya berusia enam tahun, orangtua saya memasukkan saya ke sebuah TPA-Taman Pendidikan Al-Qur’an-di desa kami tinggal. Di sana, selama dua tahun lebih saya belajar mengaji kepada seorang laki-laki. Saya dan teman-teman memanggilnya Tok Alang. “Tok” dari “Datok” atau datuk, karena ia sangat tua. Ia Melayu, tentu saja, dan bertubuh ceking.

Saat itu Tok Alang barangkali sudah berusia nyaris kepala tujuh. Ia terkenal di seantero desa sebagai guru mengaji killer-kerap melecut punggung tangan murid yang keliru melafalkan tajwid-tapi justru dari guru itu saya mendapat pelajaran penting dalam beragama dan belakangan, sebagai manusia.

Saya belajar sesuatu darinya perihal menunduk.

Suatu sore tatkala kami salat asar bersama, Tok Alang melakukan sesuatu yang membuat saya gelisah. Ia sujud terlalu lama. Saking bosannya, saya sampai main tendang-tendangan dengan teman-teman di kiri-kanan, dalam saf yang sama.

Ada sekira satu menit lebih ia tidak bangun-bangun dari sujudnya.

Bagi saya dan teman-teman, sujud Tok Alang itu menyebalkan. Setelah asar selesai, saya tidak tahan untuk bertanya ke Tok Alang.

Saya menghampirinya yang tengah menyiapkan “tongkat sakti”-batang bambu tipis yang dipakai sebagai penunjuk mengaji-dan melontarkan Tanya,“Tok, kenapa tadi sujudnya lama betul? Capek.”

Tok Alang sama sekali tidak tampak kesal. Ia malah tersenyum dan memanggil murid-muridnya berkumpul. Kami duduk bersila membentuk satu saf kecil di hadapannya. Lalu, ia mulai menjelaskan. “Kalau mau berdoa, doalah waktu salat pas sujud terakhir. Makin lama sujudmu, makin banyak kesempatanmu berdoa.”

Tok Alang melanjutkan, ketika bersujud, kita berada dalam posisi terdekat pada Allah. Karena sujud adalah posisi tatkala kita benar-benar merendahkan serta menundukkan diri di hadapan-Nya. “Muslim” artinya berserah diri pada Allah, atau menundukkan segala kehendak kepada Allah. Posisi sujud menunjukkan hal tersebut.

Saya dan teman-teman yang lain manggut-manggut saja. Semenjak itu kami tidak pernah protes kalau Tok Alang mengimami salat asar dan sujud sangat lama.

*

Dua puluh tahun setelah kali pertama mengenal Tok Alang, pada suatu sore yang adem di teras indekos, saya menggulir layar ponsel, membaca ribut-ribut orang di media sosial. Dalam era banjir bah informasi, orang-orang selalu menemukan hal untuk diributkan. Seusai menyimak sebentar, saya baru menangkap ternyata yang sedang diributkan adalah sebuah kasus pelecehan seksual yang belum lama itu terjadi, serta sebuah kampanye anti-pemerkosaan.

Salah satunya digaungkan melalui seruan: “Don’t teach women how to dress, teach the rapist not to rape!”Seketika ingatan saya terlontar jauh ke belakang, kembali kepada Tok Alang.

Setiap kali selesai sesi belajar mengaji, Tok Alang senantiasa bercerita kepada kami tentang kisah-kisah nabi. Kisah Nabi Yusuf, Nabi Sulaiman, Nabi Nuh, Nabi Luth, sampai tentu saja Nabi Muhammad. Saya teringat sebuah kisah yang tidak bisa saya ingat siapa nama nabinya. Tetapi, begini kisah itu:

Syahdan, seorang nabi berjalan-jalan di pasar bersama anak laki-lakinya. Ketika mereka melintasi pedagang sayur-mayur, terlihat seorang perempuan alangkah cantik berjalan ke arah mereka. Terdorong naluri alamiah, si anak menoleh. Kala menyadari apa yang mencuri perhatian anaknya, sang ayah menutup wajah anak dan memaksanya berpaling. Ketika perempuan itu telah jauh, sang ayah berkata kepada anaknya dengan lembut,“Kalau kau melihat perempuan yang bukan muhrimmu, tundukkanlah pandanganmu.”

Sang nabi tidak berteriak ke perempuan tadi agar mengganti pakaiannya, tetapi mengajarkan anaknya untuk memalingkan pandangan-menunduk.

*

Selama ini, saya mengira menunduk adalah sikap tanda bahwa saya malu, tidak mampu, dan rendah diri. Menunduk artinya tidak percaya diri. Menunduk adalah sikap tubuh yang haram dipakai saat bertemu rekan kerja atau orang-orang lain, sebab memperlihatkan kelemahan dan ketidakmampuan.

Pesan-pesan motivasi di Internet berkata: Angkat dagu, hadapi hidup dengan berani, tantanglah dunia! Barangkali karena itu banyak orang yang gemar menengadah, tidak hanya dalam usaha membuktikan sikap percaya diri, tetapi juga menyiratkan keangkuhan yang tidak disadari. Bahkan, berdoa pun diajarkan untuk menengadah, seolah-olah Tuhan hanya berada di atas kita.

Omong-omong soal berdoa, entah mengapa saya merasa lebih puas kalau berdoa sambil menunduk. Saya merasa Allah tidak berada di luar-melayang-layang di ketinggian langit bagai dewa-dewa dalam film-film fantasi-melainkan bermukim di ruang terdalam di dada manusia. Itu sebab saya lebih nyaman berdoa sembari menunduk, berusaha melihat ke dalam dada saya sendiri, masih adakah Tuhan di sana?

Saya senang menunduk. Saya sedang belajar bagaimana menjadi muslim yang baik; yang menundukkan kehendaknya di hadapan Allah, yang menunduk saat melihat apa yang tidak sebaiknya dilihat, yang menunduk saat memberi pesan ke saudaranya dan bukan menengadah sembari berteriak-teriak.

Saya kira, kita lebih butuh manusia yang menunduk dan “tidak percaya diri” pada agamanya dan dengan begitu mencari lebih banyak pengetahuan dan belajar lebih jauh lagi, ketimbang manusia yang kelewat percaya diri sehingga ia memaksakan terhadap orang lain apa yang ia yakini dan menolak pesan-pesan orang lain yang berbeda pandangan dengannya.

Sekarang, Tok Alang sudah berada di surga, semoga. Namun, memori tentangnya membuat saya ingin bisa terus belajar bagaimana caranya beragama dengan menunduk, serta menjadi manusia yang gemar menunduk. []

Tulisan ini dimuat kali pertama di Islami.co

Bernard Batubara

Belajar Beragama dengan Menunduk

Karya Bernard Batubara Kategori Agama dipublikasikan 08 Agustus 2016
Ringkasan
Kenangan bersama guru mengaji sewaktu kecil.