Kuas-kuas Menangis

Riyani Jana Yanti
Karya Riyani Jana Yanti Kategori Renungan
dipublikasikan 21 Mei 2017
Kuas-kuas Menangis

Bahasa-bahasa berbeda terdengar asing oleh angin. Saling menampar, menusuk dengan mulut-mulut dan jemari yang tajam. Orang di utara bilang, warna yang suci hanyalah putih. Orang di Selatan bilang hanya hitam yang pantas dipandang. Tetapi orang di Barat bilang, selain biru adalah buruk. Dan orang di Timur bilang warna jingga adalah busuk. Jadi, apakah perbedaan memang diciptakan untuk luka dan juga terluka?

Hingga kuas-kuas menangis. Pensiun dan takut memberi warna, walau hanya segores saja. Bunga-bunga memilih menguncup, takut mekar. Takut akan warna berbeda dengan dedaunan dan pohon sekitar. Pelangi pun memilih bersembunyi dibalik awan dan menitihkan airmata bersama hujan. Toh buat apa? Semesta melirik perbedaan warna sebagai ancaman, bukan?

Di atas tiang-tiang yang kokoh, selembar kain melambai dengan getir. Dengan luka jahitan di garis tengah. Hampir terpisah kedua warnanya, sampai waktu membalutnya dengan asa. Ada amal dan doa kekal dari tanah-tanah yang dulu disebut manusia. Tentang putih tulang remuk dan merah darah yang dulu berceceran. Angin dan langit adalah saksi rahasia pada waktu dulu, kini dan hari esok. Lalu, harus dicari kemana obat atas sayap-sayap burung yang patah?

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    6 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Suka sekali membaca tulisan semacam ini. Menyuarakan pendapat tentang kasus yang masih hangat, yakni perbedaan tentang kasus penistaan agama dengan terpidana Basuki Tjahaja Purnama, dengan cara yang beda.

    Kegelisahan Riyani ini diutarakan melalui karya pendek dengan menggunakan bahasa yang simbolis nan indah yang malah bisa menyentuh esensi opini secara maksimal. Tulisan sejenis ini yang justru mengajak siapa pun yang membacanya berhenti sejenak tak hanya menikmati kecantikan pilihan kalimatnya juga mencerna maknanya. Riyani prihatin dengan sikap beberapa kalangan yang begitu teguh memegang prinsip mereka sehingga enggan menerima celah perbedaan yang ada di masyarakat. Bagus sekali, Riyani.