Cinta dalam Sehembus Angin

Riyani Jana Yanti
Karya Riyani Jana Yanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 November 2017
Cinta dalam Sehembus Angin

“Aku memilikimu dalam hembusan angin.  Meski terlambat. Tapi, angin tak akan pernah berdusta jikalau daun yang gugur ‘pernah’ bersatu dengan tangkainya. Dulu. Mesti kini tak akan kembali. Kata ‘pernah’ cukup membuatku bahagia.”

Hari ini benar-benar hari yang tak biasa. Istimewa. Untuk pertama kalinya, gelar sebagai seorang mahasiswa, aku sandang secara resmi. Wajah-wajah baru aku telisik dengan seksama. Gerombolan mata sipit, cukup terlihat dominan di depan mataku. Orang berkaca mata tebal, aku rasa tak kalah banyak. Rambut-rambut keriting dengan kulit hitam khas pun patut di perhitungkan. Ya, seribu wajah manusia dari berbagai sudut nusantara aku temui disini. Di kampus miniatur Indonesia yang baru saja aku jejaki. Satu minggu lalu. 

 Ber-be-da, satu kata yang terus memenuhi memori otakku sejak pertama kaki ini berpijak. Di kota ini, Bandung. Tak ada lagi cuaca panas yang memaksakan ribuan pori mengeluarkan butiran airnya. Tak ada lagi senyuman ayah saat pagi menyapa. Tak ada lagi masakan ibu yang memanjakan lidahku setiap hari. Tak ada lagi sahabat di SMA yang selalu tertawa usil, saat kubuka pintu kelas. Tak ada lagi. Semua berbeda.

  Semua berbeda? Aku rasa tidak. Masih ada sisa yang enggan beranjak pergi.  Setidaknya, ada  tiga hal yang tak pernah berubah. Pertama, Dia adalah bulan. Bulan yang selalu aku tatap meski bintang tertutup awan hitam. Tapi, ia tak pernah berubah. Ia masih bulan yang aku tatap di kota kelahiranku. Kedua, dia adalah matahari. Matahari itu tak pernah berubah. Meski sinarnya tampak lebih redup. Tapi, dia masih matahari yang sama seperti matahari yang bersinar di kota kelahiranku. Ketiga, dia adalah Fadhel. Mantan kekasih yang aku lepaskan dengan penuh penyesalan . Statusnya kini tak lagi sama. Tapi, frasa ‘pernah memiliki’ tak akan pernah berubah.

  Fadhel, si pria jangkung itu. Badannya yang ceking kini terlihat lebih  berisi. Jerawat yang telah menetap di mukanya selama bertahun-tahun, kini tak ada lagi. Bahkan, senyumnya mengembang lebih lebar dari biasanya. Dari biasa saat dulu bersamaku. Saat biasa ia menahan air mata untuk meladeni sikap egoisku yang terlalu menyakitkan. Kini, aku melihatnya dari kejauhan. Di depan perpustakaan itu, aku lihat dia tertawa lepas bersama teman-teman jurusannya.

 “Woy, Raisa! Lo jangan ngelamun dong! Cepet ke ruang 9222, acara pengenalan jurusan udah mulai dari tadi ! Kita udah telat.” Syeila merenggut lamunan yang tengah aku jamah. Ia mengembalikanku ke dalam realita yang teramat pedas. Realita bahwa Fadhel hanyalah masa lalu.Yang tak akan pernah kembali. Aku pun berjalan mundur sambil sesekali menoleh kebelakang, sebelum benar-benar bisa berjalan lurus ke depan.

##########

Aku kirabelum terlalu lama kampus ini masuk ke dalam catatan sejarahku. Kuliah yang padat, tugas yang menggunung dan UTS yang datang susul menyusul setiap minggu seakan menanggalkan kalimat itu. Kini, aku seperti mahasiswi yang tengah sibuk mengerjakan tugas akhir. Aku hanyalah mahasiswi semester pertama yang haus akan ambisi. Impianku bisa  lulus dengan IPK di atas 3,5 tak boleh berakhir sebagai mimpi yang lenyap termakan waktu.

 Bisa bekerja di perusahaan multinasional, punya mobil alphard, jalan-jalan keliling eropa dan selfie di bawah menara Eiffel. Lagi-lagi, khayalan dan ambisi itu kembali menghentikan waktu. Sejenak. Membawaku ke dalam memori masa lalu. Bersamanya. Mimpi-mimpiku sejak SMA itu aku tulis jelas di atas kertas origami berwarna-warni. Aku tempel di dinding kosan yang catnya mulai memudar. Mimpiku? Bukan, itu mimpi kita. Mimpi aku dan Fadhel saat SMA dulu. Mimpi-mimpi itu selalu kita ucapkan saat kita sedang berdua. Saat duduk  di pantai sambil memandangi ombak yang bergoyang aduhai. Saat makan sederhana di rumah makan sederhana dengan penampilan sederhana dan cinta yang sederhana. Atau bahkan sekedar minum jus alpukat di tempat favorit kita.

