Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 9 November 2017   06:15 WIB
Buku Patah Hati

 
 
“Aku cemburu ! “ teriakku lantang. Tapi, si kaca mata tebal tak berdosa itu tetap saja asyik dengan belahan jiwa barunya.

“hey, kamu! Ya,kamu ! Kenapa kamu diam saja?  Dasar tuli ! Kamu nggak denger, ‘ aku cemburu’ ! Sekali lagi ya, dengar baik-baik, ‘aku cemburu ‘ !  Aku cemburu ! Aku cemburu !“ berontakku lagi. Tapi, lagi-lagi dia tetap sibuk bercengkrama dengan kekasih barunya itu.

 Empat tahun lalu? Aku sudah lupa, seberapa lamakah empat tahun lalu itu? Atau seberapa sebentarkah itu? Ah, sudahlah , jangan ingatkan aku pada masa lalu . Ah,tapi aku terlalu bodoh.  Sangat bodoh.  Rasanya aku ingin mati ! Hanya karena  ‘masa lalu’ aku hampir mati. Hidup dalam masa penantian yang sia-sia itu ibarat mati  tanpa masa peradilan. Masuk surga tidak , neraka pun enggan. Detik ini benar-benar titik terjenuh yang siap meledak. Aku lelah dengan semua ini. Aku ingin mati !
 
Kata orang, cinta sejati itu tak mesti memiliki. Kata orang, cinta sejati itu bukan berarti harus bersatu dengan orang yang kita cintai. Tapi, cinta sejati itu memastikan orang yang kita cintai terlihat bahagia. Meski bukan dengan kita. Ya, kata orang. Orang? Memangnya orang-orang yang mengeluarkan  kalimat-kalimat gila itu pernah merasakan apa yang sedang aku rasakan sekarang?  Tidak kan?
 
Entahlah, aku harus tertawa atau menangis, melihat si kacamata tebal itu tertawa lepas. Kalau menurut teori ‘cinta sejati’ sih aku harusnya bahagia. Bayangkan, si kacamata tebal yang mukanya selalu ditekuk itu bisa tertawa terpingkal-pingkal. Sesuatu yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Empat tahun lalu, dia mau bersamaku selama 24 jam non-stop. Tapi, tak pernah sekali pun aku melihat dia tersenyum.Tapi, sekarang dia itu bukan hanya bisa tersenyum. Dia tertawa. Bayangkan !

Aku tahu, dia bersamaku hanya karena sebuah keterpaksaan. Aku hanya pelarian. Aku hanya diperalat. Aku hanya alat yang ia manfaatkan demi ambisi-ambisi gilanya itu. Iya, aku tahu. Sudahlah, jangan berpura-pura lagi ! Aku tak pernah melihat ketulusan dari matanya. Tapi, sekarang, ketulusan itu aku lihat saat dia bukan lagi denganku. Sepertinya, dia benar-benar tulus mencintai kekasih barunya itu. Sekali lagi, aku mau teriak dan bilang ,”Aku cemburu !”
 
“Dengar, ini terakhir kalinya aku bicara. Kaca mata tebal, lihat aku ! Dasar buaya darat ! Aku tahu, dia lebih gaul. Aku memang terlalu membosankan dan rumit buatmu. Aku banyak aturan. Aku banyak menuntut. Tapi, kenapa dulu kamu memberi semua harapan itu? Kenapa  dulu kamu mau menghabiskan setiap waktu denganku? Bahkan, kamu lupa makan, lupa tidur, lupa ibadah hanya karena enggan berpisah denganku. Walau aku tahu, itu bukan sebuah ketulusan.  Tapi, kebersamaan kita itu nyata. Kamu lupa, siapa yang bisa mengantarkan kamu ke universitas yang kamu inginkan sekarang? Pacar barumu itu? Hahaha, bukan kan? Dasar pemberi harapan palsu !” kataku panjang lebar.

“teng…teng…teng.” Bunyi lonceng  jam dinding itu menambah kekesalan dihatiku yang tengah gaduh. “Berisik !”

“Jam dinding  bodoh! Kenapa kamu masih mau bersuara? Kenapa kamu masih mau berputar? Lihat, si kacamata tuli itu tak pernah peduli dengan suara maupun waktu yang kau tunjukkan! Selama kekasih barunya itu ada, dia tetap akan lupa waktu. Kamu nggak tuli kan, Bodoh? Kalau kamu bena–benar nggak tuli, jawab aku sekarang ! Jawab! Heh, tapi  sampai sekarang kamu masih saja berputar? Ok, sekarang aku yakin, ternyata kamu  tuli.” Celotehku sambil sesekali mengintip si kacamata dengan pacar barunya.

