Opera Gunung Kapur

Riyani Jana Yanti
Karya Riyani Jana Yanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Agustus 2016
Opera Gunung Kapur

Seekor Jalak  tua mengudara tanpa tujuan. Mengitari setiap puing-puing kenangan yang membangkai. Batang-batang yang telah terpotong, daun mengering dan tanah yang semakin mencekung. Ia sedang berandai tentang segala hal. Andai waktu dapat diputar, andai semua dapat kembali, dan andai dia Tuhan. Sayangnya, ia bukan Tuhan. Menitihkan air mata, satu-satunya cara untuk meremas-remas  ilusinya. Betapa berat meratapi ketiadaan yang sangat indah. Masih jelas terbayang, sesuatu yang dulu menjulang kini telah hancur menciut. Rata.

Dahulu jalanan ditata rapi dengan batu di sisi kanan kirinya. Lihat, sekarang hanyalah  tanah kering bercorak ban mobil truk yang menyerupai motif mega mendung, menancap sedalam 25 cm.  Bahkan, berubah menjadi lumpur di musim penghujan. Jalak kehilangan riak air yang mengalir dari telaga di atas bukit. Tidak ada lagi wangi semak perdu yang dihiasi bunga-bunga kecil. Gemuruh mesin-mesin pabrik dan kendaraan seakan meredam suara cicitan burung-burung hutan, termasuk Jalak.

Ia terus saja meratap. Suara tangisan  sahabatnya, Batu Tua, memekikkan telinga sampai  menembus hati. Hampir saja ia menabrak pohon pinus. Sehelai sayapnya patah. Jatuh ke tanah setelah terombang-ambing sekian menit. Warna hitamnya pudar, tersamarkan abu kapur yang berserakan di udara.

Sahabat Jalak itu, bukan batu biasa. Batu itu dianggap keramat bagi warga sekitar. Apalagi, di dekat batuan ini  terdapat makam keramat.  Berbeda, batu keramat ini berwarna hitam kontras dengan batuan sekitar yang berwarna putih. Sekilas dia seperti  batu beku andesit atau basalt yang banyak ditemukan di daerah gunung api. Jalak pun merasa aneh, karena batuan disekitarnya merupakan batuan sedimen. Setelah mendengar cerita si batu, Jalak akhirnya mengerti. Ternyata dia hasil kegiatan Gunung Ciremai yang letaknya sangat dekat dengan mereka. Kekuatan letusan yang besar mengantarkan  batuan ini sampai kedalam hidupnya.

“Kenapa kau menangis, sahabatku?” Tanya burung Jalak.

“ Hidupku tidak akan lama lagi. Opera kehidupanku akan berakhir. Gunung kapur akan segera tenggelam, dan dataran kapur akan segera terbit.” Jawab batu.

 “Tak ada yang perlu ditangisi. Kita takkan bisa hidup selamanya. Bukankah takdir memang semenyakitkan itu?”

“Ya aku tahu. Masalahnya, disisa hidupku, kenapa rumahku semakin hancur ? Yang lebih menyakitkan, aku kehilangan satu warna di dunia.”

“Apa itu, sahabatku?”

“Hijau.”

Ketika mendengar kata hijau, Jalak langsung lemas. Ia terbang kecil, jatuh tepat di atas tubuh batu. Memeluk erat. Tanpa sadar, tetes demi tetes air matanya jatuh membasahi si batu.

“Kenapa kau ikut menangis, Jalak?”

“Aku merasakan kegetiran yang sama sepertimu.”

Mereka bersahabat sejak lama. Bermula dari kejadian konyol. Saat Jalak belajar terbang untuk pertama kalinya. Dia sembrono, jatuh tersungkur di atas badan si batu. Sejak itu, si Jalak tak pernah absen mengunjungi batu. Menjadi saksi tentang ruang-ruang yang semakin terjarah. Tentang hidup yang entah masih pantas ataukah tidak disebut hidup oleh mereka.