 Salah satu mimpi besar kita kini tak pantas lagi kita sebut mimpi. Karena mimpi itu kini kenyataan. Mimpi bisa masuk universitas terbaik bangsa. Mimpi yang selalu kita panjatkan dalam doa. Aku sebut namamu dalam doaku. Dan kamu sebut namaku dalam doamu. Demi satu tujuan, kita bisa masuk universitas yang sama dan lulus dari universitas yang sama. Tapi, sudahlah lupakan. Itu mimpi kita. Sedangkan, tak ada lagi kata ‘kita’. Kita telah melebur menjadi aku dan kamu. Aku-kamu yang terpisah oleh spasi serta tanda hubung ‘dan’. Aku-kamu yang tak bisa lagi disebut dalam satu kata.

#######

Rintik-rintik hujan mengeroyokku tiada henti. Meski bukan kerikil yang keras. Namun, lebih mematikan. Rintik-rintik itu bukanlah butiran yang bisa dihitung dengan jari. Mereka adalah tetes-tetes air yang membasahiku dalam jumlah ribuan atau bahkan jutaan. Mereka bisa membunuhku perlahan. Aku bisa mati kedinginan.

 Dengan rambut dan baju yang basah kuyup, aku masuk ke dalam ruang perpustakaan yang ber-AC. Buku kalkulus yang aku pegang, turut basah dan sebagian tintanya meluntur. Aku telusuri setiap sudut ruangan. Di lantai satu nampak gaduh dengan mahasiswa yang tengah berdiskusi “Isu Kenaikan Harga BBM”. Di lantai dua, hampir tak ada bangku yang bisa aku duduki. Semua sesak dengan mahasiswa yang tengah bercengkarama dengan buku-buku super tebal. Di lantai tiga, hampir tak ada celah. Namun, bangku di sudut ruangan tepat di sebelah kaca itu sedikit menyegarkan. Akhirnya, aku bisa duduk setelah melangkah dengan tertatih. Aku lelah usai berlari-lari menerobos hujan. Aku lelah setelah menaiki beberapa anak tangga yang licin dan gelap. Seteguk air minum sedikit menormalkan alunan napasku yang terengah-engah.

“Mau ndak kamu ajarin aku bab integral ganda? Aku benar-benar buta bab ini .” Kata seorang yang duduk tepat arah  jam delapan dari sisiku. Wanita dengan logat Jawa kental sedang menatap kawannya dengan penuh harap.

 “Ah, aku mah apa atuh. Aku mah nggak ngerti apa-apa. Dari tadi aku teh cuma bengong , ngerjain satu soal nggak bisa-bisa.” Jawab kawannya yang duduk tepat di sampingku. Dasar ambisius ! Nggak ngerti apa-apa?  Bagaimana mungkin, dari tadi tangannya menuntun pena tanpa henti. Seluruh jawaban dari Bundel soal itu tertulis ulang dengan rapih dalam kertas buram. Bahkan, beberapa halaman nampak tak terlihat kata dan kalimatnya. Semua semrawut tertutup jawaban yang ditulis ulang dengan pena hitam. “Hahaha” aku berguman lirih. Aku seperti melihat bayangan diri namun bukan dari sebuah cermin. Dari dia, seseorang yang duduk tepat di sebelah kananku. Aku melihat keegoisan yang selama ini menancap sedari dulu. Hahaha, aku kembali tertawa dalam hati. Aku nggak sendiri. Senang rasanya bisa berada di kampus dengan ribuan orang yang satu prinsip denganku. Teman adalah teman saat bermain dan bercanda. Tapi teman adalah musuh saat berhubungan dengan masa depan.

  Aku mencoba kembali fokus. Sambil menunggu buku kalkulusku yang belum mengering,  aku  menyalakan laptop. “Ah sial!! “ teriakku kesal. Belum sempat laptopku menyala sempurna, baterainya tiba-tiba habis. Laptop pun mati. Ya, tapi untunglah, di perpustakaan ini, stop kontakberjejer dimana-mana. Sial, tangan laki-laki yang tengah tertidur itu menutupi stop kontak  di atas mejaku. Aku coba menggeser tangannya sedikit. Namun, beberapa detik kemudian ia kembali menempatkan tangannya ke posisi semula. Muka laki-laki itu tertunduk di atas buku yang tengah di bacanya. Ingin rasanya menyiram muka laki-laki itu dengan air comberan. Dia sudah benar-benar membuang waktuku. Teman-temanku sedang memakai waktunya untuk membaca dan mengerjakan soal. Sementara, waktuku terbuang sia-sia hanya karena laki-laki ini. Aku tak akan memaafkannya jikalau Kalkulusku gagal mendapat indeks A .

