Karena Kita Tak Abadi

Karena Kita Tak Abadi Karena Kita Tak Abadi

Hai Pejalan,

Malam sudah larut, saat aku mulai menulis surat ini. Mencoba meniti ulang ingatan-ingatan yang tersisa dalam dimensi bernama masa lalu, yang bagi beberapa orang disebut sebagai kenangan. Kau tahu, manusia tidak diberi spasi mengingat yang banyak, maka otomatis mereka memilah apa-apa yang ingin mereka simpan, apa-apa yang mereka ingin lupakan.

Bagiku, kau mendominasi semua ingatan. Karena itulah aku menulis surat ini untukmu. Agar suatu hari, saat aku tak sanggup mengingat lagi, kau tetap mengabadi. Mengabadi dalam tulisanku. Mengabadi dalam kisahku.

Aku mulai meniti ingat, saat kali pertama mengenalmu. Kau tahu, aku melihatmu kali pertama di jalan menuju perpus di kampus kita dulu, kau dan tawamu yang khas. Tak terbaca apa pun pada takdirmu, juga takdirku, kala itu.  Yang aku tahu, kau senang mengikuti arah, dan aku selalu tertantang untuk menebak di mana letak arah.  

Dan, apakah saat itu aku jatuh cinta? Saat itu, tentu saja aku belum menemukan rumusan yang tepat mengapa hatiku tiba-tiba menghangat saat kau baru saja lewat. Atau, mengapa tiba-tiba musim menyemi jika tak sengaja kita bersisi di jalan yang sama. Yang aku ingat, aku mulai mengakrabi kebiasaanmu tanpa berharap kau tahu kebiasaanku. Segala lagu-lagu yang kau dengar, pojok tempat kau biasa duduk dengan teman-temanmu, gado-gado yang selalu kau pesan, cerita-cerita lamamu, kusimpan dan kupelajari baik-baik.


Aku sudah cukup senang, saat kau ikut mendengar lagu yang biasa aku dengar. Aku hanya akan menyimpan senyum saat tiba-tiba kau mengingatku kala menatap langit dan bintang-bintang sangat menarik. Lalu, alur menyisipkan kita dalam perjalanan bersama, bertemu shelter-shelter yang kadang berisi ragu, juga tak pernah kosong akan rindu. Kala itu, aku sudah cukup menikmati berjalan dalam diam di belakangmu, menikmati saat sesekali kau menoleh dan menunggu.

Kau tahu, ada satu waktu dalam langkahku, aku terhenti. Mengingat kali pertama aku berharap, agar pada tanganmulah petaku tergenggam. Jadi, dengan begitu, kau dan aku tak akan pernah berpisah arah. Meski berkali-kali pula, harap itu kubiarkan terlantar dan tercecer di tiap persimpangan. Aku menguburnya. Meski ia tumbuh lagi. Aku menguburnya lagi. Dan menyemak harapan baru tumbuh semakin rimbun. Lalu, apa lagi yang bisa kuperbuat? Aku menyerah, membiarkan harapku akanmu memenuhi doa-doaku.

Lalu, seolah-olah langit berpihak, kau memilih memutar, menapakkan kaki di tempat aku melangitkan doa. Kau dan aku menjelma perjalanan panjang. Dengan takdirmu ada dalam takdirku.

Pejalan,

di luar, malam semakin larut. Di langit, doa-doa bersirebut.

Waktu bertebaran dan berputar tanpa terasa. Pagi milik kita seolah menjelma dalam putaran rotasi yang tak sempat kita tunggu lagi. Kita menjelma dua pejalan yang membiarkan arah membawa kita larut dalam ceritanya. Namun, perjalanan semakin menyenangkan, bukan?

Sebelum kau tidur tadi, kau dan aku bicara lagi, masih tentang cinta. Bukankah cinta sesederhana seperti biasanya?  Kau bertanya bagaimana hariku, aku bercerita apa saja. Langit merah saga tadi sore, kataku pelan. Dan angin, berembus dingin tak biasanya. Kau mengangguk, mendengar dan mengantuk.

Lalu, hujan turun. Aku menatapmu. Seperti menatap jauh dalam sebuah sumur permintaan dan koin yang aku punya adalah tak terbatas. Betapa beruntungnya aku, pikirku. Apakah kau sama beruntungnya? Apakah kau tak menyesal, berbagi arah dan peta bersamaku?

Tak lama, kau terlelap. Dan, aku merasa kehilanganmu. Itu terjadi, setiap kali, kau mulai terlelap. Aku merindumu, tepat setelah kau terlelap tidur.

Pejalan,

waktu tak abadi. Ingatan tak abadi. Kita pun tak abadi.

Suatu hari, kita akan saling meninggalkan. Kau atau aku, akan ada yang lebih dulu pergi. Subjek yang sama-sama tidak kita sukai. Tentang tak abadi, dan harus pamit pergi.

Namun, diam-diam, aku berdoa semoga itu aku. Kau tahu, aku tak cukup punya nyali, jika kau yang lebih dulu pergi. Aku sudah terlalu terbiasa, memanggil namamu saat jalan berputar seolah tak berujung, lalu merasa nyaman, lalu merasa aman.

Dan, aku tak bisa membayangkan frame seperti apa yang akan membiarkan aku ada, tanpa kau memenuhi sisi sebelahnya?

Lalu, aku berdoa lamat-lamat, semoga Ia mengizinkan kita menua. Tentu saja, bersama dan bahagia.

Pejalan,

malam sudah mulai berfermentasi, sebentar lagi aroma pagi menguar dan aku akan menyelesaikan surat ini.

Sampai waktu nanti, saat kita harus saling meninggalkan, aku tahu kau dan aku tak akan bosan berbagi ruang. Semoga musim berkenan menjelmakan mimpi-mimpi yang kita letakkan di setiap pojok rumah.

Kau dan aku akan menua, tentu saja.

Namun, aku janji akan membawa cinta menua bersama kita.

Dari teman pejalan yang selalu berbagi peta denganmu

 

gita romadhona

Karena Kita Tak Abadi

Karya gita romadhona Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 18 Mei 2016
Ringkasan
Bagiku, kau mendominasi semua ingatan. Karena itulah aku menulis surat ini untukmu. Agar suatu hari, saat aku tak sanggup mengingat lagi, kau tetap mengabadi. Mengabadi dalam tulisanku. Mengabadi dalam kisahku.