#SumpahPemuda2017 : Kibarkan Merah Putih di Atas Pelangi

Riyani Jana Yanti
Karya Riyani Jana Yanti Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 Oktober 2017
#SumpahPemuda2017 : Kibarkan Merah Putih di Atas Pelangi

“Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”
 

Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, ikrar itu pertama kali diucapkan dengan lantang.  Sumpah sekaligus doa untuk masa depan pemuda Indonesia yang kini menyeruakkan beribu tanda tanya. Benarkah kita masih satu? Masihkah pantas negeri ini menyandang semboyan Bhinneka Tunggal Ika? Benarkah negeri ini tercipta dari sebuah pelangi, jika yang dianggap ada hanyalah warna hitam dan putih. Pada detik ini, entah harus kemana lagi kita hadapkan wajah untuk mencari jawaban, jika disetiap penjuru mata angin yang terlihat hanyalah kebencian.

Entah berapa kali kita menyaksikan pemuda-pemuda pendukung sepak bola saling baku hantam menyebabkan pertumpahan darah, padahal tumpah darah kita satu, meski club yang kita dukung berbeda. Entah berapa kali tawuran antar pelajar terjadi, padahal bangsa kita satu, meski asal sekolah kita berbeda. Entah berapa kali kita menyaksikan perang kata-kata di sosial media hanya karena perbedaan dukungan politik, padahal bahasa kita adalah bahasa persatuan.

“Paham kita berbeda! Kamu minoritas! Sukumu sangat terbelakang! Agamamu buruk! “ Kalimat-kalimat itu ibarat polusi yang terus mengotori mata kita saat berselancar di dunia maya.   Umpatan-umapatan  itu jua seakan merusak gendang telinga kita di dunia nyata. Perbedaan ibarat pedang mematikan sekaligus tali pengikat. Seandainya seluruh alat indera kita dapat berbicara, mungkin mereka memberontak. Betapa telinga, mata, kulit, hidung dan lidah mulai merasa kehilangan esensi. Perbedaan bentuk tubuh membuat kita merasa asing. Bermata sipit dan berkulit putih dianggap  musuh, berhidung mancung dinggap kaum munafik, berkulit hitam dianggap etnis tertinggal.  Andaikan perbedaan mati, lalu buat apa kita hidup? Bukankah perbedaan itu hakikat hidup yang sesungguhnya?

Betapa  lucunya negeri ini, terlalu indah dipandang tetapi terlalu pedih untuk dikenang. Tanah air ini bukan gambar hasil photo copy yang hanya berwarna hitam dan putih, bangsa kita diciptakan dari pelangi. Perbedaan yang membuat kita ada dan kaya raya, bukan? 

Di atas tiang-tiang yang kokoh, selembar kain merah-putih melambai dengan getir. Dengan luka jahitan di garis tengah. Hampir terpisah kedua warnanya, sampai waktu membalutnya dengan asa. Memori membawa kita terdiam, mengingat tentang hari dimana merah putih bersatu teguh, menari di atas pelangi perbedaan.  Dimana merah putih berkibar, Indonesia Raya berkumandang di Rio Jenairo tepat di hari perayaan ulang tahun Indonesia, 17 Agustus 2016. Terlihat dua pasang mata berdiri di atas podium dengan kepingan-kepingan air yang tertahan di sudutnya. Ya, mereka adalah Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir, atlet ganda campuran bulutangkis peraih medali emas Olimpiade 2016. Perpaduan antara Islam dan Katolik, Banyumas dan Manado, Jawa dan China. Betapa indah perbedaan itu terlihat, tatkala Tontowi menengadahkan tangan dan mengucap syukur, di sebelahnya Liliyana menyilangkan isyarat salib di dadanya. Melalui mereka, kita diingatkan bahwa perbedaan itu harusnya menguatkan, bukan malah menjadi alasan untuk saling menyakiti dan meruntuhkan. Andaikata mereka  mendebati perbedaan dan saling menyakiti, mungkin hari itu hanyalah mimpi. Meski mereka  tidak sama, tetapi mereka kerja sama. 

Hasil penyatuan dua orang yang berbeda bisa membuat bendera merah putih berkibar di tempat tertinggi. Tak bisa dibayangkan apabila setiap pemuda di negeri ini dipasangkan, dikelompokkan untuk berkarya melakukan hal positif.  Mungkin akan lahir jutaan Tontowi-Liliyana dengan versi yang berbeda-beda. Barangkali Indonesia Raya akan terus berkumandang bersahut-sahutan, tiada henti di berbagai sudut bumi. Barangkali akan ada lebih banyak hasil olahan bumi, teknologi, karya, medali dan senyuman yang terpatri.

MEncintai perbedaan itu sulit
JIka kita lupa atas dasar apa negeri ini lahir
KUatnya tekad tidak akan menghasilkan apa-apa
HIngga kita sadar bahwa bercerai-berai itu salah
BIarkan kita berbeda tetapi kita bekerja sama
NIscaya kita bisa berlari mengejar ketertinggalan
Untuk Indonesia, kita bersatu dan berkarya

Pemuda itu adalah kita
Estetika yang penuh warna
Lahir di tanah yang bhinneka
Alangkah indah bila kita kembali bersumpah
Negeri ini rindu perjuangan seperti dulu
Gerakkan langkah dan rapatkan barisan
Indonesia kuat karena pemuda

  • view 85