 Mataku yang sempat tertunduk kesal kembali terangkat ke depan. “Tidak!” Dunia seketika terhenti. Tubuhku mematung tanpa arti. Tepat 180 derajat di depan mataku,  lelaki itu terbangun dari tidurnya. Lelaki yang rambutnya terlihat acak-acakan seusai tidur. Lelaki yang dahinya ada bekas memerah, tertekan bolpoin yang keras. Lelaki yang tangannya aku pegang berulang kali. Lelaki itu dia, Fadhel.

Kami sempat saling menatap. Sebelum pandangan kembali teralihkan. Aku serongkan sedikit badanku menjauh darinya. Dia pun langsung sibuk menatap bukunya. Seolah acuh akan kehadiranku. Kami seolah acuh akan predikat ‘saling mengenal’. Kami seolah-olah sibuk akan dunia masing-masing. Andai dia tahu, mataku tak benar-benar menatap buku kalkulus itu. Mataku hanya sedang menatap masa lalu bersamanya. Masa lalu yang benar-benar aku sesali.

 Aku menyesal, kenapa dulu aku benar-benar buta. Sesosok Vino  aku anggap  kerlingan matanya lebih indah. Mata dengan hiasan bulu mata yang lentik. Sesuatu yang tak ada dalam mata Fadhel. Karena, di mata Fadhel hanya ada sebuah ketulusan sederhana. Senyuman Vino dengan lesung pipitnya  terlihat lebih manis.Sesuatu yang tak pernah terlihat dari pipi Fadhel. Karena  ia hanya bisa menghiasi senyumnya dengan ketulusan. Tapi, ambisi. Lagi-lagi ambisi. Ambisi bisa mendapatkan sosok yang lebih sempurna meluluhlantakkan segalanya. Aku memutuskan jalinan cinta yang baru berumur jagung itu demi Vino. Vino, pria yang ternyata tak pernah mencintaiku dan hanya menganggapku sahabat. Dia pergi, tanpa kabar dan permisi. Sementara, fadhel yang dulu sempat mengemis enggan melepaskanku  itu aku lepaskan dengan keji. Benar kata orang, kamu baru tahu apa itu cinta dan kehilangan setelah orang yang ternyata benar-benar kita cintai itu pergi.

#######

Sudah hampir satu semester aku berkuliah di sini. Aku tersenyum haru saat kembali melewati pintu gerbang utama lengkap dengan icon yang membuat bulu kudukku selalu merinding. Icon gajah kebanggaan yang memang pantas dibanggakan. Terlihat bunga-bunga  bermekaran menghiasi jalan. Masih terlalu pagi memang. Tapi semangatku sudah benar-benar menyala. Tak sabar rasanya bisa belajar, berganti semester bahkan lulus dari kampus ini. Segera.

“Fadhel meninggal.” Kalimat yang terdengar sayup dari orang yang tengah berlalu lalang seketika menonjok jantungku. Ah, mungkin hanya ilusi atau Fadhel-Fadhel yang lain.Bisikku dalam hati. Setelah langkahku berjalan semakin membelakangi gerbang utama, rangkaian bunga belasungkawa berjejer rapih di depanku. Fadhel Avrialiano Putra,terbaca jelas nama itu di mataku. Benar, Fadhel itu dia, mantan terindah yang pernah aku cabik hatinya. Dia pergi, sebelum mimpi kita untuk bisa lulus dari kampus yang sama itu terwujud. Ia pergi, sebelum kita bisa kembali bertegur sapa. Ia mati dalam ketidaktahuan. Teman kosannya mendapati ia sudah tak bernyawa tanpa terduga. Ia sedang terduduk dalam dekapan buku-buku tebalnya. Ambisinya demi meraih  predikat mahasiswa berprestasi ternyata membunuhnya secara perlahan. Ambisi dan IPK seakan jauh lebih berharga dari nyawanya sendiri. Rasa lapar dan dahaga ia acuhkan. Lagi-lagi demi ambisi. Hingga ia pun lupa maag kronis menggorogoti tubuhnya hingga meninggal.

Meski terlambat. Tapi, angin tak akan pernah berdusta jikalau daun yang gugur ‘pernah’ bersatu dengan tangkainya. Dulu. Mesti kini tak akan kembali. Kata ‘pernah’ cukup membuatku bahagia.

  • view 56