“Kenapa semua bisu? Kenapa semua tuli? Aku ingin mendengar suara lain, selain suara kelakar si kacamata jutek itu.” Ratapku lirih.

Ya, Tuhan. Kecemburuan membuat logikaku benar-benar mati. Hahaha, aku lupa.Kenapa aku bisa benar-benar lupa?  Aku bukan manusia seperti si kacamata  itu. Aku hanyalah buku fisika yang sudah tak dibutuhkan lagi. Hidupku hanya berakhir di rak berdebu ini. Menjijikkan, berani-beraninya debu-debu liar itu menyentuh tubuhku yang mulus ! Tapi, aku tak sanggup menerima kenyataan. Kenapa si kacamata itu lebih suka menghabiskan waktunya dengan ‘novel komedi’ itu? Aku tahu, dia lebih lucu, lebih santai dan lebih gaul dari aku. Tapi, apakah ini alasan dia benar-benar enggan menyapaku lagi selama empat tahun?

Tiba-tiba, si kacamata itu membanting ‘novel’ itu dengan begitu kejinya. “ha-ha-ha” kata terakhir yang terucap dari bibir merah muda tipis si Kacamata untuk si Novel. Kemudian, dia meninggalkan dan membiarkannya terjatuh di lantai yang berdebu. “ha-ha-ha” kali ini aku persembahkan tawa jahatku untuk si Novel sialan itu. Rasakan ! Kamu tahu kan rasanya dicampakkan? Mungkin, sekarang si kaca mata itu sudah bosan dan melirik kekasih baru. Dasar, buaya darat. Seenaknya saja memainkan perasaan orang. Orang? Oh ya lupa, kita bukan manusia. Kita benda mati. Ya, tapi apakah karena benda mati dia bisa datang dan pergi seenaknya saja? Ah, dasar manusia.

Si kacamata itu tiba-tiba ada di hadapanku. Ah, dunia seakan berhenti berputar. Hatiku tiba-tiba bergetar hebat.  Sangat hebat. Sampai aku lupa apa itu artinya kesendirian selama empat tahun? Aku pun lupa tentang semua amarahku beberapa menit yang lalu. Mungkinkah dia mau kembali kepadaku? Ah, sudahlah, jangan terlalu berharap.

“Buku Fisika ajaib ,sudah empat tahun aku tak pernah menyentuhnya lagi.Empat tahun lalu, buku ini mengantarkan aku ke  jurusan Fisika di Universitas ternama ini.  Tak terasa, empat tahun sudah aku berkuliah di kampus ini. Mmm, gara-gara terlalu lama sampai aku lupa semua teori jitunya. Pokoknya aku harus berubah, sebentar lagi ujian. Aku harus membuka dan mempelajarinya lagi. Lupakan dulu yang namanya novel, cerpen, komik. Aku harus lulus !” kata si kacamata itu sambil membelai tubuhku.

Tubuhku bergetar hebat, lembaran-lembaranku yang kaku tiba-tiba bergetar. Tersibak satu demi satu seperti tertiup angin. Apalah ini, kenapa aku tak juga sadar.Aku ini bukan manusia. Aku hanyalah buku Fisika yang membosankan. Aku ada bukan untuk didengar aku hanya bisa mendengar. Aku ada bukan untuk membaca tapi untuk dibaca. Tapi cinta membuat aku ingin didengar dan dibaca. Ah, tapi ini mustahil. Ah, tapi ya sudahlah. Yang penting dia bisa mengerti apa yang ada di dalam diriku. Semua teori dan penjelasanku. Meski yang dia mengerti itu bukan perasanku. Terlalu rumit memang untuk bisa mengerti perasaanku yang lebih rumit dari teori Fisika. Butuh seribu sudut pandang untuk mentelaahnya.

 Aku tak cemburu bila dia bersama yang lain. Tapi aku cemburu bila dia benar-benar lupa denganku. Apalagi lupa dengan semua teori yang pernah aku ajarkan. Aku nggak mau semua kebersamaan kita itu sia-sia.

“Busyet, ini buku kaya cinta aja dah. Jadi yang pertama dan yang terakhir dalam perjalanku di Universitas ini. Ya, kaya cinta, yang paling berkesan itu cinta pertama dan terakhir. Halah,mikir apasih aku ini. Hahaha, belum ujian aja aku sudah gila. Gimana nanti?” kata si kacamata itu dengan pelan.

“Muah..” kecupan dari bibir mungil si kacamata itu membuatku bergidik dan seakan mengakhiri perpisahan kami selama empat tahun itu.

Karya : Riyani Jana Yanti