Hijrahnya Bidadari Neraka (Part 1)

Riyani Jana Yanti
Karya Riyani Jana Yanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 September 2016
Hijrahnya Bidadari Neraka (Part 1)

Detik-detik terberat dalam hidup itu benar-benar aku alami. Hati seakan  terbelah dua. Belahannya bersitegang tentang pilihan. Hidup ataukah mati. Padahal, jarak antara pisau dan pergelangan tangan hanyalah tinggal sejengkal kuku. Batinku tetap saja  berkecamuk dalam ketidakpastian yang pasti. Hidup dan mati bukankah hanya perbedaan nama. Dunia dan akherat. Sedangkan  aku tetap takkan pernah bisa beranjak. Dimanapun itu, tetap saja aku menamainya neraka.

“ Sampah, mau mati kau? ” Suara ayah yang tiba-tiba itu membuatku refleks melemparkan pisau entah kemana.

Kepalan tangan lelaki pemabuk itu mengikat erat kedua tanganku. Radius wajah kami hanyalah sejauh ujung dan pangkal lidah. Hingga bau alkohol dan rokok dari mulutnya tercium jernih. Dengan sekuat tenaga kutendang-tendang perutnya dengan siku tangan yang masih sedikit longgar.

“ Oke, aku memberimu tiga pilihan. Mau mati bunuh diri, mati ditanganku ataukah mati dalam pelukan seorang duda kaya? Aku bisa kaya raya jika kau mau memilih pilihan ketiga. Hahaha. ” Perih terpendam di liang luka setiap bibir ini ingin memuntahkan sepatah dua patah kata. Hingga suaranya tetap teredam. Membisu. Tak habis pikir, perkataan sekeji itu bisa terlontar dari seorang ayah kepada anak kandungnya.

Saat ia mulai terhanyut dalam hayalan-hayalan rancunya, saat itulah kepalan tangannya mulai melonggar. Takkan kusia-siakan secuil peluang itu. Kudorong tubuhnya sekuat tenaga hingga suara benturan kepalanya  menggelegar.

Aku berlari sembari meraba-raba dinding dengan napas yang tersengal. Tongkat kayu  berukuran satu meter tak lupa aku bawa bersama kegamangan yang menjuntai. Beruntunglah pintu rumah berbahan bambu itu sedang tidak terkunci.

Berjalan melewati jalan dan pepohonan yang tak pernah aku tahu. Tanpa tahu mana itu selatan, utara, barat, dan timur. Tapi kakiku seakan memiliki mata untuk selalu melihatnya. Penglihatan yang mungkin selalu menuntunnya melewati jejak-jejak yang sama. Kearah suatu tempat dimana hati selalu punya ruang untuk mengadu. Tempat itu, tempat pemakaman umum di mana tulang-belulang wanita itu terpendam.

#####

Hari pertama…

 

Tepat di sini aku berdiri, perbatasan antara surga dan neraka itu ada. Di sebelah kanan dimana pohon kamboja itu berdiri. Disitulah aku menyebutnya surga. Tak peduli seberapa banyak pohon kamboja yang tumbuh. Pohon ini berbeda. Di sinilah aku merasakan bahwa dedaunan lebih meneduhkan dari atap rumah. Meski aku tak pernah tahu apa warna dan bagaimana bentuknya. Hatiku selalu punya tautan untuk menggerakkan kaki kearahnya.

Dan pusat neraka itu ada hanya lima langkah dari kesejukkannya. Neraka yang menjadi pusat terciptanya berbagai neraka di dunia. Hingga rumah bagaikan neraka, jalan bagaikan neraka dan hidup bagaikan neraka. Ya, di sana. Tempat dimana wanita busuk itu membusuk dimakan tanah.

Dengan tangan terkepal kaku serta kepungan bayangan masa lalu, aku menahan kesesakkan. Menyapu langit dengan pandangan semu tanpa berbicara. Gelap.

