Perempuan yang Mengikat Senja di Tangannya

Perempuan yang Mengikat Senja di Tangannya Perempuan yang Mengikat Senja di Tangannya

Mbah Uti Parman, begitu orang-orang memanggilnya. Padahal, namanya adalah Saliha. Mungkin, tak ada yang mengingatnya kini, karena bayang-bayang suami jauh lebih mendominasi ingatan orang-orang desa ketimbang bayangnya sendiri. 

Mbah Uti Parman, dulu adalah seorang gadis yang bersemangat. Meski tumbuh di keluarga biasa saja di daerah dingin Wonosobo, ia memiliki banyak mimpi yang selalu menghangatkannya setiap waktu. Ia ingin meraup banyak hal, ilmu, pengalaman hidup, cinta, juga menjejakkan langkah-langkah. 

Maka, ia pun memaksa bersekolah di sebuah sekolah pendidikan perawat. Di zamannya, tujuh puluh tahun silam, sekolah itu adalah hal mewah–yang jarang dimimpikan gadis-gadis sebayanya. Namun, dengan segala bujuk, akhirnya ayahnya mau menjual sepetak sawah milik keluarga. Maka, Mbah Uti Parman pun lulus dengan bangga.

Bekerja di sebuah rumah sakit pemerintah, Mbah Uti Parman–kala itu– mampu membuat seluruh kampung memandang keluarga mereka dengan tatap yang jauh lebih ramah. Lalu, ia bertemu laki-laki itu. Laki-laki yang membuatnya tergeragap saat bicara, tergugu karena merasa rindu. Laki-laki yang mendominasi pikirannya, bahkan kini namanya. Parman. Seorang guru SD di dekat rumah sakit tempat ia bekerja. Mereka pun jatuh cinta. Lalu, tak lama, mereka menggenapkan bahagia, menjalani hidup bersama-sama.

Waktu seperti lalat yang terbang tak peduli arah. Lima putra-putrinya seolah tiba-tiba ikut tumbuh dalam kisah. Dan, suaminya mendapat promosi jabatan menjadi kepala sekolah di sebuah desa, Purwokerto. Ah, hidup memang sering menjebak kita dalam ironi. Saat seharusnya bahagia yang ia eja, ia pun harus meninggalkan dunia kerjanya. Pamit karena putra-putrinya membutuhkan ibu mereka di rumah. Lagi pula, terlalu jauh jarak yang ia tempuh jika tetap memaksa bekerja. Maka, pamitlah ia, pada dunia kerjanya–mimpi yang ditumbuhkannya dengan susah payah–, juga pada keluarganya. Suami dan anak-anak adalah jejak yang akan ia ikuti sekaligus yang akan selalu diterakannya sejak kini. 

Ia menyimpan kecewa. Menyurukkan jauh-jauh sesal, meski tetap menyeruak sesekali.  Ini semua untuk masa depan anak-anak mereka, begitu terus hiburnya untuk hatinya sendiri. 

Berbilang tahun, pohon mangga yang mereka tanam di samping rumah sudah beberapa kali berbuah. Putri tertua mereka kini telah menjadi guru, dan dinas di Ibu Kota. Sementara putri keduanya ikut pula menjadi guru, dan bertugas beberapa ratus kilo dari rumah mereka. Putra ketiganya mendapat lowongan di kantor lurah, sementara putri bungsu kecilnya telah dibawa suaminya ke Ibu Kota pula.

Rumah besar di desa kini sering penuh berisi sepi. Ia dan suaminya–yang sudah pensiun–semakin menua. sesekali mereka berbagi cerita mengisi kosong dalam jeda. hanya suaminya yang ia punya dalam banyak waktu yang terlalu kosong baginya.  

Hingga hari itu datang, saat sang suami harus pamit “pulang” duluan. Ia kembali tergugu–kali ini bukan karena rindu, tetapi karena terlalu banyak merasa pilu. Hari itu, semua anak dan cucunya pulang. Ia sedikit terhibur, seolah ramai tiba-tiba menjadi sahabat lagi dalam hidupnya yang sepi. Melihat cucunya tertawa, terasa lega dadanya yang masih terluka.

Namun, anak-anaknya toh sudah mempunyai kisah mereka sendiri. Mereka tak lagi mengikuti alur miliknya. Rumah kembali lengang, saat satu per satu anak-anaknya pulang.

Mbah Uti Parman begitu orang-orang menyebutnya.  Padahal,  namanya adalah Saliha. Laki-laki yang mendominasi hidup, mimpi, cinta, bahkan namanya itu kini meninggalkannya sendiri.

Tak ada lagi tempat ia berbagi. Sepi terlalu sering bersamanya kini.

8l

 

*Mbah Uti Parman berpulang Juni 2015, kini setiap mengunjungi rumah di sana, kamilah yang bertemu sepi. 

Selalu senang di sana, Mbah Uti. Semoga kelak kita bertemu lagi dalam surga-Nya. Amin

gita romadhona

Perempuan yang Mengikat Senja di Tangannya

Karya gita romadhona Kategori Tokoh dipublikasikan 20 Mei 2016
Ringkasan
Ia sering kali tergugu?bukan, bukan karena rindu, tetapi karena terlalu banyak merasa pilu.