Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 14 November 2017   14:48 WIB
Hijrahnya Bidadari Neraka (Part II)

Hari kedua…

Hidup ini terlalu membosankan. Monoton. Pagi, siang, sore dan malam tak ada bedanya. Gelap. Entahlah, sekarang siang, sore ataukah malam. Ah, aku menganggap setiap detik adalah malam.

Entah sudah berapa banyak dedaunan kering dan bunga kamboja yang jatuh menyentuh rambutku. Seberapa sering pula angin membelai setiap helaiannya. Hingga rasa gatal itu merambat dari ujung rambut ke ujung kaki. Sudah dua hari aku tak pulang ke rumah untuk sekedar membersihkan diri. Beruntung, di ujung pemakaman ini ada WC umum. Beberapa lembar uang dari saku celana juga menyelamatkanku dari rasa lapar. Cukup untuk membeli bubur ayam Mang Joko yang biasa mangkal di sudut pemakaman.

Lagi-lagi alunan musik itu terdengar keras memecah lamunan yang tengah hinggap. Pasti lelaki itu lagi.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…” Tanpa alasan jelas, tiba-tiba hati  memaksa diri untuk berteriak sekencangnya. Seketika, suara musik itu terhenti, tergantikan gonggongan anjing.

“ Hei, kenapa kau terus-terusan bertindak bodoh seperti ini?”

“ Aku memang bodoh, buta dan tidak berguna. Tapi itu bukan urusanmu. Karena hidup kita tak pernah ada benang merah. ”

“ Kamu bodoh, tapi aku akan membantumu keluar dari kebodohan itu. Ayo ikut aku ke masjid. Akan kukenalkan kau pada guruku. Dia akan mengajarimu membaca dengan huruf Braille. Dia akan mengajarimu shalat, agama dan apapun yang kau mau. Kau masih punya kesempatan melihat cahaya.”

“ Kau ini siapa berani-beraninya mengguruiku seperti itu. Hatiku sudah mati. Aku tidak mau mengenal lagi siapa itu Tuhan. Tuhan yang tak pernah sedikitpun mencintaiku. Dia dengan teganya membiarkanku hidup dalam kebutaan dan kesengsaraan. Sementara membiarkan orang sepertimu selalu hidup bahagia dan berkecukupan. Kamu pikir itukah namanya Tuhan yang Maha Adil? ”

“Kamu pikir napas yang kamu hirup itu bukan suatu wujud rasa cinta?”

“Bukan. Pergi sekarang atau aku lempari batu?

“Oke, aku pergi, tapi kamu harus pulang! Wanita layak berada di tempat terindah, dan itu bukan disini."

“Pergi.  Kau tidak tahu apa-apa. Ah, buat apa juga kamu tahu apa-apa tentang hidupku. Tuhan yang tahu saja tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi kamu?”

#####

Hari ketiga…

Sulur-sulur kehangatan mulai menusuk setiap jengkal tubuhku. Dedaunan tak mampu memayungi tubuhku dari sengatannya. Mungkin ini yang dinamakan siang.

Saat kuberdiri untuk meregangkan tubuh, tiba-tiba seseorang menabrakku. Tubuhnya merintih kesakitan. Dari melodi tanah dan rerumputan, nampaknya ia jatuh tersungkur.

“Aduh, sakit.! Rintih pria itu.

Sepertinya aku tidak asing dengan suara itu. Ya, pria itu lagi. Pria sok tahu dan kurang ajar itu kembali berulah.

“Kalau jalan lihat-lihat. Punya mata tapi tidak dipakai. Lalu apa bedanya denganku?  Kita sama. Sampah!”

“Maaf.  Aku tidak bisa melihat. Maksudku...Anu...Mmm, aku lagi nggak fokus.”

Alasan pria itu sungguh tidak masuk akal.  Makin hari, dia semakin membuat kepalaku ingin meledak.
 
