Asa dan Sayap Pecundang

Riyani Jana Yanti
Karya Riyani Jana Yanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Juli 2016
Asa dan Sayap Pecundang

AKU HARUS MENGALAHKANMU!

Tulisan itu kutulis besar-besar pada selembar kertas A4 dengan  spidol merah menyala. Sengaja kutempel tepat di depan meja belajar agar mataku tak pernah berpaling dari waktu. Sekalipun waktu telah berlari menjauh tanpa berkata permisi sedikitpun. Sampai kapanpun tulisan itu akan terus terpampang, kecuali aku telah benar-benar menjadi seorang pemenang. Begitu tekadku dulu. Meraih penghargaan paling bergengsi di kota ini. Ambisi gila itu terus saja menggerogoti hati sampai aku tahu betapa sakitnya kegagalan. Dan sejak itu aku tahu, ternyata kegagalan membunuhku jauh lebih cepat. Pilihannya hanya dua, menyerah atau menghabisi semua musuhku dengan cara yang keji.

"Ah, tapi ternyata aku dilahirkan untuk gagal."

“Seandainya satu milyar orang di dunia mengatakan kau takkan mampu. Percayalah, ada satu orang di dunia ini yang akan menolaknya habis-habisan. Dan orang itu adalah aku.” Asa, sahabat yang satu ini memang selalu datang dengan kejutan. Dengan kata-kata yang tak pernah mampu diterima oleh orang-orang yang sedang berada diujung perjuangannya untuk menyerah. Selalu datang saat langit di luar mendung. Saat gerhana bulan total, atau setidaknya saat malam tiba. Terkadang aku membencinya. Aku selalu mengatakan bahwa dia pembohong. Seseorang yang berlagak seolah tukang ramal sekaligus penulis novel spesialis happy ending. Apa yang dia katakan hanya membuat orang melesat setinggi-tingginya lalu jatuh sejatuh-jatuhnya. Dan orang yang paling sering jatuh sejatuh-jatuhnya itu aku. Karena dilahirkan menjadi seseorang yang tak memiliki sayap adalah kenyataan pahit yang harus diterima, setiap kali jatuh ke jurang dan tak tahu bagaimana cara untuk kembali terbang.

“Sudah lah, Sa. Aku rasanya ingin menyerah saja. Aku pikir, aku bukan esok dan hari ini. Aku ingin  tetap menjadi kemarin yang hidupnya tenang dan baik-baik saja,” kataku menimpali.

“Kamu mampu, Ana.   Kamu akan menjadi pemenang Kontes Walikota itu tahun ini. Prilly, Sandy, Cinta, dan Katty bukanlah lawanmu. Kau lebih tangguh dari mereka. Waktumu akan habis sia-sia jika kau gunakan untuk berpikir tentang hal itu. Ingat, waktu tidak pernah berjalan mundur. ” Sambut Asa sembari menepuk pundakku.

“Kamu gila ! Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu, sementara kau tahu, aku tak pernah menjadi pemenang dalam hal apapun.”

“Kan sudah kubilang, mereka bukan musuh yang sepadan untukmu. Kau diciptakan bukan untuk mereka, tetapi untuk orang yang lebih tangguh.  ”

“Sampai kapanpun, aku takkan bisa mengalahkan kecantikan Bella, kecerdasan Prilly, kekayaan Katty, kekuatan Sandy dan kesempurnaan Cinta. Karena sekali pecundang  selamanya aku tetap pecundang.”

Asa mulai tertawa geli, memalingkan muka dan kembali membalikkan mukanya dengan kelakar yang lebih lepas. Membuatku ingin melempar semua benda-benda di meja itu ke mukanya. Ada pedang, racun, dan juga bom. Tapi dia sahabatku, aku tak mungkin melakukannya.

“Diamlah kau Asa! Oke, aku tidak meyerah untukmu. Aku akan melanjutkannya dan kembali melakukan semua kegilaan itu. Membuat racun perusak wajah dan pembeku otak, serta merancang bom dan stategi menghunuskan pedang dengan cara yang cerdas.”

Kami sama-sama terdiam sejenak. Menatap langit-langit dan lantai secara bergantian. Hingga Asa menarik tanganku, menuntun lalu memberhentikanku di depan cermin lemari berukuran 0,5x2 m itu.

“Hey lihatlah ! Kamu Gila ! Bukan dengan pedang, panah maupun bom atom seharusnya kau berjuang. Berpura-pura menjadi pemenang tanpa sebuah pencapaian itu sia-sia.  Menjadi pemenang dengan menghancurkan lawanmu adalah kekalahan yang sesungguhnya. Ingat musuhmu bukan mereka.”

Dengan arah badan dan pandangan lurus tepat di depan cermin, Asa lalu menarik dan menegakkan daguku. Dengan sorotan mata tajam kami sama-sama memantapkan pandangan ke arah depan. Bersitatap melalui pantulan. Sambil terus mencengkeram daguku dia berkata, “Lihatlah lawan terbesarmu yang sebenarnya adalah seseorang yang ada di dalam bayangan cermin itu. Dan tentunya itu bukan diriku, apalagi mereka.”

 

                                                  

 

 

Dilihat 158