Ginjal Penyaring ijazah

Riyani Jana Yanti
Karya Riyani Jana Yanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Juli 2016
Ginjal Penyaring ijazah

Mata kecokelatan nampak tak secokelat biasanya. Merah pudar menyatu dengan putih yang kehilangan beningnya.  Mataku yang berbinar kini tengah senyap. Air mata yang jatuh meluruh nampak tak terlihat. Tertutup guyuran air dari gayung biru tua yang retak. Tak ada lagi lagu All of me yang biasa kunyanyikan dengan lantang di kamar mandi. Vibra suara yang terdengar dari jerit tangis yang aku luapkan nampak seindah suara Celline Dion dalam lagu My Heart Will Go On.

 "Tuhan, apa gunanya aku hidup? Aku anak  tidak berguna. Sampah. Harapan, harapan, harapan terus yang aku janjikan. Lama-lama ayah bisa terbunuh oleh harapan-harapan palsu itu. " Aku berdialog dengan cermin dihadapanku.

Bayangan diri dalam cermin persegi yang basah berembun itu tak ayal menjadi pelampiasan amarahku. Aku melihat wajah orang paling tidak berguna di dunia ini. Ingin rasanya aku bunuh wanita sialan itu tanpa ampun. Aku mutilasi. Aku bakar. Aku hanyutkan abunya ke dalam air comberan yang menjijikkan. Wanita itu dan air comberan sama-sama menjijikkan, bukan? “ Ah, tapi wanita itu AKU !”

 " Dua tahun sudah aku diwisuda, tapi aku masih pengangguran. Aku mau kerja. Tuhan, Kau tidak tuli kan? Aku mau diterima kerja. Cuma itu." Lagi-lagi aku berdialog seorang diri.

Suara ketukan pintu sayup terdengar berpacu dengan suara tangisanku yang mengeras. Aku pikir itu hanya ilusi. Tapi suara itu semakin keras. Dorongan tangan dan tendangan kaki pada pintu itu turut menggetarkan cermin layaknya gempa bumi .

" Eni ! Buka pintunya! Ada telfon dari ketua HRD Unigama."

"Unigama?"

"Aduh En, itu tempat bimbel anaknya Ibu Ratna. Siapa tahu kamu keterima kerja di sana."

Aku kaget. Sikat gigi yang baru saja aku oleskan odol itu terlempar ke dalam bak mandi. Dengan sigap kubalut tubuh dengan handuk bergambar Barbie warna merah muda.Ah, tiba-tiba aku lihat air membentuk lekukan senyum yang indah. Bahkan, retakan cermin seolah nampak seperti bulan sabit yang sumringah. Seakan semesta mendukung dan berkata, “Selamat Eni.”

 Pintu seng yang sulit terbuka pun aku dorong sekuat tenaga. Dengan tangan basah aku rebut handphone touchscreen dari genggaman ayah.

"Halo, ini Eni. Jadi kapan saya bisa mulai bekerja, Pak?"

Dengan penuh antusias aku berkoar panjang lebar tanpa memberinya kesempatan bicara. Tetapi, OH. Akhirnya, hanya kata 'oh' yang bisa aku katakan. Mungkin sesingkat itu pula kata yang bisa aku jelaskan kepada ayah.

"Kamu keterima kerja kan, Nak? Kamu hebat, Nak. Kamu memang hebat!"

"Belum, Yah. Dia cuma bilang kalau KTP aku ketinggalan. "

"Oh."

Lagi-lagi kata 'oh' cukup menjadi penutup sebuah harapan. Aku lihat harapan itu sudah terberai dari mata ayah yang sendu berkaca-kaca. Tak habis pikir, aku kembali ditolak kerja. Bisa-bisanya mereka bilang aku kurang gaul dan menarik, hanya untuk menjadi guru bimbel murahan. Mereka sudah menghina lulusan terbaik dari universitas terbaik. Kurang ajar.

"Suu...."

Belum  usai kata itu ayah ucapkan, ia kembali lemas tak berdaya. Tiba-tiba, lima suap nasi yang baru ia cerna kembali termuntahkan.

"Ayah ! Ayah ! Ayah kenapa?"

Belum sempat tanda tanyaku terjawab. Ia tersungkur. Kepalanya jatuh di atas ember cucian. Gelembung-gelembung busa yang kembang kepis menutupi mukanya yang keriput. Tak ada yang bisa aku lakukan selain berteriak. Jangankan mengangkat tubuh orang lain, menggerakkan seujung jemari pun serasa sulit. Aku lemas. Tubuh seakan mematung terhentikan waktu yang tak siap menerima kenyataan. Berharap ada yang datang menolong. Segera.