“Kenapa kamu selalu ada di sini? Kamu tidak pernah pulang? ”

“Kamu yang seharusnya pulang. Ini rumahku. Walau aku sangat tersiksa saat berada di dekat kuburan wanita ini. Berada di rumah dengan ayah yang seperti itu, semakin membuat batinku teriris. Lebih baik aku di sini.  Tetapi jauh lebih baik lagi jika aku disini tanpa kamu.”

“Aku juga nyaman. Hanya di sini, aku bisa menggesekkan biolaku dengan lepas. Hanya di sini, aku bisa mengerti apa artinya memaafkan.”
 
Bisa-bisanya dia mengucapkan kata memaafkan tepat di depan mukaku. Kata kedua yang teramat aku benci setelah cinta. Cinta, sebuah kata yang selalu didewakan dan diagung-agungkan semua orang. Kata yang tak akan pernah mampir sedetikpun dalam hidupku. Untukku, kata memaafkan dan cinta itu tak pernah ada. Bahkan untuk Tuhan sekalipun.

“Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan,” lanjutku lagi.

“Kamu tidak pernah tahu  hidupku. Mungkin lebih menyakitkan. Tapi di sini, aku bisa belajar apa itu memaafkan. Belajar memaafkan wanita yang tak pernah aku kenal. Wanita yang dua puluh tahun lalu telah membuangku di bawah pohon kamboja ini.”
 
Kalimat terakhir itu membuat bulu kudukku bergidik. Padahal, selama bertahun-tahun di pekuburan ini, aku tak pernah merasa merinding sedikitpun.

“Beruntung, ada seorang laki-laki yang menemukanku di sini. Lelaki itu menjadi ayah angkatku sampai sekarang. Aku anak yang tidak diinginkan. Hingga detik ini, aku tak pernah tahu siapa orang tuaku, tetapi aku tak pernah membenci mereka."

“Tapi kamu beruntung bisa di temukan dan diasuh oleh orang sebaik dia. Sementara aku dibesarkan oleh raja preman yang terbiasa mabuk-mabukkan dan berjudi.  Sudahlah, aku lelah membahas hal itu.”

“Kamu masih muda. Masih ada kesempatan untuk belajar dan berubah. Aku yakin, kebutaan diciptakan untuk menguji salah satu bidadari surga sepertimu.”

“Hahaha…Aku bidadari neraka. Bukan surga. Boro-boro surga, mengerti shalat saja pun aku tidak. Aku ibarat bangkai yang berjalan di atas muka bumi. Tak ada gunanya.”

“ Ayo ikut aku ke masjid. Akan kukenalkan kau pada seorang ustadzah.”

“Tidak. Percuma. Menahan diri untuk tidak bunuh diri adalah satu-satunya kebajikan yang bisa aku lakukan di dunia ini.”

“Sebelum kau melempariku dengan batu. Aku hanya ingin berkata sesuatu hal. Ingat baik-baik ‘Hidupmu cuma sekali’. Jadilah sosok terbaik di hadapan-Nya. Aku pergi. Assalamualaikum.”

“Waalaikum salaam.” Aku baru menjawab salam saat langkah kaki itu terdengar sayup menjauh.

####
Hari keempat…

Aku memilih tetap tinggal di rumah beratap langit ini. Memandangi rembulan dan mentari berwarna hitam. Memandangi wajah seseorang yang bercahaya dalam bingkai kegelapan. Hingga gelap demi gelap aku lewati tanpa terasa .Seperti biasa, lelaki itu bermain biola dengan irama syahdu. Suaranya yang tiba-tiba itu lebih mengagetkan dari suara kuntilanak yang berkelakar.

Dengan tanpa lelah dan menyerah, ia pun kembali mengajakku ke masjid. Mengajakku beranjak dari tempat ini. Seperti biasa pula, aku selalu memberinya jawaban yang sama, “Tidak."

Bukan hanya membawa petuah dari mulut-mulut kosong. Kali ini dia membawakanku sepaket baju muslimah lengkap dengan hijabnya. Dengan tanpa perasaan, aku lempar pakaian itu ke mukanya. Aku remas-remas. Bahkan, kuinjak-injak pakaian itu di atas kubangan lumpur. Suatu penghinaan besar yang pernah aku terima. Dia, lelaki yang baru aku kenal itu menasehatiku untuk berhijab.