Hati dan pikiran yang terbiasa sunyi mulai berontak. Mereka lelah dengan susunan kata yang lagi-lagi harus tertahan. Tak adakah telinga yang mampu menampung muntahannya. Orang tua, saudara, sahabat hanyalah mitos yang tak pernah aku miliki. Apalagi Tuhan.

Hanya saja hari ini aku merasakan kesunyian yang berbeda. Dari tempat pemakaman yang biasanya hanya terdengar kelibatan dedaunan yang terseok angin serta jangkrik berdenging pelan. Ada suara yang terdengar sangat asing. Alunannya lebih merdu dari dedaunan yang saling bergesakkan. Sepotong hati yang biasanya mati dan kaku, kali ini bergetar. Suara itu sangat dekat, sedekat hati dengan tulang rusuk yang melindunginya.

Beberapa saat kemudian, suara itu lenyap. Suara telapak kaki yang menyeret-nyeret sandal seketika mengganti keindahan itu.

“ Auuu…” Teriakku lirih. Jemari-jemari yang entah darimana datangnya tiba-tiba menjambak rambutku dari belakang. Beberapa helainya jatuh menggelitik leher.

“ Ma…maaaf. Nggak sengaja. ” Suara lelaki dengan nada terbata-bata tiba-tiba meminta maaf kepadaku.

“ Kurang ajar sekali kau! “

“Maaf.”

Sekarang, aku tidak tahu lelaki itu berdiri di sebelah mana. Kanan, kiri, depan ataukah belakang. Emosiku sudah benar-benar memuncak. Daripada salah arah, lebih baik kulampiaskan saja segenap kekesalan pada makam wanita itu. Aku melemparinya dengan kerikil, ranting dan apapun yang aku kais dari tanah.

“ Wanita gila, hidupku jadi seperti ini gara-gara kau! Mampuslah kau di dalam kubur. Mampuslah kau di neraka. “

“ Hai, tunggu, tunggu! Apa yang kau lakukan? Kau gila? Aw, sakit.” Sepertinya aku mengarahkan lemparan ke arah yang tepat.

“ Iya, aku gila. Bangkai yang ada di dalam makam ini yang membuat aku gila. ”

Iya, tenang, tenang. Berhentilah melempari tubuhku dengan benda-benda itu. ” Dengan bodohnya aku menuruti permintaan lelaki itu.

“Emangnya ini makam siapa? Kamu kira, dengan melakukan tindakan gila ini, hidup kamu bisa berubah? Lagian dia sudah mati.”

“Dia wanita ahli neraka. Sesosok  Ibu yang membuat mata anaknya tak bisa melihat apa itu warna. Apa itu bunga kamboja. Apa itu hidup. Apa itu bahagia.”

Seketika kuburan ini berubah sebagaimana mestinya. Sepi. Hening. Hampa. Detik demi detik, menit demi menit terlewati dengan tanpa makna. Lelaki itu tetap saja membisu. Ia enggan berucap hingga azan dzuhur berkumandang bersahut-sahutan  memecah sunyi.

“Maaf, sudah adzan. Ayo, ikut aku ke masjid. Tenangin diri. Daripada meluapkan kekesalan pada sesuatu yang tak mampu memberimu jawaban. Coba datangi dan luapkan segalanya pada Tuhan. Kau akan temukan semuanya. Jawaban keresahanmu, kebencianmu, dan kesedihanmu.

“ Aku tidak pernah mengenal apa itu shalat. Shalat hanya untuk orang-orang yang hidup normal sepertimu. Tak ada alasan orang buta sepertiku mengenal kata kebajikan. Toh, aku sudah terbiasa hidup di neraka. “

“ Tapi… ”

“ Diam kau! Pergi ! ” Aku memotong kalimatnya sembari mendorong tongkatku ke arah tubuhnya. Kerikil-kerikil tajam kembali aku lempari dengan tanpa jeda.

“Ok. Aku pergi.”

####

 

Sumber gambar : http://erlindaenglish.blogspot.co.id/2012/02/gambar-animasi-bidadari-surga.html

Dilihat 358