Tanpa sadar, Jalak terlelap di pangkuan batu. Tak peduli meski tak seteduh dulu. Dimana dedaunan dari berbagai pohon saling tumpang tindih menaungi si batu. Suara gemericik air yang meninabobokkan sudah lenyap sejak sepuluh tahun silam.

 Sayangnya, semua berubah. Bukan lagi gemuruh petir yang bisa membangunkannya. Hujan telah lenyap sejak delapan bulan yang lalu. Kemarau masih tak memberi isyarat apapun untuk berhenti. Semua berubah. Hanya Suara deru geram mesin-mesin kendaraan pencetak uang yang mampu membangunkan. Ia terperanjat. Terperosok dari pangkuan batu. Lupa akan fungsi sayapnya yang bisa dikepakkan.

Batu refleks tertawa. Sementara Jalak kembali mengepakkan sayap dan terbang satu meter di atas Batu.

“Batu, sepertinya aku harus pergi. Aku ingin memantau tingkah makhluk-makhluk serakah itu.”

Lalu Jalak melesat ke arah tenggara. Mendekati suara kebisingan.

*****

Di tempat lain, seorang anak lelaki lima tahun duduk termenung dipelataran rumahnya.

Matanya menatap bergantian. Sesekali menunduk ke buku gambar yang digenggamnya, sesekali melotot lurus kearah depan pandangannya.

            Dengan jalan mengesot sebanyak tiga langkah, ia menarik sebuah selendang. Selendang yang terikat di pinggang seorang wanita yang sedang menari luwes menggunakan topeng berwarna merah muda. Topeng itu biasa disebut topeng Rumyang, menggambarkan kehidupan remaja pada akil baligh. Tentu, hal ini sangat sesuai dengan kehidupan wanita itu yang sesungguhnya.

Ya, perempuan itu adalah kakaknya. Yayu, begitu ia disapa adiknya. Yayu bukanlah nama aslinya. Hanya panggilan umum yang biasa digunakan untuk memanggil seorang wanita yang lebih tua.

“Yu, kenapa gambar gunung dari  Ibu Guru sama yang aku lihat didepan berbeda? Ini yang benar yang mana jeh, Yu?”

            “Beda apanya sih, Cung?”

            “Kata Bu Guru, gunung itu tinggi terus ujungnya lancip. Kenapa gunung yang ada di depan kita kok rata ya, Yu?”

            Perempuan itu menjatuhkan topeng yang tengah digenggamnya. Ia termenung sejenak. Hingga tubuhnya merosot. Terduduk perlahan di samping adiknya.

            “Dulu, gunung kapur di daerah kita itu tinggi sekali. Sejak ada pabrik semen, semuanya berubah. Setiap hari batunya diangkut, tanahnya dikeruk, pohonnya ditebang. Ya begitulah jadinya.”

            “Tapi kalian butuh rumah, sekolah, rumah sakit, mall, stasiun. Semuanya itu butuh semen. Tanpa semen, kalian kembali ke jaman purba saja sana.” Seorang lelaki gemuk berkumis tebal menyela dengan suara lantang.

            “Tapi Ma, nggak bisa lebih bijak lagi tah? Kita memang butuh rumah, tapi kita juga butuh alam.”

            Mama, begitu lelaki itu biasa dipanggil. Disana, itu bukan panggilan untuk seorang ibu. Ibu mereka biasa dipanggil Mimi. Ia sudah tiada sejak tiga tahun lalu, terkena kanker paru-paru.

“Ingat, kalian makan juga dari hasil seorang supir angkut batu, tanah, bahkan semen. Tanpa semen, kalian pikir bisa makan?”

“Tapi Ma…”

Seketika perhatian mereka teralihkan. Di depan mereka bergerombol orang sambil mendendangkan lagu-lagu khas Jawa dan bahasa daerah mereka. Orang-orang itu tengah melakukan arak-arakan untuk merayakan ulang tahun anak kecil. Awalnya, arak-arakan itu dimulai dari rumah anak yang berulang tahun, lalu berangkat menuju tengah desa. Disana ada sebuah pohon beringin besar, mereka mengelilingi pohon itu sebanyak tiga kali. Setelah meletakkan sesaji, arak-arakan ini berlanjut  dan berakhir kembali di depan rumah anak tadi.