“Sudah aku bilang, tak usah mengguruiku. Buat apa kamu berusaha sekeras ini. Aku bukan siapa-siapa bagimu.”

“Bukankah setiap muslim itu bersaudara? Aku ingin persaudaraan kita tak hanya di dunia. Itu saja.”

Dia sudah semakin hapal gerak-gerikku. Ia bergegas pergi sebelum aku kembali mengamuk. Seperti biasa, salam kembali mengakhiri pertemuan kami. Kali ini aku diam. Tak ada balasan ramah tamah untuk orang kurang ajar sepertinya.

#####

Hari demi hari berlalu. Sekarang tepat hari kedelapan aku minggat dari rumah. Meski terkadang nekat mengendap-endap untuk pulang, sekedar mengambil makanan maupun baju. Beruntungnya ayah selalu tidak berada di rumah saat aku ke sana.

Selama tujuh hari telingaku memerah terkena ocehan lelaki itu. Selama tujuh hari pula, aku selalu melampiaskan amarah kepada lelaki itu. Lelaki yang sampai sekarang aku tak tahu namanya. Lelaki yang selalu datang dengan nasehat yang sama. Mengajakku ke masjid untuk berubah. Lelaki yang selalu menerima jawaban yang sama, “Tetap tidak mau.”

Selama tujuh hari, petuah-petuahnya menguap tanpa makna. Menceramahi hati yang keras dan mati adalah kesia-siaan yang mestinya tak pernah dilakukan. Hatiku tetap saja gelap. Tertutup rapat. Hingga mimpi tadi malam membuat otakku kembali berpikir.

Dalam mimpi itu, aku berada di suatu tempat asing. Dimana setiap gerak langkahku membuat semua mata terbelalak. Aku dipuja bagaikan bidadari. Mereka semua mengikuti kemanapun aku pergi. Namun, aku bersama mereka dicelupkan ke dalm cairan panas. Rambutku digantung. Telapak kakiku memakai sandal yang panasnya mampu mendidihkan ubun-ubun. Kami meronta namun tak ada seorang pun yang mendengar.

Dari mimpi itu aku mulai luluh. Sulur cahaya mulai merambah hatiku yang selalu gelap gulita. Meski tertatih, dengan mengeja cahaya itu mulai mengukirkan nama Allah. Nasehat lelaki itu mulai kudengar. Dengan kaki bergetar, aku mengikuti langkahnya menuju masjid.

Dia mempertemukanku pada seorang ustadzah. Hanya selang beberapa menit sebelum ia meninggalkan kami berdua. Dia bilang jikalau sekarang adalah jadwalnya untuk melantunkan ayat suci Al-quran. Sungguh, aku semakin kagum tak terkira padanya.

“Nama kamu siapa?” Ustadzah itu sampai berulang-ulang menanyakan pertanyaan yang sama. Tapi aku tetap membisu dengan pandangan semu.

“Maaf, aku Nurin.” Seberapa kuat niatku untuk fokus, suara lantunan ayat suci Al-quran dari lelaki itu membuat pikiranku terberai. Lelaki bersuara merdu yang baru aku tahu namanya, Abiyyu.

“Nurin ! Nurin !” Tiba-tiba terdengar suara ayah meneriakiku dari balik pintu. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Pori-pori seakan melebar tak mampu menahan desakan butir keringat yang ingin segera keluar. Menjauh.

“Nurin, ngapain kamu di sini? Kamu sudah mempermalukan raja preman paling tersohor di kampung ini.“ Ayah memaki sembari menyeret dan memukuliku.

“Tunggu, jangan bawa dia! Orang tua macam apa yang melarang anaknya belajar ilmu agama.” Abiyyu tiba-tiba datang melerai. Amukan ayahpun semakin pecah. Semua kata kotor keluar dari mulutnya yang bau rokok dan alkohol itu.
 
