di taman--suatu hari

di taman--suatu hari di taman--suatu hari

Seperti apa rasanya menikmati duduk di taman, bersimbah matahari? Bercakap-cakap dengan kekasih tentang warna mimpi semalam? Atau sekadar berbagi semangkuk es krim lumer?

Seperti….

Nara mematikan layar laptopnya. Alih-alih menyelesaikan artikel tentang Prameswari—artis yang menggugat cerai suaminya—ia malah asyik menulis blog pribadinya. Blog yang sudah hampir empat tahun tak sempat terisi.

Para selebritas itu seperti tak pernah beristirahat. Mereka menjalin cinta, menikah, punya bayi, lalu bercerai. Awalnya, Nara menikmati menceritakan kisah hidup para pesohor itu. Kadang, ia diminta menambahi bumbu di sana-sini. “Agar bercita rasa beritamu,” ujar bosnya.

Dari waktu ke waktu, Nara semakin merasa diburu-buru. Kadang, ia harus rela bertingkah seperti mata-mata mengikuti selebritas yang menjadi targetnya.

Ia bahkan hanya sempat mandi sebentar di apartemennya, lalu diburu lagi untuk mengejar gosip terkini. Seminggu lalu, Nara akhirnya merasa cukup. Maka, ia mengajukan resign pada atasannya.

Tentu saja, Mba Winni, atasannya tak rela ia resign begitu saja. Nara adalah jurnalis terbaik di majalah mereka. Ia mampu memasukkan emosi ke tiap artikel yang ia tulis. Maka, Nara pun diberi cuti panjang, yang mungkin bisa membuatnya berpikir ulang dengan matang.

Ini hari ketiga setelah ia tak masuk kantor lagi. Masih ada dua tulisan yang harus dia rampungkan. Namun, otaknya sedang tak bisa diajak bekerja sama.

Diambilnya jaket dari balik pintu, lalu ia memutuskan keluar apartemen. Ke taman, aku akan duduk di taman, batin Nara.

Taman itu tak jauh dari gedung apartemennya. Ada beberapa bangku di dekat pohon besar. Di tengah, ada tempat bermain untuk anak-anak. Beberapa ibu (mungkin pengasuh) menemani anak-anaknya bermain.

Nara berjalan menuju bangku taman. Seorang laki-laki tengah duduk membaca buku. Saat nara duduk di sampingnya, laki-laki itu bergeming.
“Dongeng Cinta para Paria” begitu nara membaca judul buku si laki-laki.

“Chekov, ya,” tanya Nara. Ia tahu buku itu, saat masih kuliah, ia juga senang mengoleksi buku-buku si pengarang.
“Hmm…” laki-laki itu akhirnya menoleh. “Ya, kamu juga pembaca Chekov?” tanyanya.
“Dulu,” jawab Nara sambil tersenyum. Beginilah hidup seharusnya. Bercakap-cakap tentang buku yang kau suka. Tidak bicara berita dusta. Tidak pula dengan kalimat berbunga-bunga.

“Chekov memang mengagumkan. Dia bisa saja bertutur manis, padahal menceritakan hal yang miris. Cerita-ceritanya selalu berhasil menampar pembacanya.” Laki-laki asing di bangku taman itu seolah terpancing bercerita.

Nara terpukau. Laki-laki yang mencintai apa yang ia baca biasanya selalu punya banyak cara untuk menjadi bahagia. Ah, entah dari mana teori itu. Teori mengada-ada yang timbul karena senyum laki-laki asing di sebelahnya. Senyum minimalis, tetapi adiktif.
Membuat Nara ingin melihatnya lagi dan lagi.

“Aku punya beberapa, Pengakuan juga Kamar Inap Nomor 6.” Nara mengingat-ingat ada di mana buku-bukunya itu.

Lalu, Chekov membuat ia dan laki-laki asing di taman mengobrol dengan seru. Macam dua teman dari masa lalu. Atau, mungkin kekasih?

Ah, Nara tersenyum malu memikirkan harap hatinya itu.
Sambil mendengarkan laki-laki itu bicara, Nara merencanakan banyak hal. Mereka akan bertukar telepon. Berjanji temu lagi di sini.
Mana tahu dalam sebulan ke depan, mereka sudah berpegangan tangan.
Berbagi semangkuk es krim yang lumer….

“Papa….” Seorang anak laki-laki kecil usia tiga tahun menabrak laki-laki asing di bangku taman.

“Hai, Deo, sudah puas bermain?” Laki-laki itu memeluk bocah laki-laki.

Nara tergugu. Balon-balon warna-warni di kepalanya pecah satu-satu. Ah, bodohnya aku, batinnya mangu.

Tentu saja, bertemu cinta tak semudah dalam cerita-cerita.

Laki-laki asing di bangku taman bangkit. “Terima kasih untuk obrolannya, gadis pintar,” pamitnya dengan senyum yang sama.

Nara balas tersenyum. Esok, ia akan ke taman lagi. Mana tahu ia bisa bertemu laki-laki lain. Mungkin, ia akan bertemu pembaca Kafka?
Kali itu, semoga tak ada bocah yang memangilnya papa.

---repost dari gitaromadhona.tumblr.com

 

sumber gambar dari sini

gita romadhona

di taman--suatu hari

Karya gita romadhona Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 23 Mei 2016
Ringkasan
Seperti apa rasanya menikmati duduk di taman, bersimbah matahari? Bercakap-cakap dengan kekasih tentang warna mimpi semalam? Atau sekadar berbagi semangkuk es krim lumer?