Dengan bahasa mata, kedua kakak beradik itu berdiri, saling bergandengan, dan mengekor rombongan di baris terakhir. Sementara Ayah mereka hanya tersenyum dan melambaikan tangan member isyarat.

***

Jalak terus saja menangis. Ia tak tahu lagi harus berapa lama terdiam. Menahan gejolak, tidak melakukan apapun, seperti racun belerang yang bisa membunuhnya perlahan.

Dengan mata kepalanya ia melihat  mobil-mobil besar itu terus saja mengeruk bumi tanpa ampun. Mengeruk gundukan menjadi rata. Mengubah tanah rata menjadi cekungan. Batu-batu besar pun terus diangkut dengan alat-alat berat. Dilihatnya pula, para mandor tertawa sambil berkaca pinggang. Sementara para pegawai berpakaian penuh debu dan muka dekil terus saja berlalu-lalang. Peluh mereka menetes, berbaur dengan daki yang membuat bulir-bulir air di pipi  terlihat menghitam.

Jalak terbang ke bawah. Berkeliling tepat di atas pegawai-pegawai itu.Sesekali kaki Jalak membelai rambut-rambut mereka. Wajah mereka mendongak dengan tangan menangkis ke atas. Jalak tidak menyerah, terus saja mengusik.

“Woi. Ini burung jadi-jadian. Hati-hati,  titisan Nyi Mas Gandasari.” Kata salah satu pegawai itu.

“Ngawur kamu ini, Ang. “ kata yang lain, menyela.

“Sudah jangan hiraukan. Kerja, kerja dan kerja saja lah yang benar. Tak usah bergosip yang tidak-tidak. “ Kata mandor melerai.

Mereka melempari Jalak dengan batu-batu kecil. Bahkan, sebuah ketapel siap dilesatkan ke arah Jalak. Jalak pun  terbang semakin tinggi. Pergi menjauh. Ia kembali kepelukan batu dan menceritakan semuanya. Esoknya kembali mengganggu manusia-manusia itu lagi, lalu senja ia kembali melaporkan ke batu lagi. Terus saja kisah itu berulang tiada henti.

“Aku menyerah, Batu.”

“Untuk Dunia yang begitu megah, dan alam yang sangat indah ini, kamu menyerah?”

“Aku tak semegah dunia, dan ragaku tak sekeras dirimu. Aku lemah dan kecil.”

“Aku tahu, tapi aku jauh lebih lemah. Andai aku dirimu. Bisa terbang, punya sayap, mencengkeram, dan bersiul. Aku akan berjuang habis-habisan demi dunia ini.”

“Tapi kau tidak mngerti. Aku burung, mereka manusia.”

“Tidak kah kau berjuang sekali lagi?”

“Tidak! Aku ingin hidup tenang.”

“Dengan melihat segala kerusakan ini, kamu berpikir hidupmu akan tenang?”

“Setidaknya aku tidak kena masalah. Biar waktu yang menyabut nyawaku, bukan mereka.”

“Baiklah, kalau kau menyerah untuk mencegah manusia itu menerbitkan dataran. Aku mohon, jangan tenggelamkan harapanku yang lain.”

“Harapanmu yang lain?”

“Lihatlah sejenak,  Jalak. Berbalik badanlah. Tidakkah kau melihat ada sesuatu yang berbeda. Tidak kah kau kehilangan suara-suara yang selalu mengalun di setiap perbincangan kita. Lihat Jalak, sumber air panas di belakangku sudah mengering. Aku mencintainya. Aku mau dia kembali. Hanya hati emas manusialah yang bisa mengembalikannya.”

“Tapi bagaimana cara kita mencari hati itu, sedang kita tahu bagaimana hati manusia sekarang?”

“Diantara milyaran yang hitam, pasti masih ada satu yang emas. Aku mohon, sebelum dataran kapur terbit, kau harus menemukannya.”