Saat genggaman tangannya melemah. Saat konsentrasinya terpecah kepada Abiyyu, aku manfaatkan itu untuk kabur. Entah kemana. Yang penting, aku terbebas dari jeratnya.

#####
Satu tahun kemudian…

Dua belas bulan telah berlalu. Selama itu pula aku tidak bersua dengan kamar kecilku. Tidak berjumpa dengan pohon kambojaku. Hati kecilku berkata, ada kerinduan mendalam dibalik kepedihan. Tapi aku sudah tak sanggup melawan sifat otoriter ayah. Aku lelah. Memilih tinggal di panti asuhan, nampaknya menjadi keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Betapa beruntungnya, bisa bertemu dengan seorang penjaga panti yang mau mengajakku tinggal di sana.

Setahun sudah, aku tidak menepi di bawah pohon kamboja di pemakaman ini. Selama itu pula aku tidak berjumpa dengan Abiyyu. Tidak pernah berkunjung ke masjid itu lagi. Rindu rasanya mendengar alunan suara biola yang ia gesekkan. Rindu aku mendengar suara lantunan ayat suci Al-Quran dari mulutnya.

Masih seperti setahun lalu, angin semilir selalu meliuk-liuk mencoba menerobas setiap jengkal tubuhku. Kali ini sedikit berbeda. Tak bisa lagi angin membelai-belai rambutku dengan mudah. Rambut panjang yang biasa terurai kini tinggal rambut sebahu dengan balutan kain yang menjulur hingga ke dada. Bunga kamboja yang jatuh berguguran tak bisa lagi seenaknya mengotori rambutku tanpa permisi.

Panti asuhan itu mengajariku tentang hakikat menjadi wanita. Istimewanya, panti asuhan itu diasuh oleh seorang ustad tersohor di kampung ini. Panti asuhan bernapaskan Islami yang membantuku menyelami makna ketuhanan. Mereka diutus Allah untuk selalu menyalakan api dalam lilin yang hampir padam. Lilin yang Tuhan berikan lewat seorang malaikat bernama, Abiyyu. Darinya aku mulai bisa melihat cahaya dalam hati yang gulita. Meski hanya dari lilin yang berkelip.

#####

Detik-detik, menit-menit, jam-jam, hari-hari, bulan bulan aku lewati tanpa perubahan. Sepi. Aku masih menunggunya di tempat yang sama. Menunggu gesekkan biolanya kembali terdengar. Menunggu petuah-petuahnya kembali terdengar. Menunggu ia berkelibat meski dalam mimpi yang berselang beberapa detik. Aku masih menunggunya dalam sepi. Tak hanya mata yang buta, kini mulutku pun bisu. Tak ada satu patah kata pun yang aku keluarkan ketika berada di sini. Hingga aku lelah menunggunya berjam-jam. Hingga aku pulang kembali ke panti dan kembali lagi esoknya. Suaranya masih tak terdengar. Pernah sesekali aku datangi masjid itu, tetap aku tak mendengarnya.

Hari ini angin bertiup teramat kencang. Hingga rok dan kerudungku berkibar tanpa henti. Gerimis turun susul-menyusul diiringi petir yang menyambar-nyambar.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….” Akhirnya ini kali pertama aku berteriak sembari melempari makam wanita itu dengan sandal jepit yang aku pakai. Teriakanku mampu menyaingi petir yang menggelegar.

“Nurin. Kau kah itu? “ Suara itu seketika menghentikan dunia dalam beberapa detik. Aku berpikir keras hanya untuk mengingat bahwa suara itu tidak asing. Abiyyu.

“Abi, kau Abi kan? Kemana saja kau selama ini?” Aku coba memutar-mutar posisi tubuhku sembari melambaikan tangan. Aku tak tahu kearah mana dia berada.

“Aku nggak kemana-mana. Aku selalu berdiam diri di sini. Setiap hari aku selalu kesini. Justru kau yang seharusnya aku tanya kemana saja selama ini.”

“Kenapa aku tak pernah mendengar suaramu? Tak pernah mendengar biolamu. Padahal aku pun setiap hari setia menantimu di sini. Banyak hal yang ingin aku ceritakan. Banyak ucapan terima kasih yang ingin aku lontarkan. Tapi kau menghilang.”