 

#########

 

Dan lagi. Bau rumah sakit harus aku cium tanpa henti. Kasihan ayah. Semua takkan terjadi andai aku bisa menanggalkan predikat pengangguran ini. Terkadang, aku menyesal, kenapa harus terlahir menjadi seorang sarjana. Buat apa membuang masa mudaku dengan kerja keras tanpa makna. Kerja keras yang tak ada harganya. Lebih baik aku nikah muda, hura-hura, nongkrong di diskotik, bahkan narkoba, jika dengan itu aku lebih dihargai. Buat apa belajar mati-matian mengejar cumlaude jika kerja keras tak ada artinya di mata orang lain. Bahkan dimata diri sendiri. Lala, teman kuliah, yang IPK nya hanya dua koma sudah jadi PNS di SMA ku. Aku ingin seperti dia tapi tak mampu. Tidak ada uang seratus juta untuk menebus pekerjaan itu. Andai ada uang pun, aku takkan melakukan kehinaan itu Ini masalah prinsip dan harga diri. Aku lelah. Rasanya hidup tapi seperti mati. Entah sampai dibatas mana prinsip ini aku perjuangkan.

Getaran di saku baju membangunkan pikiran yang tengah terberai. 'Selamat' kata pertama yang terlihat oleh mata saat membuka pesan singkat dari Cindy, sahabatku. Laksana secercah cahaya dalam gua yang gelap gulita. Aku menyebutnya harapan.                                              Rangkaian kata sederhana itu tak bisa lagi disebut sederhana. Aku tak tahu ini maya ataukah nyata. Tapi ini harapan.

Kubuka website resmi pengumuman CPNS untuk sekedar meyakinkan. Peluh yang menetes membutakan ingatan sesaat. Nama diri yang sudah disandang 25 tahun pun tak kuasa aku ketikkan. Huruf demi huruf, angka demi angka aku rangkai dengan tergopoh.

"Yeah, akhirnya, bisa log in juga!" Teriakku girang. Sesaat sebelum raga ini kembali mematung. Tak sanggup mata ini menatap lagi kegagalan.Hanya dalam jeda sedetik, kubuka dan kututup mataku bergantian. Aku belum siap. Tapi aku harus siap.

 Belum sepenuhnya kelopak terbuka, kalimat itu sudah jelas terlihat, "Selamat Anda lolos seleksi CPNS". Ini bukan mimpi. Bukan.

“Aku lolos! Aku lolos !”

Belum usai euforia ini terlampiaskan, tepukkan tangan di bahu kiri sejenak menghentikan.

"Ma..maaf, Kak. Kakak kenapa?"

"Ya ampun, Vino. Aku kira hantu. Kamu ini sudah membuatku kaget setengah mati.Aku cubit nih, aku cubit pipi kamu. Heeh, biar tahu rasa, dasar gajah bengkak ! Hahahaha.”

“Maaf.”

“Eh, kamu kenapa? Mata kamu sembab. Tatapan kamu kosong. Lekukan senyum kamu terlampau dipaksakan. Hidung kamu kembang kempis. Mmm, habis nangis ya?  Patah hati lagi ya? Hahaha, gajah bengkak menghayal punya pacar Barbie. Ya begini nih jadinya. Duh, kasihan sekali kau ini. Padahal aku punya kabar gembira. Sangat gembira. "

“Ayah, Kak.”

“Ayah? Ayah kenapa?”

“Ayah…”
“Ayah kenapa?”

“Anu, Ayah…”

“Ayah kenapa? Dia di kamar baik-baik saja kan? Jawab, Gajah !”

" Ayah terkena gagal ginjal, Kak."

Kalimat terakhir itu menghilangkan arti rasa bahagia. Bahkan rasa yang aku rasakan sedetik yang lalu.

"Ayah tidak mungkin terkena gagal ginjal. Tidak. Ayah baik-baik saja. Dokternya salah. Dokternya pasti dokter bodoh yang dulunya membeli bangku kuliah dengan uang. Bukan otak dan kerja keras. Jadi, kau jangan percaya sama dia. Gelar bisa menipu."

"Kakak salah. Dokternya itu keponakan Pak RT yang kuliah dengan uang beasiswa. Dia anak pintar. Kita harus terima kenyataan itu. Ini takdir. Takdir yang mungkin sebentar lagi memisahkan kepala kita dengan pundak ayah. Entahlah,kalau ayah pergi, bahu siapa lagi yang bisa menenangkan.”

“Kamu ini ngomong apa? Dia akan baik-baik saja. Ayah pasti sembuh. Dia akan bertahan sampai kita benar-benar sukses.”

“ Tapi, penyakit ayah sudah kronis. Andai ginjal ayah masih dua, mungkin    keadaannya takkan seburuk ini."

"Maksud kamu? Ginjal ayah tinggal satu, kamu  bercanda? Ini nggak lucu. Aku lagi nggak mau bercanda. Serius. "

"Ini serius. Mungkin ini menyakitkan, tapi aku harus jujur. Ya, sebenarnya, Ayah sudah menjual satu ginjalnya demi kakak."

"Demi aku?"

"Ya, untuk membayar suap agar kakak lolos seleksi CPNS. "

Kalimat itu benar-benar mengoyakku. Bukan lagi meluruhkan makna kebahagiaan sedetik yang lalu. Tapi seumur hidup. Ini hidup. Tapi terkadang tak selamanya hidup bisa kita sebut hidup. Aku mati.