“Bagaimana caraku mengetahui kalau seseorang itu berhati emas?”

“Percayalah pada Tuhan, Dia akan selalu punya cara untuk menuntunmu.”

            Kemudian pergilah Jalak. Ia menyusuri setiap sudut kota. Mencari dan mendekati orang yang disinyalir memiliki hati emas. Ia mencoba mendekati seorang pejabat yang sangat dermawan dan dekat dengan rakyat. Ternyata, ia hanya bersikap bijak jika ada wartawan dan kamera. Di luar itu, ia korupsi besar-besaran.  Iapun mengurungkan niatnya. Langkahnya lalu tertuju pada seorang alim ulama yang sangat bersahaja. Ternyata ia seorang perenggut mahkota kesucian puluhan santrinya sendiri. Seorang polisi tegas, ternyata penerima suap. Seorang selebriti yang menginspirasi, ternyata menjual diri. Seorang mahasiswa yang sering berkoar-koar tentang kemanusiaan, ternyata pembunuh calon anaknya sendiri. Jalak terus saja berputar-putar mencari orang yang benar-benar berhati emas. Akhirnya ia kembali ke batu, dan untuk kedua kalinya ia bilang, “menyerah”.

            “Tidakkah kau berjuang sekali lagi? “ Pertanyaan yang sama dilontarkan oleh batu kepada Jalak.

            “Kali ini aku benar-benar menyerah. Aku mau jadi makhluk apatis yang seolah tak tahu apa-apa. Aku lelah. Aku sudah tua.”

            Perdebatan mereka  seketika teralihkan. Sesosok bocah kecil menggeret mobil truk mainan dengan segundukan pasir yang diangkutnya. Ia menumpahkan pasir itu ke tanah. Diratakan dan dikaisnya tanah itu dengan tangannya sendiri.

            Ia terlihat tenang sampai suara bulldozer memekikkan telinganya.

            “Sini nak, bersembunyi di belakangku.” Kata Batu.

            Bukannya berdiri di belakang batu, anak itu malah berdiri gagah di depan sambil merentangkan tangan.

“Ya ampun, Udin ngapain kamu disini? Di sini bahaya, cung, bahaya! “

“Jangan lindas batu ini, Ma.”

“Bocah cilik ngerti apa, Cung? Tunngu dulu, bagaimana kamu bisa  ada di sini?”

“Tadi pagi, aku menyelundup masuk ke belakang mobil truk Mama.  Aku cuma mau mindahin pasir dari rumah ke atas sini. Aku mau, gunungnya jadi lancip seperti gunung yang digambarkan Bu Guru.”

Sementara burung Jalak hanya bisa bersembunyi di belakang batu. Tak begeming sedikitpun.

Ayah Udin akhirnya turun. Menarik tangan anaknya dengan paksa. Dibawanya Udin naik ke atas Buldozer.  Udin terus meraung, tapi tidak diiindahkan.  Rekan kerja ayahnya, yang duduk di samping membantu mengamankan. Di pangkunya si udin dengan cengkeraman tajam.

Buldozer itu berjalan lambat namun pasti. Didorongnya Batu itu dengan kekuatan super. Hingga tanah menyerah untuk mempertahankan pelukannya. Bergulinglah batu, menyapu tanah. Udin mnggeliat, digigit  tangan orang yang menahannya hingga meronta. Lebih dari itu, Udin pun loncat  dan terguling. Menyatu bersama batu dan Jalak. Terperosoklah mereka ke sungai yang gersang tanpa air. Tragisnya, Udin jatuh terlebih dulu, lalu batu menimpa tubuhnya yang mungil. Terberailah beberapa organ tubuhnya.

 

Seketika, sumber mata air panas itu memancar. Cepat. Dahsyat. Berwarna merah, tercampur darah Udin yang masih basah. Di sisa napasnya, Jalak terlihat  tersenyum. Ia berhasil menunaikan permintaan terakhir si Batu. Sepotong hati yang selama ini dicarinya ternyata berkilau jelas diantara air yang mengalir dangkal. Hati itu berwarna emas. 

  • view 185