“Hmm.. Biola itu sudah aku masukkan ke dalam gudang. Suara-suara itu tinggallah kenangan yang takkan bisa kembali.”

“Apa maksud kamu?”

“Tangan kananku sudah diamputasi. Tanganku terpotong  alat pemotong rumput saat bersitegang dengan ayahmu pada hari itu. Tubuhku jatuh terguling. Sialnya sedang ada petugas pemotong rumput yang tengah menyiangi rumput di depan masjid. ”

“Ayah. Lagi-lagi ayah. Dia harus menerima balasan setimpal atas yang ia lakukan. Dia pantas bersanding dengan ibu di neraka.”

“Kamu tak boleh berkata seperti itu. Bagaimanapun dia ayah yang sudah membesarkanmu. Ayahmu sekarang buron entah kemana. Padahal aku sudah memaafkannya. Jangan salahkan dia. Ini bukan salahnya. Ini takdir yang sudah Tuhan gariskan untukku.”

“Tapi kenapa selama ini kau diam saja. Tak menyapa, menegur dan menceritakan semua kepadaku. Bukankah kau bilang setiap hari berada di sini. Berarti kau melihatku. Kenapa kau diam saja, pura-pura buta.”

“Aku tidak pernah pura-pura. Ada dua rahasia besar yang  kamu tidak tahu.”

“Apa?katakan, abiyyu! Atau aku lempari kau batu seperti dulu?”

“Pertama, kamu tahu kenapa selama ini aku tak menegurmu meski aku sebenarnya ada di dekatmu? Ya, karena mataku tak melihatmu.”

“Maksudmu?” Tanyaku heran.

“Aku sama sepertimu. Aku buta dari lahir. Maklumlah jika selama ini aku tak pernah bisa melihatmu. Maklumlah jika saat pertama kali bertemu aku menjambak rambutmu. Bahkan aku pernah jatuh menabrakmu. Ya, karena aku tak bisa melihat apapun.”

Aku terdiam. Tak ada kata yang bisa aku ungkapkan, kecuali air mata.

“Rahasia kedua, ini soal ibumu. Aku baru tahu masalah ini dari Ayahku. Ibumu bekas pembantu ayahku. Dia bukan pembunuh. Dia memberimu kebutaan untuk memberimu kehidupan. Ya, Dia mendorongmu agar kau tidak terkena reruntuhan bangunan saat rumahmu kebakaran dua puluh tahun lalu. Dia mati terkena reruntuhan atap rumah. Sementara kau terlempar dan matamu mengenai duri mawar. Dari situlah kau menjadi buta. Masih pantaskah kau menyebut Tuhan itu tidak adil saat kau tahu ada seseorang yang menebus hidupnya denganmu. Seseorang yang selalu kau benci dan maki meski telah tiada. “

Aku kembali membisu. Suara angin yang bertiup sangat kencang diiringi geledeg yang menggelegar bersahut-sahutan tak menggoyahkan sedikitpun kebisuanku. Aku pun menangis dengan butir-butir yang tak mampu dilihatnya.

Tibalah waktunya hingga takdir memecah segalanya. Tatkala petir menyambar pohon kamboja itu. Tertahanlah segala kata yang belum sempat terucap. Pohon tua dan besar itu roboh, menghimpit tubuhku dan tubuhnya. Kami tewas di tempat dengan sekelumit perasaan yang masih tersimpan rapat. Cinta memang banyak bentuknya. Bentuknya terkadang tak harus memiliki, tapi membawaku pergi. Hijrah. Hingga ia mengangkatku dari tempat hina yang seharusnya aku tempati.
 
***********************************************************************

cerpen ini adalah lanjutan dari :
https://www.inspirasi.co/porporaa_/22003_hijrahnya-bidadari-neraka-part-1-


Sumber gambar : http://erlindaenglish.blogspot.co.id/2012/02/gambar-animasi-bidadari-surga.html

Karya : Riyani Jana Yanti