Era Vulgaris Dan Peran Orang Tua

Azwar Rachman
Karya Azwar Rachman Kategori Renungan
dipublikasikan 24 September 2016
Era Vulgaris Dan Peran Orang Tua

Dunia digital memang sangat cepat berkembang seiring berjalannya waktu. Bisa diakses dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Banyak muda mudi yang memanfaatkannya sebagai tempat yang asyik untuk meraup pundi pundi rupiah. Tak hanya itu, sebagian anak muda menggunakannya sebagai tempat untuk mengekspresikan diri. Tentunya tak lepas dari sisi positif dan negatif. Video-blog atau biasa disingkat menjadi Vlog, sedang menjadi tren di kalangan remaja saat ini. Mulai dari aktifitas sehari-hari, traveling, challenge, curhat, sampai hal yang bersifat pribadi pun dipertontonkan seolah hal itu masih dalam batas kewajarannya.

Tak lama ini beredar video yang sempat menghebohkan media sosial, khususnya para youtuber. Video blog yang mempertontonkan gaya hidup ‘bebas’ sepasang kekasih yang masih berstatus ‘pacaran’ tentunya. Bercumbu, merokok, dan bertingkah konyol (memperagakan gaya seks di depan public) sudah menjadi bumbu di beberapa video pemilik akun yang bernama Awkarin ini.

Sama halnya dengan pemilik akun yang bernama Anya Geraldine, tak mau kalah dengan gaya berpacaran, Adu mewah & adu-hai pun dijadikan tolak ukur demi kepopuleran.

Tak main-main, followers mereka di berbagai media sosial mencapai ratusan ribu hingga 1 juta, yang sebagian ternyata adalah remaja dan anak-anak. Tak hanya itu jumlah penayangan video mereka hampir setara bahkan lebih dari jumlah followers-nya. Bisa dibayangkan, berapa banyak generasi bangsa yang akan mengidap krisis moral.

Dalam kasus ini, sudah dipastikan peran orang tua, peran kita, dipertaruhkan demi menghasilkan generasi penerus yang baik. Masalahnya, kebanyakan dari kita selalu beralasan seperti “Saya gaptek mas!” kan, bisa belajar. “Ah, saya sudah tua mas jadi ndak ngerti masalah gituan.” kan, bisa bertanya atau minta tolong. Mempelajari hal semacam ini, hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk menyaring konten yang sudah termasuk dalam kategori dewasa.

Lain cerita dengan ibu saya, yang takut telepon genggamnya rusak karena salah pencet. Dengan memberikan pengertian dan membagikan pengetahuan, akhirnya ibu saya dapat menggunakan beberapa fitur yang tersedia di telepon genggamnya, termasuk dalam menyaring konten-konten dewasa. Ibu saya terpacu mempelajarinya karena mengingat cucunya yang sering memegang telepon genggamnya dan menonton film kartun di youtube. Sekarang, tak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak tahu menahu mengenai hal semacam ini.

Berkarya boleh-boleh saja, bebas-bebas saja, tapi perlu diketahui bahwa untuk menampilkan suatu karya memiliki beberapa aturan. Baik itu secara tertulis maupun tidak tertulis. Ada yang termasuk konten dewasa, ada juga yang masuk di semua umur. Ada yang wajar ditampilkan, ada juga yang hanya dapat dikomsumsi secara pribadi.

Kasus seperti ini akan terus ada dari masa ke masa, maka dari itu, ini merupakan tanggung jawab bersama sebagai anak bangsa untuk melestarikan dan menjaga budaya kita, ya, budaya Indonesia.

Sumber Gambar Disini

 

-Azwar Rachman