Di Dalam Kepalanya, Tinggal Seekor Burung

Di Dalam Kepalanya, Tinggal Seekor Burung Di Dalam Kepalanya, Tinggal Seekor Burung

Di dalam kepalanya, tinggal seekor burung. Burung itu hanya mengepak saat ia sendirian, di malam yang menua, dan yang terdengar hanya tektok jam di dinding saja.

Ia tak pernah berani menerka, jenis burung apakah yang memilih menetap di kepalanya itu. Yang ia bisa duga, cakar burung itu terasa tajam, menusuk kepalanya dari dalam. Dan, kepakannya, sering kali membuat ia harus berpegangan pada satu tepian, dinding, atau lemari.

Ia tahu, burung itu juga sering sibuk mencericit. Dan, saat burung dalam kepalanya mulai mencericit, ia terpaksa menyerah pada insomnia.?

Ia pernah mengonsultasikan hal ini ke dokter. Dokter tersebut hanya tertawa dan menyarankannya segera pergi ke seorang psikiater. Tentu saja, ia memaksa dokter melakukan rontgen, dan melihat apa benar burung itu masih bersarang dalam kepalanya.

Hasilnya, tak ada apa pun dalam kepalanya. Bahkan, imajinasi sangkar saja tak tercipta di sana. Yang tampak dari hasil rontgen itu hanya bentuk otak dan tempurung kepalanya.?

Tak ada burung. Tak ada kepakan. Tak pula terdengar cericitan.

Sejak itu, ia tahu, ia tak boleh berada di tempat sepi. Jika sekali saja dia berada di tempat sepi, burung dalam kepalanya akan segera mengepak. Mencakar dari dalam.?

Maka, dicarinya tempat-tempat ramai yang terjaga sepanjang malam.

Dari satu kelab ke kelab yang lain, dihabiskannya malam-malam insomnia. Ia mulai bertemu banyak orang dan berusaha bersama orang-orang itu sampai pagi.

Namun, saat ramai terus menemaninya, ?lama-lama ia mulai rindu akan sepi. Ia rindu kepakan burung dalam kepalanya. Ia bosan suara musik yang mengentak. Ia mulai muak dengan drama bising dari pesta pora sepanjang malam.

Pada suatu hari yang lelah, ia memutuskan menyepi. Memilih mendengari lagi kepakan burung yang tinggal dalam kepalanya.

Meski kadang, kepakan burung membuatnya harus memegangi tepian, dinding atau lemari, ia sekarang sudah mulai terbiasa.

Pada akhirnya, ia tahu, hanya burung di dalam kepalanyalah yang paling mengerti bagaimana memaknai hidupnya yang selalu bersama sepi.

Di dalam kepalanya, tinggal seekor burung. Burung itu hanya mengepak saat ia sendirian, di malam yang menua, saat yang terdengar hanya tektok jam di dinding saja.?

*saya meminjam foto dari sini

gita romadhona

Di Dalam Kepalanya, Tinggal Seekor Burung

Karya gita romadhona Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 23 Maret 2016
Ringkasan
Di dalam kepalanya, tinggal seekor burung. Burung itu hanya mengepak saat ia sendirian, di malam yang menua, dan yang terdengar hanya tektok jam di dinding saja.
Dilihat 84 Kali