Aku Tertampar

Riyani Jana Yanti
Karya Riyani Jana Yanti Kategori Renungan
dipublikasikan 21 Mei 2017
Aku Tertampar

Kau tahu rasanya tertampar? Bukan karena tangan yang keras, tapi karena hembusan angin yang lemah. Hey, inilah yang sedang aku rasakan. Tertampar bukan secara fisik, tapi jiwa.

Hay kawan, mungkin kita sama-sama sedang tersipu malu hari ini. Bedanya, pipimu kemerah-merahan, tersipu malu karena kau baru mendapatkan bunga, cokelat dan puisi dari seseorang yang teramat kau cintai. Lalu, aku (yang jomblo)? Hmmm, aku sedang tersipu malu dengan waktu. Tentang waktu yang telah benar-benar pergi. Waktu yang sedang aku peluk erat dengan setangkai penyesalan.

Aku benar-benar tertampar. Orang bilang, ITB = Institut Terbaik Bangsa. Ah, tapi maaf, nyatanya aku bukan salah satu putri terbaik bangsa seperti yang digadang-gadangkan. Sekali lagi, aku tertampar. Aku benar-benar tertampar oleh para peserta "Essay Competition and IoT Innovation Challange 2016" yang diselenggarakan Himpunanku tahun lalu. Bagaimana mungkin, seorang mahasiswi yang diberi kesempatan emas untuk menuntut di Institut (yang katanya) terbaik bangsa ini hanyalah seorang penonton yang terus-terusan bertepuk tangan.

Jika kedua pipi diibaratkan waktu, maka lomba tersebut menamparku dalam dua sisi sekaligus, tentang masa lalu dan masa sekarang. Dimasa lalu aku tertampar, tentang diri yang dulu tak pernah mau mencoba. Malu dengan anak-anak SMA peserta Essai IoT 2016, dimana mereka yang notabene anak-anak daerah yang tidak memiliki laptop, bercucur peluh serta berjalan menuju warnet hingga tengah malam untuk mengikuti kompetisi. Ah, aku? Boro-boro keluar malam, tinggal duduk manis di atas kasur sambil menyantap cemilan dan laptop di depan mata saja aku "malas". Malas untuk berkompetisi dan malas untuk berkarya.

Oke, sejenak lupakan masa lalu. Bukankah masih ada waktu sekarang? Ah, apa gunanya? Bukankah masa sekarangku tak lebih baik dari masa lalu? Bukankah masa sekarangku di tempat ini sudah hampir di batas waktu? Aku masih saja menjadi seseorang yang hobby bertepuk tangan, tanpa mau berusaha untuk menjadi seseorang yang berdiri ditepuk tangani. Dan ketika aku melihat daftar peserta yang notabene (maaf) banyak dari nama-nama universitas yang baru aku dengar, aku jadi berpikir. "Harusnya mereka yang ada diposisiku, menimba ilmu di Institut ini." Sekali lagi, aku pikir mereka lebih pantas disebut putra-putri terbaik bangsa.

Wahai diri, mahasiswi tingkat akhir yang waktu mahasiswinya tinggal sebentar lagi (semoga) coba renungkan dan jawab ini :
"Kalau kamu tahu dirimu masih saja menjadi ulat, belum kupu-kupu atau bahkan beranjak ke fase kepompong pun belum mampu. Terus kamu mau apa? Tetap saja diam dan biarkan waktu membunuhmu tanpa pencapaian apapun? Ah, tapi ini batas waktu, masa lalumu sudah pergi dan masa sekarangmu akan segera menyusul. Hey, tunggu, bukankah kamu masih punya masa depan dan juga Tuhan? Pepatah lama bilang, 'Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik.' Jadi, mau terus diam atau berani keluar dari cangkang? "
,
.
.
Teruntuk kamu yang waktunya masih panjang, BERKARYALAH !!! Buatlah almamatermu tersenyum, tanpa nanti.
.
Satu kecup mesrah untuk ITB (kiss me) Maaf lukisan indahku bukan untuk hari ini. Bukan di tempat ini, dan bukan untukmu. Tapi, suatu hari nanti, dari kejauhan aku akan membuatmu tersenyum. Tetapi untuk hari ini, "Maaf aku melukaimu..."

#menginspirasiITB #menginspirasiIndonesia

  • view 58